Islamiq.sg

MHJ002: Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama

Labels:
Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama

Apabila para ulama aqidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf, maka yang mereka maksud adalah salah satu di antara 3 kemungkinan berikut :

Pertama, para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, shahabat dan murid-murid mereka (tabi’in).

Ketiga, shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid’ah (lihat Al Wajiz, hal. 21)

Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun secara terminologi kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat radhiallahu'anhum. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini kerana sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.” (Limadza, hal. 30)

Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (Hadith Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan dakwah sebagaimana mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj/metode salaf, atau biasa disebut dengan istilah salafi, artinya pengikut Salaf.

Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah pembatasan yang keliru. Kerana pada masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian aqidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman salafush shalih.

Oleh karena itulah siapapun orangnya asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka, maka bukanlah termasuk golongan mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Wajiz, hal. 22, Limadza. hal. 33 dan Syarah Aqidah Ahlus Sunnah, hal. 8)


Contoh-Contoh Penggunaan Kata Salaf

1) Kata salaf sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya.

Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata : Para salaf menyukai kuda jantan. Kerana ia lebih lincah dan lebih berani.”

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.”

Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum. Kerana Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in (murid sahabat), sehingga orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.”

2) Demikian pula perkataan Imam Bukhari, “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya : Aku menemui sebagian para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang)dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.”

Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiallahu‘anhum, kerana Az Zuhri adalah seorang tabi’in.” (lihat Limadza, hal. 31-32)

3) Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadith dari jalan Muhammad bin ‘Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan : Aku mendengar ‘Ali bin Syaqiq mengatakan : Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak, “Tinggalkanlah hadith (yang dibawakan) ‘Amr bin Tsabit. Kerana dia mencaci kaum salaf.”

Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu'anhum.” (Limadza, hal. 32)

4) Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama aqidah di dalam kitab-kitab mereka.

Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah bahwa Imam Auza’i pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum itu (salaf) bersikap. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Kerana sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup.”

Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim.” (lihat Limadza, hal. 32) Hal ini kerana Al Auza’i adalah seorang tabi’i.


Rujukan: Mari Mengenal Manhaj Salaf
Disusun oleh: Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary, Yogyakarta
0 comments:

Search IslamIQ.sg

Visitors:

Facebook

YouTube

Subscribe By Email


Facebook

YouTube

Subscribe By Email

www.fawaaid.sg