Islamiq.sg

Melestarikan Tapak-Tapak Sejarah Dalam Timbangan Islam

Labels:

Pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin al-Khaththâb, muncul gejala pada sebahagian kaum Muslimin yang bergantung kepada barang-barang peninggalan dan tapak-tapak sejarah yang tidak mempunyai dalil keutamaannya di dalam nas-nas wahyu. Fenomena ini dapat mempengaruhi dalam hal beragama. Maka Khalifah 'Umar bin al-Khaththâb dan para sahabat melarang dan memperingatkan manusia dari perbuatan tersebut.

Ibnu Wadhdhâh meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ma'rur bin Suwaid, ia bercerita:
Kami pergi untuk mengerjakan haji bersama 'Umar bin al-Khaththâb. Di tengah perjalanan, sebuah masjid berada di depan kami. Lantas, orang-orang bergegas untuk mengerjakan shalat di dalamnya. ‘Umar pun bertanya,“Kenapa mereka itu?” 
Orang-orang menjawab, “Itu adalah masjid. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat di masjid itu,” maka 'Umar berkata: 
“Wahai manusia. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa, lantaran mereka melakukan perbuatan seperti ini, sampai akhirnya nanti mendirikan masjid baru di tempat tersebut. Siapa sahaja yang menjumpai shalat (wajib), maka shalatlah di situ. Kalau tidak, berlalulah saja.” [1]



Ibnu Wadhdhâh juga meriwayatkan:
سمعت عيسى بن يونس يقول : أمر عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه بقطع الشجرة التي بويع تحتها النبي صلى الله عليه وسلم فقطعها لأن الناس كانوا يذهبون فيصلون تحتها ، فخاف عليهم الفتنة 
“Aku mendengar Isa bin Yunus mengatakan , “'Umar bin al-Khaththâb radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar menebang pohon yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima bai'at (Bai’atur ridhwan) kesetiaan di bawahnya. Ia menebangnya kerana banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khuatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) terhadap mereka.”. [2]

Tiada Perintah Untuk Melestarikan Tapak-Tapak Sejarah Islam

Dalam masalah ini sangatlah jelas, bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat tidak terlalu memikirkan tapak-tapak sejarah. Begitu pula beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah merencanakan dengan niat secara khusus melakukan safar (perjalanan) ke tempat-tempat tersebut. Belum ditemukan ada riwayat yang menunjukkan diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan pendakian ke bukit-bukit berbatuan untuk mengunjungi Gua Hira, Gua Tsaur, Badr, atau tempat kelahiran beliau pada pasca hijrahnya [3].

Kalau ada yang menyatakan telah terjadi Ijma’ di kalangan sahabat mengenai disyariatkannya melestarikan tempat-tempat peninggalan sejarah, seperti rumah tempat kelahiran Nabi, Bi`ru (sumur) 'Arîs, maka hal itu tidak boleh dibuktikan, walaupun hanya dengan satu pernyataan seorang sahabat [4]. Para sahabat dan orang-orang yang hidup pada qurûn mufadhdhalah (masa yang utama, yaitu generasi sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in) tidak pernah melakukannya, kerana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah men-syari'atkannya.

Demikian pula halnya dengan tempat-tempat yang dahulu pernah dijadikan sebagai tempat shalat atau pernah disinggahi oleh Rasulullah, maka sesungguhnya tidak boleh diyakini memiliki keberkahan dan keutamaan kecuali jika syari'at telah menetapkannya - misalnya Masjidil-Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil-Aqsha. Bahwasanya shalat di tiga masjid tersebut mendapatkan keutamaan, atau tempat-tempat lainnya yang telah disebutkan oleh nas-nas wahyu.

___________________________

[1] Diriwayatkan oleh 'Abdur-Razzâq dalam Mushannaf, 2/118-119. Abu Bakr bin Abi Syaibah dalam Mushannaf, 2/376-377 dengan sanad shahîh.

[2] Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsihâm, 1/346

[3] Bayân bid-Dalîl li Mâ fî Nashîhatir Râfi'i wa Muqaddimati al-Bûthi minal-Kadzibil-Wâdhihi wat- Tadhlîl. Himpunan makalah dalam kitab al-Bayân li Ba'dhil-Akhthâ` al-Kuttâb, Syaikh Dr. Shalih al- Fauzân, hlm. 109.

[4] Ar-Raddu 'alar-Rifâ'i wal-Bûthi fî Kadzibihima 'ala Ahlis-Sunnati wa Da'watuhuma ilal-Bida'i wadh- Dhalâl. Himpunan makalah dari Kutub wa Rasail 'Abdul-Muhsin al-'Abbâd, Syaikh 'Abdul-Muhsin, hlm. 511.

[ Rujukan: "Pelestarian Situs Sejarah Dalam Timbangan Islam" oleh Ustadz Abu Minhâl di almanhaj.or.id ]
0 comments:

Search IslamIQ.sg

Visitors:

Facebook

YouTube

Subscribe By Email


Facebook

YouTube

Subscribe By Email

www.fawaaid.sg