Islamiq.sg

Memahami Tabarruk (Mengambil Barakah)

Labels:

Tabarruk adalah amalan mencari barakah melalui perantaraan sesuatu. Barakah sendiri artinya tetapnya kebaikan pada sesuatu [Al-Mufradaat, hal. 44].

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam amalan tabarruk ini, yaitu :

1.     Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah ta’ala. 



Oleh karena itu, tidaklah kita memohon barakah kecuali pada Allah ta’ala saja. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :
قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 
“Katakanlah : "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. Ali-‘Imran : 26].
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا نَعُدُّ الْآيَاتِ بَرَكَةً وَأَنْتُمْ تَعُدُّونَهَا تَخْوِيفًا، كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَقَلَّ الْمَاءُ، فَقَالَ: " اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ فَجَاءُوا بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ قَلِيلٌ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ " 
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairiy : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah, ia berkata : “Kami dulu menganggap ayat-ayat Allah sebagai satu barakah, sedangkan kalian menganggapnya sebagai satu hal yang menakutkan. Dulu kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, dan waktu itu kami mengalami defisit air. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Carilah kelebihan air’. Para shahabat datang dengan sebuah bejana yang berisi sedikit air. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu bersabda : ‘Kemarilah menuju air yang suci dan diberkahi. Dan barakah itu berasal dari Allah’. Sungguh, aku melihat air memancar di antara jari-jari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan sungguh kami mendengar tasbihnya makanan ketika dimakan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3579].
Dikarenakan barakah hanyalah berasal dari Allah ta’ala, maka memohon barakah kepada selain-Nya adalah perbuatan syirik, dan itu termasuk dosa besar.


2.     Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang disyari’atkan 

Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang disyari’atkan diperbolehkan digunakan mencari barakah, tidak lain itu semua hanyalah sarana saja. Ia bukanlah yang memberikan barakah. Sama seperti obat. Ia hanyalah merupakan sarana penyembuh saja, dan yang menyembuhkan pada hakikatnya adalah Allah ta’ala. Hal itu sebagaiamana diterangkan dalam salah satu doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk orang sakit.
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ الْأَعْمَشِ، عَنْ مُسْلِمٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ بَعْضَهُمْ يَمْسَحُهُ بِيَمِينِهِ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا " 
Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Sufyaan, dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruuq, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa meminta perlindungan untuk sebagian keluarganya, lalu mengusapkan tangan kanan beliau dan berdoa : ‘Hilangkanlah kesengsaraan, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah karena Engkaulah Dzat yang bisa menyembuhkan. Tidak ada penyembuh melainkan Engkau. Suatu penyembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5750].

Adapun beberapa hadits seperti :
إِنَّ فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا السَّامَ 
“Sesungguhnya dalam habbatus-saudaa’ itu terdapat penyembuh bagi seluruh penyakit, kecuali as-saam (kematian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5688, Muslim no. 2215,  At-Tirmidziy no. 2041, Ibnu Maajah no. 3447, dan yang lainnya]

Maka harus dipahami bahwa al-habbatus-saudaa’ hanyalah sarana saja. Ia dapat menyembuhkan sesuai dengan izin Allah. Ketika berobat dengan al-habbatus-saudaa’, maka kita pun harus memohon kesembuhan pada Allah.

Begitu pula,…. ketika ada penisbatan barakah pada seseorang, maka ia bukanlah sebagai hakekat pemberi barakah. Hal ini sebagaimana perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang Juwairiyyah radliyallaahu ‘anhaa :
فَمَا رَأَيْنَا امْرَأَةً كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً عَلَى قَوْمِهَا مِنْهَا 
“Tidaklah kami pernah melihat melihat seorang wanita yang lebih besar barakahnya bagi kaumnya daripada Juwairiyyah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3931, Ahmad 6/277, Ibnu Hibbaan no. 4054-4055, dan yang lainnya; hasan].

Juwairiyyah bukanlah orang yang memberi barakah, melainkan hanyalah sebagai sebab keberadaan barakah saja. Hal itu diketahui ketika para shahabat mengetahui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyyah, maka mereka saling berlomba dalam memerdekakan tawanan wanita dari kaumnya, yaitu Bani Musthaliq. Dengan pernikahan tersebut, Bani Musthaliq menjadi besan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak kurang seratus orang dari kaumnya dimerdekakan oleh para shahabat. Hal itu sebagaimana ada dalam kelanjutan riwayat :
أُعْتِقَ فِي سَبَبِهَا مِائَةُ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ بَنِي الْمُصْطَلِقِ  
“Telah dibebaskan seratus orang tawanan keluarga Bani Al-Mushthaliq dengan sebab dirinya”.

Ini adalah barakah yang sangat besar dari Allah ta’ala yang penyebabnya tidak lain adalah Juwairiyyah bin Al-Harits radliyallaahu ‘anhaa.


3.     Mencari barakah pada sesuatu adalah dengan sesuatu yang padanya memang terdapat barakah, dan ini menuntut penunjukkan pada nash/dalil, bukan pada perasaan dan prasangka semata.

Akal sehat tentu tidak akan menerima jika seseorang mencari keberkahan dari seekor kerbau kiyai Slamet yang dilepas setiap tanggal 1 Suro sebagaimana banyak diperbuat oleh masyarakat Solo – semoga Allah ta’ala memberikan petunjuk kepada kita dan mereka.

Selain itu, seseorang yang mencari barakah pada sesuatu yang pada asalnya (sesuai nash/dalil) mempunyai barakah, maka harus dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syari’at. Misalnya, dalam hadits dikatakan bahwa makan sahur itu terdapat barakah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً 
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1923, Muslim no. 1095, At-Tirmidziy no. 708, An-Nasaa’iy no. 2146, dan yang lainnya].

Barakah makan sahur hanya akan kita dapatkan bila kita memakan makanan yang baik lagi halal. Sebaliknya, barakah tidak akan kita dapatkan jika kita makan atau minum yang diharamkan oleh Allah ta’ala (misalnya : makan daging babi, minum khamr, dan merokok).

Sumber: "Tabarruk dengan Mengusap dan Mencium Kubur Nabi" oleh Ustadz Abul Jauzaa' hafidzahullah (http://abul-jauzaa.blogspot.com)

0 comments:

Search IslamIQ.sg

Visitors:

Facebook

YouTube

Subscribe By Email


Facebook

YouTube

Subscribe By Email

www.fawaaid.sg