Islamiq.sg

Doa Termasuk Ibadah yang Paling Agung


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ 
"Doa itulah ibadah", kemudian beliau membaca (firman Allah), "Dan Rabb kalian berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan bagi kamu." 
(Ahmad #18352, Abu Dawud #1481, At-Tirmidzi #2969, Ibnu Maajah #3828, dan isnadnya dinyatakan jayyid (baik) oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 1/49)



1) Syarah Imam Ibnu Hajar menjelaskan keagungan ibadah doa

"Jumhur (majoriti ulama) menjawab bahawasanya doa termasuk ibadah yang paling agung, dan hadits ini seperti hadits yang lain
الْحَجُّ عَرَفَةُ 
"Haji adalah (wuquf di padang) Arafah"

Maksudnya (wuquf di Arafah) merupakan dominannya haji dan rukun haji yang paling besar. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Anas secara marfuu' :

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ 
"Doa adalah inti ibadah."

Telah banyak hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mendorong untuk berdoa, seperti hadits Abu Hurairah yang marfuu':

لَيْسَ شَيْئٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ 
"Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa."

Diriwayatkan oleh At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbaan."

(Rujuk: Fathul Baari, 11/94)


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah bersabda:

أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ؛ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ 
"Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya tatkala ia sujud, maka perbanyaklah doa," 
(Muslim #215)


2) Syarah Imam An-Nawawi menjelaskan kesesuaian posisi sujud untuk berdoa

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ وَهُوَ مُوَافِقٌ لِقَوْلِ اللهِ تعالى وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ وَلِأَنَّ السُّجُوْدَ غَايَةُ التَّوَاضُعِ وَالْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تعالى 
"'Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya tatkala ia sujud' dan ini sesuai dengan firman Allah "Sujudlah dan mendekatlah", dan kerana sujud merupakan puncak tawadhu' dan peribadatan kepada Allah"  
(Al-Minhaaj 4/206)


3) Penjelasan Al-Hulaimi, seorang ulama Syafi'iyyah (w.403H)

"Dan doa secara umum merupakan bentuk ketundukkan dan perendahan, kerana setiap orang yang meminta dan berdoa maka ia telah menampakkan hajatnya (kebutuhannya) dan mengakui kerendahan dan kebutuhan kepada dzat yang ia berdoa kepadanya dan memintanya. Maka hal itu pada hamba seperti ibadah-ibadah yang dilakukan untuk bertaqarrub kepada Allah. Oleh kerananya Allah berfirman (Berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaKu akan masuk dalam neraka jahannam dalam keadaan terhina). Maka Allah menjelaskan bahawasanya doa adalah ibadah."  
(Al-Minhaaj fai syu'ab Al-Iimaan 1/517)

Al-Hulaimi juga berkata :

"Hendaknya pengharapan hanyalah untuk Allah kerana Allah-lah Yang Maha Esa dalam pemilikan dan pembalasan. Tidak ada seorangpun selain Allah yang menguasai kemanfaatan dan kemudharatan. Maka barangsiapa yang berharap kepada dzat yang tidak memiliki apa yang ia tidak miliki, maka ia termasuk orang-orang jahil. Dan jika ia menggantungkan pengharapannya kepada Allah maka hendaknya ia meminta kepada Allah apa yang ia butuhkan baik perkara kecil mahupun besar, kerana semuanya di tangan Allah tidak ada yang boleh memenuhi kebutuhan selain Allah. Dan meminta kepada Allah adalah dengan berdoa."  
(Al-Minhaaj fi Syu'ab Al-Iimaan 1/520)

4) Penjelasan ahli tafsir, Imam ar-Razi, seorang ulama Syafi'iyyah (w.606H)

"Dan majoriti orang berakal berkata: Sesungguhnya doa merupakan kedudukan peribadatan yang paling penting, dan hal ini ditunjukkan dari sisi (yang banyak) dari dalil naql (yakni ayat-ayat al-Qur'an mahupun hadits) mahupun akal. Adapun dalil naql, maka banyak." 
(Mafaatihul Ghaib 5/105)

Setelah menyebutkan dalil yang banyak, kemudian Imam ar-Razi berkata :

"Allah berfirman "Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku dekat", dan Allah tidak berkata "Katakanlah aku dekat", maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa dari banyak sisi. 
Yang pertama, seakan-akan Allah berkata : HambaKu engkau hanyalah membutuhkan perantara di selain waktu berdoa adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau." 
(Mafaatihul Ghaiib 5/106)


Rujukan: "Berdoa Kepada Selain Allah Tidak Mengapa Selama Tidak Syirik Dalam Tauhid Rububiyah" oleh Ustadz Firanda Andirja di firanda.com

*Ustadz Firanda Andirja berkelulusan Sarjana Muda (Bachelor's Degree) Fakulti Hadits Universiti Islam Madinah dan Sarjana (Masters Degree) Fakulti Dakwah Jurusan Aqidah Universiti Islam Madinah. Beliau juga menyampaikan kuliah di Masjidil Haram, Saudi Arabia.

0 comments:

Search IslamIQ.sg

Visitors:

Facebook

YouTube

Subscribe By Email


Facebook

YouTube

Subscribe By Email

www.fawaaid.sg