Islamiq.sg

ADAB002: Nasihat Dari Syaikh Rabi' al-Madhkali

Bismillah wal-hamdulillah wa-salatu wa-salam 'ala Rasulillah, amma ba'd.

Berikut ini ialah pengalaman, pelajaran dan nasihat dari Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madhkali hafidzhahullah sewaktu beliau berdakwah di Sudan.

Apa yang beliau sampaikan amat tepat sekali dengan pengalaman kami sendiri baru-baru ini dalam usaha bermuzakarah dengan barisan asatizah Tradisi Halaqah yang akhirnya telah lari dari medan perbincangan ilmiah.

Semoga ia menjadi sebagai suatu usaha nasihat dari kami juga di IslamIQ.sg kepada para da'ie, thullabul 'ilm dan golongan Muslim yang berpegang teguh kepada manhaj Ahlussunnah wal jamaah.

Semoga Allah memberkati usaha kami yang sedikit ini untuk menyedarkan dan mendekatkan masyarakat Islam kepada ilmu yang sahih.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tatkala aku pergi untuk berdakwah ke Sudan, aku singgah di Bur Sudan, maka aku disambut oleh para pemuda Ansharus Sunnah dan mereka berkata :

“Wahai Syaikh, kami menginginkan anda memperhatikan suatu hal.”

Aku menjawab : “Silakan.”

Mereka berkata : “Berbicaralah apa yang anda kehendaki. Katkanlah - Allah berfirman, Rasulullah bersabda. Celalah sekehendak anda segala kebid’ahan dan kesesatan, baik itu do’a kepada selain Allah, sembelihan, nadzar, istighotsah, dan selainnya. Tetapi janganlah anda mengatakan kelompok Fulan atau Syaikh Fulan ! Janganlah anda menyebutkan tarekat Tijaniyah, Bathiniyah dan puak-puak mereka. Tetapi jelaskanlah aqidah-aqidah yang benar, maka anda akan merasakan sendiri diterimanya Al Haq darimu.”

Aku berkata kepadanya : “Baiklah.”

Dan aku tempuh cara ini lantas aku dapati sambutan yang luar biasa dari manusia. Janganlah anda menduga, wahai penuntut ilmu, bahawasanya termasuk kesempurnaan manhaj yang haq bahawasanya engkau harus mencaci puak-puak mereka dan mencela mereka kerana sesungguhnya Allahu ta’ala berfirman :

………… وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kalian memaki berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah kerana mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am : 108)

Engkau caci tokoh mereka ! Atau engkau katakan : "Dia sesat, atau thoriqoh fulaniyyah".

Maka, mereka -dengan ucapan-ucapan mu ini- akan lari darimu, sehingga engkau berdosa, engkau telah mebuat manusia lari. Dan jika demikian engkau telah menjadi pembuat lari manusia. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala mengutus Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman beliau berpesan :

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا وَ بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَتَطَوَّعَ وَلاَ تَخْتَلِفً

“Hendaknya kalian berdua mempermudah, jangan kalian mempersulit. Hendaknya kalian berdua memberi khabar gembira, jangan kalian membuat orang lari. Dan saling mengertilah kalian berdua dan jangan berselisih.” [Hadits riwayat Al Bukhâri dan Muslim]

Maka, ini termasuk cara-cara yang di dalamnya terdapat kemudahan, khabar gembira, dan tidak membuat mereka lari. Dan demi Allah, tidaklah aku memasuki masjid melainkan aku melihat wajah mereka berseri-seri, dan hampir-hampir aku tidak mampu keluar kerana banyaknya orang yang datang menyambutku, bersalaman denganku serta mengundangku.

Kemudian, puak-puak Shufiyyah melihat bahayanya cara dan metode dakwah ini sehingga mereka berkumpul dan bersekongkol. Mereka rancang perkataan-perkataan untuk membantahku, dan mereka mengundangku untuk berceramah di medan yang besar.

Maka berkumpul-lah kami di medan tersebut. Aku sampaikan ceramah, dan berdirilah seorang puak mereka memberi komentar terhadap ucapanku. Mula-lah dia membolehkan istighotsah kepada selain Allahu ta’ala, membolehkan tawassul, menolak sifat sifat Allahu ta’ala. Dia dukung setiap kebatilannya dengan takwil-takwil yang rosak!

Tatkala dia telah selesai, telah membawakan hadits-hadits lemah dan palsu, dan membawakan perkatan perkataan ahli falsafah, maka aku katakan :

"Wahai jama’ah, kalian telah mendengar ucapanku. Aku berkata : Allah berfirman, Rasulullah bersabda, Ulama’ umat yang mu’tabar berkata, dan orang ini datang dengan hadits palsu, dan aku tidak mendengar darinya al-Qur’an sedikitpun ! Apakah kalian pernah mendengar : Allah berfirman begini tentang bolehnya istighotsah kepada selain Allah??! Tentang bolehnya tawasul??! Apakah kalian pernah mendengarkan ucapan ulama besar seperti Malik dan semisalnya tentangnya??! Kalian tidak pernah mendengarnya! Yang kalian dengar hanyalah hadits-hadits palsu dan lemah, dan perkataan-perkataan orang-orang yang kalian telah mengenalnya sebagai khurafat!"

Maka berdirilah orang tersebut seraya mencaci dan memaki dan aku hanya tertawa, aku tidak mencacinya dan tidak memakinya, aku tidak menambah atas ucapannya :
"Semoga Allahu ta’ala memberkahimu, semoga Allahu ta’ala membalasmu dengan kebaikan."

Kami pun berpisah, dan demi Allah yang tiada sesembahan yang haq kecuali Dia, ketika masuk waktu pagi (pada hari kedua), orang-orang sedang bercerita di masjid-masjid dan pasar-pasar bahawa kelompok sufi telah dikalahkan!

Maka pelajarilah wahai saudara-saudara sekalian metode syar’i ini. Kerana tujuan yang hendak diraih adalah hidayah kepada manusia, dan tujuannya adalah menyampaikan al-haq ke dalam hati manusia.

Wahai saudaraku, hendaknya di dalam rangka berdakwah di jalan Allahu ta’ala engkau gunakan setiap sarana syar’i yang engkau mampu, tidaklah boleh bagi kita menggunakan kaedah "Menghalalkan segala cara" kerana ini adalah sifat-sifat ahli bid’ah yang mereka dengan sebab kaedah ini terjatuh kedalam kedustaan, memutarbalikan ucapan dan fakta serta caci-maki sebagaimana dikatakan oleh al Imam Ali bin Harb al Maushili :
“Setiap ahli hawa selalu berdusta dan tidak peduli dengan kedustaannya”

Ini semua tidak ada pada kita. Kita adalah ahli kejujuran dan ahli haq. Hanya saja kita paparkan cara-cara syar’i yang boleh diterima oleh manusia dan boleh membekas dalam jiwa-jiwa mereka…..

Maka gunakanlah ilmu yang bermanfaat, hujjah yang kuat dan hikmah dalam dakwah kalian. Hendaknya kalian berakhlak dengan setiap akhlak yang indah dan agung, yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kerana semua ini adalah faktor-faktor yang membawa kemenangan dan keberhasilan.

Dan yakinlah bahwa para sahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah menyebarkan Islam dan memasukkan Islam ke dalam hati, melainkan dengan hikmah dan keilmuan mereka. Yang ini lebih banyak dari yang dilakukan oleh pedang-pedang, hanya saja, orang yang masuk ke dalam Islam di bawah pedang kadangkala tidak boleh teguh, dan orang yang masuk Islam dengan jalan ilmu, hujjah dan bukti-bukti dengan izin Allah dan TaufiqNya ta’ala...

Disunting dari blog seorang hamba Allah.
(Sumber asal: Majalah Al Furqon, Tahun 6 edisi 8 Rabi’ul Awwal 1428 H )
0 comments:

Search IslamIQ.sg

Visitors:

Facebook

YouTube

Subscribe By Email


Facebook

YouTube

Subscribe By Email

www.fawaaid.sg