Islamiq.sg

Greeting Non-Muslim Celebrations


Question:

What is the ruling regarding wishing “Merry Christmas” to them [the Christians]? What about giving them an answer when they wish us with the same? Is it permissible to go to the places of festive occasions or parties which celebrate this occasion? Is someone considered to have sinned when he does something related to the above without intending to do so [his real reason] yet he did it only to show respect to his friends, or out of shame, or other reasons? Is it possible to do so in these circumstances?




Answer:

Praise be to Allaah.

Greeting the kuffaar on Christmas and other religious holidays of theirs is haraam, by consensus, as Ibn al-Qayyim, may Allaah have mercy on him, said in Ahkaam Ahl al-Dhimmah:
"Congratulating the kuffaar on the rituals that belong only to them is haraam by consensus, as is congratulating them on their festivals and fasts by saying ‘A happy festival to you’ or ‘May you enjoy your festival,’ and so on. If the one who says this has been saved from kufr, it is still forbidden. It is like congratulating someone for prostrating to the cross, or even worse than that. It is as great a sin as congratulating someone for drinking wine, or murdering someone, or having illicit sexual relations, and so on. Many of those who have no respect for their religion fall into this error; they do not realize the offensiveness of their actions. Whoever congratulates a person for his disobedience or bid’ah or kufr exposes himself to the wrath and anger of Allaah."


Congratulating the kuffaar on their religious festivals is haraam to the extent described by Ibn al-Qayyim because it implies that one accepts or approves of their rituals of kufr, even if one would not accept those things for oneself. But the Muslim should not accept the rituals of kufr or congratulate anyone else for them, because Allaah does not accept any of that at all, as He says (interpretation of the meaning):

"If you disbelieve, then verily, Allaah is not in need of you, He likes not disbelief for His slaves. And if you are grateful (by being believers), He is pleased therewith for you..." [al-Zumar 39:7]
"...This day, I have perfected your religion for you, completed My favour upon you, and have chosen for you Islaam as your religion..." [al-Maa’idah 5:3]

So congratulating them is forbidden, whether they are one’s colleagues at work or otherwise.

If they greet us on the occasion of their festivals, we should not respond, because these are not our festivals, and because they are not festivals which are acceptable to Allaah. These festivals are innovations in their religions, and even those which may have been prescribed formerly have been abrogated by the religion of Islaam, with which Allaah sent Muhammad (peace and blessings of Allaah be upon him) to the whole of mankind. Allaah says (interpretation of the meaning):
"Whoever seeks a religion other than Islaam, it will never be accepted of him, and in the Hereafter he will be one of the losers." [Aal ‘Imraan 3:85]

It is haraam for a Muslim to accept invitations on such occasions, because this is worse than congratulating them as it implies taking part in their celebrations.

Similarly, Muslims are forbidden to imitate the kuffaar by having parties on such occasions, or exchanging gifts, or giving out sweets or food, or taking time off work, etc., because the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said:
"Whoever imitates a people is one of them."

Shaykh al-Islaam Ibn Taymiyah said in his book Iqtidaa’ al-siraat al-mustaqeem mukhaalifat ashaab al-jaheem:
"Imitating them in some of their festivals implies that one is pleased with their false beliefs and practices, and gives them the hope that they may have the opportunity to humiliate and mislead the weak."

Whoever does anything of this sort is a sinner, whether he does it out of politeness or to be friendly, or because he is too shy to refuse, or for whatever other reason, because this is hypocrisy in Islaam, and because it makes the kuffaar feel proud of their religion.

Allaah is the One Whom we ask to make the Muslims feel proud of their religion, to help them adhere steadfastly to it, and to make them victorious over their enemies, for He is the Strong and Omnipotent.

Source: Majmoo’ah Fataawa wa Rasaa’il al-Shaykh Ibn ‘Uthaymeen, 3/369
Read On 3 comments

Pengertian Ulama


السؤال: فضيلة الشيخ! حصل لبس وخلط عند بعض الشباب في تحديد من هو العالم، فنتج عن ذلك أن وضع من ليس بعالم مثل زاهد أو عابد أو واعظ في مصافِّ العلماء، فجعلوه مصدراً للتلقي والتوجيه والتعليم وما إلى ذلك، فنريد من فضيلتكم تحديد من هو العالم وصفته وجزاكم الله خيراً؟

Pertanyaan:

Sebagian pemuda mengalami kerancuan dan kebingungan tentang definisi ulama. Akibatnya mereka posisikan orang yang bukan ulama semisal orang yang zuhud, rajin ibadah dan pintar ceramah dalam deretan para ulama tempat menimba ilmu dan pengarahan. Kami ingin mendapatkan penjelasan tentang definisi ulama dan ciri-cirinya?

الجواب: العالم عرفه ابن القيم رحمه الله في تعريف جامع فقال:
العلم معرفة الهدى بدليله ما ذاك والتقليد يستويان
فالعالم هو الذي يعرف العلم الحق بالدليل، والعلم قد يكون علماً واسعاً يعرف الإنسان غالب المسائل، وما لا يعرفه منها فعنده قدرة على معرفتها،

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin:

Pengertian ulama telah didefinisikan oleh Ibnul Qayyim dalam sebuah definisi yang lengkap. Ibnul Qayyim mengatakan ilmu adalah mengetahui kebenaran berdasarkan dalil. Tidaklah ilmu itu sama dengan taklid.

Jadi ulama adalah orang yang mengetahui pendapat yang benar berdasarkan dalil. Ilmu yang dimiliki seseorang itu beda-beda. Ada orang yang ilmunya luas sehingga dia mengetahui hukum majoriti permasalahan agama. Jika ada permasalahan yang tidak dia ketahui hukumnya orang tersebut memiliki kemampuan untuk mengetahui hukumnya.



وقد يكون الإنسان عالماً في مسألة واحدة، يأخذ الكتب ويبحث فيها وينظر أدلة العلماء، فيصير عالماً بها فقط، ومن هذا ما جاء به الحديث (بلغوا عني ولو آية

Boleh jadi seorang itu hanya mengetahui satu permasalahan agama. Dia baca beberapa buku lalu mentelaah satu permasalahan yang ada di sana secara mendalam dengan mentelaah dalil-dalil yang dibawakan para ulama tentang masalah tersebut secara mendalam. Jadilah orang tersebut mengusai suatu permasalahan. Orang semisal inilah yang dimaksudkan oleh Nabi, “Sampaikan dariku meski hanya satu ayat” [HR Bukhari].

لكن غالب الوعاظ يأتون بأدلة لا زمام لها، أدلة ضعيفة يريدون بذلك تقوية الناس في الأمور المطلوبة، وتحذيرهم من الأمور المرهوبة، ويتساهلون في باب الترغيب والترهيب، وهؤلاء فيهم نفع لا شك، لكن ليسوا أهلاً لأن يتلقى عنهم العلم الشرعي، بحيث يعتمد على ما يقولون، إلا إذا قالوا: نحن نقول كذا لقوله تعالى كذا وكذا، ونقول كذا لقول النبي صلى الله عليه وسلم كذا، ويأتون بحديث صحيح

Majoriti tukang ceramah membawakan dalil yang tidak jelas, dalil yang sanadnya lemah kerana mereka ingin agar masyarakat bersemangat melakukan kebaikan dan mengingatkan mereka dari bahaya maksiat. Mereka longgar dalam penggunaan hadits yang lemah dalam rangka memberi motivasi atau menakut-nakuti. Orang semisal ini tidaklah diragukan bahwa beliau itu memberi banyak manfaat namun tidak selayaknya menimba ilmu agama dari mereka dalam pengertian perkataannya dijadikan sebagai pegangan kecuali jika mereka membawakan dalil yang jelas berupa firman Allah dan sabda Nabi yang bersumber dari hadits yang shahih.

فمعلوم أن من أتى بعلم وحجة فهو مقبول، لكن ابن مسعود رضي الله عنه حذر من القرَّاء بلا فقه.

Telah dimaklumi bersama bahwa siapa saja yang menyampaikan ilmu dan argument yang kuat maka pendapatnya diterima. Namun Ibnu Mas'ud mengingatkan kita akan bahaya para penghafal al Qur'an yang tidak memiliki fiqh.

والمراد بالفقه أن يكون عند الإنسان حكمة فيضع الأشياء مواضعها، وأن يكون عند الإنسان دليل يكون حجة له عند الله عز وجل وأظن أنه لا يخفى على عامة الناس العالم من طالب العلم.

Yang beliau maksudkan dengan fiqh adalah memiliki kecerdasan untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan mengetahui dalil yang bisa dijadikan sebagai hujjah di hadapan Allah.

Aku berprasangka bahawa orang-orang awam boleh membezakan antara ulama dengan penuntut ilmu.

Sumber: "Pengertian Ulama" oleh Ustadz Aris Munandar
Rujukan Audio: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=111536#p36334
 
Read On 0 comments

Tatacara Sholat Gerhana


Shalat kusuf (gerhana matahari) dan khusuf (gerhana bulan) merupakan sunnat mua’kkad. Disunatkan bagi orang muslim untuk mengerjakannya. Hal itu didasarkan pada dalil berikut ini.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia bercerita bahwa pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi gerhana matahari, lalu beliau mengerjakan shalat bersama orang-orang.
- Maka beliau berdiri dan memanjangkan waktu berdiri, lalu beliau ruku dan memanjangkannya.
- Kemudian beliau berdiri dan memanjangkannya (berdiri yang kedua ini tidak selama berdiri pertama).
- Setelah itu, beliau ruku dan memanjangkan ruku, ruku-nya ini lebih pendek dari ruku pertama.
- Selanjutnya, beliau sujud dan memanjangkannya.
- Kemudian beliau mengerjakan pada rakaat kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat pertama.
- Setelah itu, beliau berbalik sedang matahari telah muncul.
- Lalu beliau memberikan khutbah kepada orang-orang. Beliau memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Allah. 

Dan setelah itu, beliau bersabda.
Artinya : “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. 
Setelah itu, beliau bersabda : “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hambaNya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

- Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani [1]

Dapat saya katakan, sisi dalil yang dikandung hadits di atas, bahwa perintah mengerjakan shalat itu berbarengan dengan perintah untuk bertakbir, berdo’a, dan bersedekah. Dan tidak ada seorangpun yang mewajibkan bersedekah, bertakbir dan berdo’a pada saat terjadi gerhana. Dengan demikian, menurut kesepakatan ijma’ bahwa perintah tersebut bersifat sunnat. Demikian juga dengan perintah untuk mengerjakan shalat yang berbarengan dengannya. [2] .Wallaahul Muwaffiq.


SIFAT DAN JUMLAH RAKAA’AT SHALAT KUSUF (GERHANA MATAHARI)

Pertama : Tidak Ada Adzan Dan Iqamah Untuk Shalat Kusuf

Para ulama telah sepakat untuk tidak mengumandangkan adzan dan iqomah bagi shalat kusuf [3]. Dan yang disunnahkan [4] menyerukan untuknya “Ash-Shalaatu Jaami’ah”.

Yang menjadi dalih bagi hal tersebut adalah apa yang ditegaskan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahuma, dia bercerita :
“Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diserukan : Innash Shalaata Jaami’ah.” 
- Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani.[5]


Kedua : Jumlah Raka’at Shalat Kusuf

Shalat gerhana itu dikerjakan dua rakaat dengan dua ruku’ pada setiap rakaat. Yang menjadi dalil hal tersebut adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang telah kami sampaikan sebelumnya. Dan juga hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia bercerita :

“Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliaupun berdiri dengan waktu yang panjang sepanjang bacaan surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku dengan ruku yang cukup panjang, lalu beliau bangkit dan berdiri dalam waktu yang lama juga (tetapi lebih pendek dari berdiri pertama). Kemudian beliau ruku dengan ruku yang lama (ruku yang lebih pendek dari ruku pertama). Setelah itu, beliau sujud. Kemudian beliau berdiri dalam waktu yang lama (tetapi lebih pendek dari berdiri pertama). Selanjutnya, beliau ruku dengan ruku yang lama (ruku yang lebih pendek dari ruku pertama). Setelah itu, beliau sujud. Kemudian beliau berbalik, sedang matahari telah muncul.  
Maka beliau bersabda, artinya : “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut, maka berdzikirlah kepada Allah.” 
Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kami melihatmu mengambil sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihatmu mundur ke belakang”.  
Beliau bersabda, artinya : “Sesungguhnya aku melihat Surga, maka aku berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Seandainya aku berhasil meraihnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku juga melihat Neraka, aku sama sekali tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menyeramkan dari pemandangan hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita”. 
Para sahabat bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?”  
Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka”.  
Ada yang bertanya “Apakah mereka kufur kepada Allah?”.  
Beliau menjawab, artinya : “Mereka kufur kepada keluarganya (suaminya), dan kufur terhadap kebaikan (tidak berterima kasih). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu dia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, niscaya dia akan mengatakan : “Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu.” 

- Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani [6]


Kesimpulan

Di dalam hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha dan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma diatas terdapat dalil yang menunjukkan disunnatkannya khutbah dalam shalat kusuf, yang disampaikan setelah shalat.[7]


Ketiga : Menjaharkan Bacaan Dalam Shalat Kusuf

Bacaan dalam shalat kusuf dibaca dengan jahr (suara keras), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan bacaannya dalam shalat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliau pun bertakbir dan ruku. Dan jika dia bangkit ruku, maka beliau berucap : “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana lakal hamdu”. Kemudian beliau kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat ruku dalam dua rakaat dan empat sujud.” 
- Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani [8]

At-Tirmidizi rahimahullah mengatakan :
“Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan didalam shalat kusuf. Sebagian ulama berpendapat supaya dibaca pelan (sirr, dengan suara tidak terdengar) dalam shalat kusuf pada waktu siang hari. Sebagian lainnya berpendapat supaya menjaharkan bacaan dalam shalat kusuf pada siang hari. Sebagaimana halnya dengan shalat ‘Idul Fithi dan Idul Adha serta shalat Jum’at. Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Malik, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat menjaharkan bacaan pada shalat tersebut. Asy-Syafi’i mengatakan : Bacaan tidak dibaca Jahr dalam shalat sunnat.” [9]

Dapat saya katakan bahwa apa yang sesuai dengan hadits, itulah yang dijadikan sandaran [10]. Wabillahi Taufiq


Keempat : Shalat Kusuf Dikerjakan Berjamah Di Masjid.

Yang sunnat dikerjakan pada shalat kusuf adalah mengerjakannya di masjid. Hal tersebut didasarkan pada beberapa hal berikut ini.

1) Disyariatkannya seruan di dalam shalat kusuf, yaitu dengan “Ash-Shalaatu Jaami’ah”

2) Apa yang disebutkan bahwa sebagian sahabat mengerjakan shalat kusuf ini dengan berjama’ah di masjid.[11]

3) Isyarat yang diberikan oleh kedua riwayat di atas dari hadits Aisyah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat gerhana itu secara berjama’ah di masjid. Bahkan dalam sebuah riwayat hadits Aisyah di atas, dia bercerita, “Pada masa hidup Rasulullah pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau pergi ke masjid, kemudian beliau berdiri dan bertakbir, dan orang-orang pun membuat barisan di belakang beliau. [12]


Kelima : Jika Seseorang Tertinggal Mengerjakan Satu dari Dua Ruku Dalam Satu Raka’at.

Shalat kusuf ini terdiri dari dua rakaat, masing-masing rakaat terdiri dari dua ruku dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, shalat kusuf ini terdiri dari empat ruku dan empat sujud di dalam dua rakaat.

Barangsiapa mendapatkan ruku kedua dari rakaat pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan, dan satu ruku. Dan berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua rakaat shalat kusuf, sehingga rakaat tersebut tidak dianggap telah dikerjakan. Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua ruku, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits-hadits shahih. Wallahu a’lam.

Yang menjadi dalil baginya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Artinya : “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka dia akan ditolak” 
- Muttaffaq ‘alaihi [13]

Dan bukan dari perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat satu rakaat saja dari shalat kusuf dengan satu ruku. Wallahu ‘alam


SHALAT GERHANA BULAN SAMA DENGAN SHALAT GERHANA MATAHARI

Shalat gerhana bulan dikerjakan sama seperti shalat gerhana matahari. Hal tersebut didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Artinya : “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. [14]

Dapat saya katakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah pernah mengerjakan shalat gerhana matahari dan beliau menyuruh kita untuk melakukan hal yang sama ketika terjadi gerhana bulan. Dan hal itu sudah sangat jelas lagi gamblang. Wallahu ‘alam

Ibnu Mundzir mengatakan :
“Shalat gerhana bulan dikerjakan sama seperti shalat gerhana matahari” [15]

[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

_________

[1]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di beberapa tempat, yang diantaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Ash-Shadaqah fil Kusuuf (hadits no. 1044). Dan redaksi di atas adalah miliknya. Dan juga Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf (hadits no. 901).

[2]. Lihat sekitar Dalalaatul Itqiraan, kapan waktu muncul, kapan muncul kelemahannya, dan kapan pula keduanya sama . Badaa’iul Fawaa’id (IV/183-184)

[3]. Fathul Baari (II/533) dan Masuu’atul Ijmaa (I/696)

[4]. Syarhul Umdah, karya Ibnu Daqiqil Ied (II/135-136). Dan juga kitab Fathul Baari (II/533).

[5]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat, yang diantaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab An-Nidaa bish Shalaati Jaami’ah fil Kusuuf (hadits no. 1045). Dan lafazh di atas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Dzikrun Nidaa bi Shalaatil Kusuuf : Ash-Shalaatu Jaami’ah, (hadits no. 910). Lihat Jaami’ul Ushuul (VI/178)

[6]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat, yang diantaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatil Kusuuf Jama’atan, (hadits no. 1052), dan lafazh di atas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Maa ‘Aradha Alan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Shalaatil Kusuuf min Amril Jannah wan Naar, (hadits no. 907). Dan lihat kitab. Jaami’ul Ushuul (VI/173).

[7]. Dan termasuk terjemahan Al-Bukhari di dalam (Kitaabul Kusuuf, bab Khuthbatul Imam fil Kusuuf), Aisyah dan Asma Radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah…” Selanjutnya, dia menyitir hadits Aisyah di atas, Fathul Baari (II/533-534)

[8]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat, di antaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Al-Jahr bil Qiraa’ah fil Kusuuf, (hadits no. 1065) dan lafazh diatas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf, (hadits no. 901). Lihat Jaami’ul Ushuul (VI/156).

Takhrij hadits ini telah diberikan sebelumnya, tanpa memberi isyarat kepada riwayat ini.

[9]. Sunan At-Tirmidzi (II/448 –tahqiq Ahmad Syakir).

[10]. Lihat ungkapan Asy-Syafi’i dan dalilnya di dalam kitab Al-Umm (I/243). Juga pembahasan dalil-dalilnya serta penolakan terhadapnya di dalam kitab, Fathul Baari (II/550)

[11]. Dari terjemahan Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya, bab Shalaatul Kusuuf Jamaa’atan. Dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjadi imam untuk shalat mereka di pelataran zam-zam. Ali bin Abdullah bin Abbas mengumpulkan (orang-orang). Dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pun shalat …”. Kemudian dengan sanadnya dia menyitir hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma terdahulu.

Pendapat yang mensyariatkan shalat kusuuf dengan berjama’ah adalah pendapat jumhur. Sekalipun imam tetap tidak hadir, maka sebagian mereka boleh menjadi imam atas sebagian lainnya. Lihat kitab Fathul Baari (II/539-540).

[12]. Dari terjemah Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya : Bab : Shalatul Kusuuf fil Masjid. Di dalamnya dsiebutkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha di atas dengan riwayat yang didalamnya terdapat ucapannya : “Kemudian pada suatu pagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan, lalu terjadilah gerhana matahari. Kemudian beliau pulang kembali pada waktu Dhuha, maka beliau pun berjalan di antara rumah-rumah isteri beliau …. (hadits no. 1056).

Di dalam kitab Fathul Baari (II/544), dalam mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan : “Tidak ada pernyataan jelas yang menyebutkan bahwa shalat kusuf ini dikerjakan di masjid, tetapi hal tersebut disimpulkan dari perkataan Aisyah : “Lalu beliau berjalan di dekat rumah-rumah para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memang menempel pada masjid. Dan shalat kusuf di masjid ini telah dinyatakan secara gamblang dalam sebuah riwayat Sulaiman bin Bilal, dari Yahya bin Sa’id, dari Umrah yang ada pada Muslim (saya katakan : “Hadits no. 903) Dan lafazhnya adalah sebagai berikut :” Kemudian aku keluar di antara para wanita di depan rumah isteri-isteri Nabi di masjid. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan turun dari binatang tunggangannya hingga akhirnya sampai ke tempat shalat yang beliau mengerjakan shalat di sana”.

Dapat saya katakan, dan yang lebih jelas dari itu adalah apa yang terdapat dalam hadits Aisyah terdahulu, yang ada pada Muslim, pada no. 901 Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : “Pada masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau pergi ke masjid, kemudian beliau berdiri dan bertakbir, dan orang-orang pun membuat barisan di belakang beliau..”

[13]. Hadits shahih. Diriwayatlkan oleh Al-Bukhari sebagai kata pembuka dengan lafazh ini di dalam Kitaabul Buyuu’ bab An-Najasy, Fathul Baari (IV/355). Dan diriwayatkan secara bersambungan di dalam Kitabush Shulh, bab Idzaa Ishtalahu ‘alaa Shulhi Juurin fa Shulhu Marduud, dengan lafazh : “Barangsiapa membuat suatu hal yang baru dalam perintah kami ini, yang bukan darinya, maka dia tertolak”. Dan diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Uqdhiyah, bab Naqdhul Ahkaam Al-Baathilah wa Raddu Muhdatsaatil Umuur, (hadits no. 1718). Dan lihat juga kitab, Jaami’ul Ushuul (I/289)

[14]. Takhrijnya sudah diberikan sebelumnya, dimana ia merupakan bagian dari hadits Aisyah mengenai shalat kusuf yang disebutkan di awal pembahasan

[15]. Al-Iqnaa, kartya Ibnul Mundzir (I/124-125)

Read On 0 comments

Amalan di Hari Tasyriq


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari penuh kemuliaan, hari di mana jama’ah haji melaksanakan ritual melempar jumrah dan di negeri lainnya sibuk dengan menyembelih qurban. Berbagai keutamaan hari tasyriq dan amalan mulia yang bisa dilaksanakan saat itu diterangkan dalam tulisan sederhana berikut ini.
Hari ‘Ied Kaum Muslimin

Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari Tasyriq termasuk hari ‘ied kaum muslimin. Disebutkan dalam hadits,

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.”[1]

Hari Idul Adha dan Hari Tasyriq, Hari Yang Paling Mulia

Mengenai keutamaan hari Idul Adha dan hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Daud,

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).”[2] 

Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.[3]
Hari Idul Adha dan Hari Tasyriq, Hari Bersenang-senang untuk Menyantap Makanan

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.”[4]

Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,

وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.”[5]

Yang dimaksud dengan hari Mina di sini adalah ayyam ma’dudaat sebagaimana yang disebutkan dalam ayat,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203) 

Yang dimaksud hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Idul Adha (hari an nahr) yaitu hari-hari tasyriq. Inilah pendapat Ibnu ‘Umar dan pendapat kebanyakan ulama. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.[6]


Hari Tasyriq, Hari Berdzikir

Sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 203 di atas (yang artinya), “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq.

Lalu apa saja dzikir yang dimaksudkan ketika itu? Beberapa dzikir yang diperintahkan oleh Allah di hari-hari tasyriq ada beberapa macam:

Pertama: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.

Kedua: membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Dan waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.

Ketiga: berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.

Keempat: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.

Kelima: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.[7]


Dianjurkan Memperbanyak Do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar”

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.

Do’a ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a ini. Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].”[8]

Di dalam do’a telah terkumpul kebaikan di dunia dan akhirat. Al Hasan Al Bashri mengatakan,
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” 
Sufyan Ats Tsauri mengatakan,
“Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.”

Dan do’a juga termasuk dzikir, bahkan do’a termasuk dzikir yang paling utama.

Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha),
“Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya.”[9]

Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna.

Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.

Seorang penyair mengatakan:
Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr

Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.[10]
 
Makan dan Minum di Hari Tasyriq untuk Memperkuat Ibadah

Hari tasyriq disebut dengan hari makan dan minum, juga dzikir pada Allah. Hal ini pertanda bahwa makan dan minum di hari raya seperti ini dapat menolong kita untuk berdzikir dan melakukan ketaatan pada-Nya. Dengan inilah semakin sempurna rasa syukur terhadap nikmat dapat menolong dalam ketaatan pada Allah. Oleh karena itu, barangsiapa menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat, berarti dia telah kufur pada nikmat.

Maksiat inilah yang nantinya akan menghilangkan nikmat. Sedangkan bersyukur pada Allah itulah nanti yang akan menghilangkan bencana.[11]

Semoga kita dimudahkan untuk beramal sholeh dan selalu dimudahkan mendapat ilmu yang bermanfaat, juga semoga kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atas segala nikmat.

_____________________________

[1] HR. Abu Daud no. 2419, Tirmidzi no. 773, An Nasa-i no. 3004, dari ‘Uqbah bin ‘Amir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR. Abu Daud no. 1765, dari ‘Abdullah bin Qurth. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 503, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H.

[4] HR. Muslim no. 1141, dari Nubaisyah Al Hudzali.

[5] HR. Muslim no. 1142.

[6] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 502-503.

[7] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 504-505.

[8] HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690.

[9] Lihat Latho-if Al Ma’arif, 505-506.

[10] Lihat Latho-if Al Ma’arif, 507.

[11] Lihat Latho-if Al Ma’arif, 507.


 Sumber: "Amalan di Hari Tasyriq" oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Read On 0 comments

Sholat Hari Raya di Musholla Itulah Menurut As-Sunnah

الحمد لله وحده و صلاته و سلامه على نبينا محمد و آله و صحبه ، و على من تمسك بهديه ، و استقام على طريقته ، إلى يوم الدين .أما بعد

Maka inilah dia tulisan kami pada hari ini dan tajuknya adalah, penetapan bahawa: “Sholat kedua-dua Hari Raya didirikan di Musholla (Tanah Lapang/Dataran Luas) itulah menurut As-Sunnah”.

Asalnya saya telah terfikir untuk menjadikannya satu risalah yang dimuatkan bersama risalah “Sholat Terawih” tetapi sayangnya keadaan tidak mengizinkan. Maka ia diteruskan (penerbitannya), dengan penuh pengharapan kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, agar usaha ini dipermudahkan olehNya, agar diterima tulisan ini di sisi orang ramai, mudah-mudahan mereka mendoakan dengan doa yang baik, yang bermanfaat buat diri saya “Hari yang mana tiada manfaatnya harta dan tidak pula anak-anak, kecuali siapa yang datang menghadap Allah dengan hati yang tenteram…”

Ketahuilah wahai para pembaca yang budiman, sebelum ini, ada pihak yang menulis mengenai tajuk “Sholat Hari Raya di Musholla (Lapangan)” yang mana mereka telah membuat berbagai kesimpulan yang bercanggahan. Mereka juga telah mendakwa bahawa kami menghukumkan bahawa Sholat Hari Raya di masjid tidak sah!

Mereka juga menyatakan: 
“Sebabnya mengapa Nabi shallallahu 'alayhi wasallam memilih untuk melaksanakan Sholat Hari Raya di Tanah Lapang adalah kerana ketiadaan… sebab-sebab yang mencukupi di Madinah Al-Munawarah iaitu kerana di Madinah tiada masjid lain kecuali satu masjid sahaja (yakni Masjid Nabi).”
Kenyataan ini terbit dari kejahilan yang nyata, kerana terdapat banyak masjid pada zaman Nabi shallallahu 'alayhi wasallam di Madinah, yang diketahui ramai dan yang paling masyhur adalah Masjid Qubaa, Masjid Qiblatain dan Masjid Al-Fath yang ada disebutkan di dalam beberapa hadits-hadits yang shohih, di dalam berbagai kitab-kitab hadits dan telah dimuatkan nama beberapa buah masjid lainnya di dalam Fathul Baari oleh Al-Haafizh Ibn Hajar (1/445).

Sebenarnya yang mereka maksudkan dengan dakwaan yang bathil ini ialah agar dapat dicapai maksud meninggalkan pengamalan dan penghayatan As-Sunnah dalam hal Sholat Eid di Tanah Lapang, yang mereka padankan dengan sebab yang tidak benar iaitu: 
“Bahawasanya di kota Madinah ketika itu tidak ada masjid lain selain Masjid Nabi yang menurut dakwaan mereka tidak dapat menampung bilangan jemaah sewaktu Sholat Hari Raya”!
Maka dengan itu kami telah kemukakan penilaian yang membatalkan sebab atau alasan yang mereka datangkan malah membatalkan dakwaan mereka dari dasarnya.

Sekiranya kita andaikan bahawa Masjid Nabi shallallahu 'alayhi wasallam tidak dapat menampung bilangan jemaah, maka pasti mereka telah laksanakan sholat Hari Raya di masjid-masjid lain yang sekian banyak, seperti yang dilakukan orang hari ini. Maka bilamana mereka (pada zaman Nabi shallallahu 'alayhi wasallam) meninggalkan perlaksanaan Sholat Hari Raya di masjid-masjid tersebut untuk melaksanakannya di Tanah Lapang, ia dengan jelas menunjukkan bahawa menurut As-Sunnah, sholat Hari Raya dilaksanakan di Musholla/Tanah Lapang. 

Kemudian mereka menyatakan pula: 
“Bilamana bilangan kaum muslimin semakin ramai sehingga mereka tidak mampu untuk berkumpul berjemaah di Musholla, terutama sekali di kawasan bandar-bandar besar seperti kota Damascus/Damsyik, maka mereka pun berkumpul di masjid-masjid kerana berhajatkan demikian”!
(*Komentar penterjemah:
Perhatikanlah wahai pembaca yang mulia akan kata-kata bolak-balik ini. Mereka berhujjah bahawa kaum muslimin tidak mampu untuk berhimpun di musholla padahal ia adalah suatu perkara yang mudah dilaksanakan. Buktinya, ia telah diamalkan dan amalan itu terus berjalan di banyak pelusuk seperti yang dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab “Syarah Shohih Muslim”.)

Perbuatan baginda melazimi perlaksanaan Sholat Hari Raya di Musholla/Tanah Lapang dan hadits-haditsnya yang menjelaskan demikian.

Ramai Muhaqqiq[1] dari kalangan Huffaazh[2] menyimpulkan:
“Bahawasanya dari ajaran dan petunjuk baginda shallallahu 'alayhi wasallam, di dalam perlaksanaan Sholat kedua-dua Hari Raya, ialah kedua-duanya sentiasa baginda laksanakan di Musholla”[3].
Kesimpulan ini disokong oleh hadits yang amat banyak yang terdapat di dalam kitab-kitab kedua Shohih Al-Bukhaariy dan Muslim, Musnad-musnad, Sunan-sunan dan lainnya dengan jalan periwayatan yang teramat banyak. Maka perlu dikemukakan di sini biarpun dalam tulisan yang ringkas ini, agar para pembaca yang budiman dapat melihat kebenaran dengan jelas:

(*Kami memaparkan hanya satu daripada pelbagai hadits yang dikemukakan untuk meringkaskan)

Daripada Abi Sa’ied Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu yang meriwayatkan:
“Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam sentiasa keluar pada Hari (Raya) Al-Fitri dan Al-Adh-haa ke Musholla[4], maka perkara-pertama yang baginda mulakan ialah mendirikan sholat, kemudian selesai sahaja sholat, baginda pun berdiri menghadap ke arah para jemaah, sedang mereka semuanya duduk di dalam shaf-shaf mereka, lalu memberi peringatan kepada mereka dan mewasiatkan mereka serta menyuruh mereka (dengan yang sewajibnya), sekiranya baginda ingin mengarahkan pasukan tentera untuk berangkat, baginda melakukannya ketika itu[5], ataupun memerintahkan sesuatu maka baginda perintahkannya kemudian barulah baginda beredar. Maka manusia (ummat) tetap menuruti perlaksanaan demikian…” 
Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy: 2/259-260, Muslim: 3/20, An-Nasaa-i: 1/234, Al-Muhaamiliy di dalam kitab “Kitabul ‘Eidain” Juz 2 no: 86, Abu Nu’aim di dalam kitab “Al-Mustakhraj”nya: 2/10/2 dan Al-Baihaqiy di dalam Sunannya: 3/280.

Apabila anda telah mengetahui hadits-hadits tersebut, maka telah tegaklah hujjah bahawa menurut As-Sunnah di dalam perlaksanaan Sholat kedua-dua Hari Raya, agar dilaksanakan di Musholla dan itulah pendapat kebanyakan Ulamaa maka di dalam Syarhus Sunnah karangan Imam Al-Baghawiy rahimahullah dinyatakan:
“Menurut As-Sunnah, si imam keluar untuk melaksanakan Sholat kedua-dua Hari Raya, kecuali jika ada keuzuran maka barulah ia sholat di masjid,” [6] yakni masjid di dalam Bandar.

Kata Al-Imam Muhyiddien An-Nawawi di dalam “Syarah Shohih Muslim” ketika membicarakan hadits yang pertama tadi:
“Ini adalah dalil bagi pihak yang berpendapat adalah amat digalakkan keluar ke musholla untuk menunaikan Sholat Hari Raya dan bahawasanya ia adalah yang afdhal/lebih utama diamalkan dari perlaksanaannya di masjid. Inilah yang menjadi amalan manusia di merata pelusuk (Dunia Islam), sementara penduduk kota Mekkah maka mereka tidak melaksanakannya kecuali di Masjid dari sejak zaman yang awal, maka mengenai permasalahan ini, pendokong Madzhab ada 2 pandangan yang diriwayatkan:

1. Di tanah lapang lebih afdhal, kerana petunjuk hadits ini

2. Inilah yang lebih tepat/shohih di sisi kebanyakan mereka: Masjid (Al-Haram) lebih afdhal kecuali jika sempit.

Terjemahan dan ringkasan dari tulisan Asy-Syeikh Al-Albaaniy rahimahullah

___________________________

[1] Golongan ulamaa yang membuat kajian mendalam, meneliti segala dalil-dalil samada sah untuk dijadikan hujjah atau sebaliknya, mengamati kesemua pendapat Imam sebelum mereka, di dalam satu-satu masalah yang dianalisa kemudian menyimpulkan yang terbaik untuk diikuti.

[2] Para haafizh – yakni yang menghafal beratus bahkan beribu hadits-hadits Nabi selain telah menguasai Al-Quran.

[3] Sila rujuk Zaadul Ma’aad (1/172), Fathul Baari (2/361) dan lainnya.

[4] Kata Al-Haafizh: “Ia adalah suatu tempat di Madinah yang cukup diketahui, jaraknya dari pintu Masjid Nabi adalah seribu hasta (462 metres)”

Kata Ibnul Qayyim: “Ia adalah Musholla yang biasanya diletakkan di situ barang-barang jemaah haji.”

Komentar penterjemah: Zahirnya ia terletak di bahagian sebelah timur dari Masjid Nabawi, berhampiran dengan Perkuburan Baqie’.

[5] Penjelasan Al-Haafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalaaniy.

[6] Sebagaimana juga yang ditegaskan oleh Asy-Syeikh ‘Aliy Al-Qaari di dalam “Al-Murqaah”: 2/245; rujuk Syarhus Sunnah: 4/294.



Sumber: http://www.al-jamaah.sg/2014/07/sholat-hari-raya-di-musholla-itulah.html
Read On 0 comments

Tatacara Menyembelih Sesuai Sunnah


1. Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibul kurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.

2. Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadis dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

3. Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya):
“Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

4. Menghadapkan hewan ke arah kiblat.

Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah:
Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196)

 Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.

5. Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.

Imam An-Nawawi mengatakan,
Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).

Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan,
“Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri, sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di lambung sebelah kiri. (Syarhul Mumthi’, 7:442).

6. Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بكبشين أملحين، فرأيته واضعاً قدمه على صفاحهما يسمي ويكبر

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah …. (HR. Bukhari dan Muslim).

7. Bacaan ketika hendak menyembelih.

Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,
وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..

Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121).

8. Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

9. Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan,
‘Bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).
Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:
“hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) 
Atau
“hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan” (disebutkan nama shohibul kurban). 
Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban.

Atau berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa,
“Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).” [1]

Catatan: Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.

10. Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.

Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.

11. Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.

Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):
  • Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.
  • Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.
  • Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. 
Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل، ليس السن والظفر

“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

12. Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.

Imam An-Nawawi mengatakan,
“Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408)

13. Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.

Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.

Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah,
“Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembalih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,

وتعمد إبانة رأس

“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 93893).

Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.
Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan,
“Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.”
Imam Syafi’i mengatakan,

فإذا ذبحها فقطع رأسها فهي ذكية

“Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir, 15:224).

Allahu a’lam.

=====
[1]. Tata Cara Kurban Tuntunan Nabi, Hal. 92.

Sumber: "Tata Cara Menyembelih Sesuai Sunah" oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Read On 0 comments

Apakah Puasa Hari Sabtu Terlarang?


Sebagaian kalangan ada yang mempermasalahkan berpuasa pada hari Sabtu. Terutama jika puasa Arofah, puasa Asyuro atau puasa Syawal bertepatan dengan hari Sabtu. Apakah boleh berpuasa ketika itu? Semoga pembahasan berikut bisa menjawab keraguan yang ada.

Larangan Puasa Hari Sabtu

Mengenai larangan berpuasa pada hari Sabtu disebutkan dalam hadits,

لاَ تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلاَّ فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ

“Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.”[1] Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini mansukh (telah dihapus). Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Beberapa Puasa Ada yang Dilakukan pada Hari Sabtu

Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukan puasa pada hari Sabtu dan Ahad.

Dari Ummu Salamah, ia berkata,

كان أكثر صومه السبت و الأحد و يقول : هما يوما عيد المشركين فأحب أن أخالفهم

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad.” Beliau pun berkata, “Kedua hari tersebut adalah hari raya orang musyrik, sehingga aku pun senang menyelisihi mereka.”[2]

Kedua: Boleh berpuasa pada Hari Jum’at dan Sabtu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada salah satu istrinya yang berpuasa pada hari Jum’at,

« أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى »

“Apakah kemarin (Kamis) engkau berpuasa?” Istrinya mengatakan, “Tidak.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Apakah engkau ingin berpuasa besok (Sabtu)?” Istrinya mengatakan, “Tidak.” “Kalau begitu hendaklah engkau membatalkan puasamu”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Ketiga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan berpuasa pada hari Jum’at asalkan diikuti puasa pada hari sesudahnya (hari Sabtu).Dari Abu Hurairah, ia mengatakan,

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صوم يوم الجمعة إلا بيوم قبله أو يوم بعده .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada hari Jum’at kecuali apabila seseorang berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya.”[4] Dan hari sesudah Jum’at adalah hari Sabtu.

Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban dan pasti akan bertemu dengan hari Sabtu.

Kelima: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melakukan puasa Muharram dan kadangkala bertemu dengan hari Sabtu.

Keenam: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan. Ini juga bisa bertemu dengan hari Sabtu.

Ketujuh: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan berpuasa pada ayyamul biid (13, 14, dan 15 Hijriyah) setiap bulannya dan kadangkala juga akan bertemu dengan hari Sabtu.

Dan masih banyak hadits yang menceritakan puasa pada hari Sabtu.[5]

Dari hadits yang begitu banyak (mutawatir), Al Atsrom membolehkan berpuasa pada hari Sabtu. Pakar ‘ilal hadits (yang mengetahui seluk beluk cacat hadits), yaitu Yahya bin Sa’id enggan memakai hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu dan beliau enggan meriwayatkan hadits itu. Ha ini menunjukkan lemahnya (dho’ifnya) hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu.[6]

Murid Imam Ahmad –Al Atsrom dan Abu Daud- menyatakan bahwa pendapat tersebut dimansukh (dihapus). Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini syadz, yaitu menyelisihi hadits yang lebih kuat.[7]

Namun kebanyakan pengikut Imam Ahmad memahami bahwa Imam Ahmad mengambil dan mengamalkan hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu, kemudian mereka pahami bahwa larangan yang dimaksudkan adalah jika puasa hari Sabtu tersebut bersendirian. Imam Ahmad ditanya mengenai berpuasa pada hari Sabtu. Beliau pun menjawab bahwa boleh berpuasa pada hari Sabtu asalkan diikutkan dengan hari sebelumnya.[8]

Kesimpulan:
Ada ulama yang menilai hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah lemah (dho’if) dan hadits tersebut tidak diamalkan. Dari sini, boleh berpuasa pada hari Sabtu.
Sebagian ulama lainnya menilai bahwa hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah jayid (boleh jadi shahih atau hasan). Namun yang mereka pahami, puasa hari Sabtu hanya terlarang jika bersendirian. Bila diikuti dengan puasa sebelumnya pada hari Jum’at, maka itu dibolehkan.[9]

Rincian Berpuasa pada Hari Sabtu

Dari penjelasan di atas, kesimpulan yang paling bagus jika kita mengatakan bahwa puasa hari Sabtu diperbolehkan jika tidak bersendirian. Sangat bagus sekali jika hal ini lebih dirinci lagi. Rincian yang sangat bagus mengenai hal ini telah dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin sebagai berikut.

Keadaan pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqodho’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafaroh (tebusan), atau mengganti hadyu tamattu’ dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.

Keadaan kedua: Jika berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada salah satu istrinya yang berpuasa pada hari Jum’at,

« أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى »

“Apakah kemarin (Kamis) engkau berpuasa?” Istrinya mengatakan, “Tidak.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Apakah engkau ingin berpuasa besok (Sabtu)?” Istrinya mengatakan, “Tidak.” “Kalau begitu hendaklah engkau membatalkan puasamu”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

Perkataan beliau “Apakah engkau berpuasa besok (Sabtu)?”, ini menunjukkan bolehnya berpuasa pada hari Sabtu asalkan diikuti dengan berpuasa pada hari Jum’at.

Keadaan ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada ayyamul bid (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arofah, berpuasa ‘Asyuro (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.

Keadaan keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya .

Keadaan kelima: Mengkhususkan berpuasa sunnah pada hari Sabtu dan tidak diikuti berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya. Inilah yang dimaksudkan larangan berpuasa pada hari Sabtu, jika memang hadits yang membicarakan tentang hal ini shahih. –Demikian penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin-[11]

Keterangan Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) Mengenai Puasa pada Hari Sabtu

Berikut Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’.

Soal:

Kebanyakan orang di negeri kami berselisih pendapat tentang puasa di hari Arofah yang jatuh pada hari Sabtu untuk tahun ini. Di antara kami ada yang berpendapat bahwa ini adalah hari Arofah dan kami berpuasa karena bertemu hari Arofah bukan karena hari Sabtu yang terdapat larangan berpuasa ketika itu. Ada pula sebagian kami yang enggan berpuasa ketika itu karena hari Sabtu adalah hari yang terlarang untuk diagungkan untuk menyelisihi kaum Yahudi. Aku sendiri tidak berpuasa ketika itu karena pilihanku sendiri. Aku pun tidak mengetahui hukum syar’i mengenai hari tersebut. Aku pun belum menemukan hukum yang jelas mengenai hal ini. Mohon penjelasannya.

Jawab:

Boleh berpuasa Arofah pada hari Sabtu atau hari lainnya, walaupun tidak ada puasa pada hari sebelum atau sesudahnya, karena tidak ada beda dengan hari-hari lainnya. Alasannya karena puasa Arofah adalah puasa yang berdiri sendiri. Sedangkan hadits yang melarang puasa pada hari Sabtu adalah hadits yang lemah karena mudhtorib dan menyelisihi hadits yang lebih shahih.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Yang menandatangani fatwa ini: ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai Ketua.[12]

Demikian pembahasan kami yang singkat ini. Semoga dengan pembahasan ini dapat menghilangkan keraguan yang selama ini ada mengenai berpuasa pada hari Sabtu. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


Sumber: "Apakah Puasa Hari Sabtu Terlarang?" oleh  Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)
Read On 0 comments

Fasting on Saturdays - A Discussion Between Shaykh 'Abbaad & Shaykh Albaanee

The Muhaddith of Madeenah, Shaykh ‘Abdul Muhsin Al 'Abbaad, Discusses with the Muhaddith of the Era, Shaykh Muhammad Naasiruddeen al Albaanee, Concerning Fasting on Saturdays




Al Albaanee: Yes, Shaykh ‘Abdul Muhsin has something to say, please go ahead.

‘Al ‘Abbaad: It is about the issue of Saturday, you say that it is not permissible to fast on Saturday’s at all, whether a person singles it out or combines it with another day.

Al Albaanee: Yes, except during an obligation as was stated [by the Messenger - صلي الله عليه و سلم -], there is no difference between fasting it on its own and combining a day before it or a day after it with it. I say this while having the Hadeeth of Juwayreeyah in mind al Hamdulilaah; “…did you fast a day before it…will you fast a day after it, she said no…”

Al ‘Abaad: [Meaning] the Friday.

Al Albaanee: Yes, the Friday.

Al ‘Abaad: The Friday which comes before Saturday. [i.e. the Shaykh is indicating that since Saturday comes after Friday, then the Hadeeth is permitting fasting Fridays with Saturdays.]

Al Albaanee: What I’m saying is; those who are claiming that it is permissible to fast on Saturday’s because of this Hadeeth, this Hadeeth is associated with another Hadeeth. They are saying that if a person fasts on Friday, then he can fast on Saturday, the Hadeeth of Juwayreeyah clearly states that. But we respond by saying, as was mentioned earlier, with the issue related to the statement of the Messenger - صلي الله عليه و سلم - “Nothing cuts off the Salaat.”

Al ‘Abaad: No, I only intended the issue of Saturday, meaning is it permissible for someone to fast a supernumerary fast on Saturday if he combines it with another day?

Al Albaanee: No, no, I say no may Allaah bless you. What I meant by referring to the previous issue, is that the Hadeeth of Juwayreeyah permits the fasting of Saturday, and the other Hadeeth prohibits it, so the prohibition takes precedence over the permit. This is what I intended when referring to the previous issue.

Al ‘Abaad: But isn’t the Hadeeth that is prohibiting fasting on Saturday only prohibiting it if it was singled out in fasting?

Al Albaanee: As is known to you, as you are the people of the Arabic language, and it is us who are learning from you, the Messenger - صلي الله عليه و سلم - said: “Do not fast on Saturday unless it is obligated upon you.” Unless it is obligated upon you.

Al ‘Abaad: But isn’t the meaning here that you single it out with fasting?

Al Albaanee: No, because this understanding would be contradictory to the exception [i.e of fasting only when it is an obligation]. Likewise, what do the people of knowledge say if ‘Eed is on Saturday? Let’s say for example, that fasting on the day of ‘Arafah is followed by a Saturday, the virtues of fasting on ‘Arafah is well known to noble students of knowledge like yourselves. The differing of fasting on the day of ‘Arafah for those who are in ‘Arafah is known, and the Sunnah is that they shouldn’t fast, and fasting is a virtue for those who are not at ‘Arafah.

In any case, lets say that the day of ‘Arafah is on Friday, so the day after it is ‘Eed which is on a Saturday. Is it permissible to fast on Friday, knowing that fasting on ‘Arafah and fasting on Saturday which is the day of ‘Eed is prohibited as is known to us all. Can we do so with the claim that we are not fasting Saturday on its own and the Hadeeth only prohibits singling out Saturday with fasting? I do not think that any of the people of knowledge would say so in such a case, and it happens often, that the day of ‘Arafah is on a Friday, so the day following it would be a Saturday. So can we say that it is permissible to fast on that day because we fasted Friday, being that Friday was the day of ‘Arafah? I do not believe anyone would permit this.

Al ‘Abaad: But this is because it is prohibited to fast on ‘Eed.

Al Albaanee: If you would permit, your statements are in agreement with mine. When I say that I do not think any of the people of knowledge would permit this type of fast, if this is the case, then saying it is permissible [to fast Saturday’s when combined] is not free of error. Saying that the prohibition is only for singling out Saturday in fasting is not free of error, that in this case Saturday was not singled out, so what is the response?

It is as you have just kindly said; that the prohibition of fasting on the day of ‘Eed is well known. Ok, may Allaah bless you, what is the difference between the first prohibition [of fasting Saturday] and the second prohibition [of fasting on ‘Eed]?

I say, the difference is that the prohibition of fasting on ‘Eed is known to most scholars, rather it is known to most students of knowledge. As for the prohibition of fasting on Saturdays, then it was unknown, it was buried in the books, it was forgotten. This is the only difference, otherwise the prohibition by the Messenger - صلي الله عليه و سلم - whether here or there is the same. Rather, I say that his prohibition of fasting on Saturday is more severe than his prohibition of fasting on ‘Eed. This is because the prohibition of fasting on the day of ‘Eed is nothing more than his prohibition - صلي الله عليه و سلم - of fasting on the day of ‘Eed. As for the prohibition of fasting on Saturday, then it is coupled with a statement that emphasizes the prohibition, and it is none other than his saying; “…if you do not find anything but a bark of a tree, then chew on it.” Meaning that the person would affirm that he is not fasting by doing so in obedience to the order of the Messenger - صلي الله عليه و سلم -. This statement by the Messenger, if it does not emphasize or render the fasting of Saturday to be more severe that fasting on ‘Eed, then at least it makes it equal. So why is it that some of the people of knowledge differentiate between the fasting of Saturdays, saying that what is meant is singling it out with fasting, why is it that you don’t say the same thing about singling out ‘Eed with fasting. It is because of the prohibition, and the prohibition is given precedence over the permit, this is my opinion on the matter.

Al ‘Abaad: The Hadeeth of Juwayreeyah, does it not affirm that what is meant by the Hadeeth; “Do not fast on Saturdays except in what has been obligated upon you.”is that the prohibition is specific to singling out Saturday with fasting? Because the Hadeeth clarifies that Juwayreeyah affirms that she fasted on a Saturday combined with a Friday. Likewise is the statement of the Messenger - صلي الله عليه و سلم - “Whoever fasts Ramadaan and follows it with six days of Shawaal…” If it is on a Saturday for a benefit, should a person not continue fasting [on the Saturday]? Meaning that he fasts six days in succession including a Saturday. Likewise are the three days in the middle of a month if Saturday is included in them, or that the day of ‘Arafah is on a Saturday?

Al Albaanee: I believe that this is only repeating what I have already said. We said that the Hadeeth of Juwayreeyah permits [fasting on Saturdays] and the Hadeeth that prohibits fasting on Saturday is given precedence because the prohibition is given precedence over the permit. The virtues of fasting the six days of Shawaal are no doubt known, but if happens that one of those six days is a Saturday – and I see the gentleman over there coming and going, it is as if he is waiting for us, be patient and your patience is only by Allaah. I say, Whoever wants to fast on Saturday as you are saying, combining it with another day and not singling it out, as for me, I fast the six days of Shawaal, and if I come to a Saturday I would not fast, and if I fast a Friday combining it with a Thursday I would fast it, but if Saturday is included in these six days I would not fast it.

I believe, and I mean what I say, that I have a better way that is closer to guidance, and more correct in speech when I do not fast on a Saturday as opposed to the person who fasts on Saturday as one of the six days of Shawaal. Why? Because I have not given up the fasting of a Saturday due to my desires or innovation in the religion, I have only given it up for Allaah the Elevated and His Messenger - صلي الله عليه و سلم -, and he says as is well known to you; “Whoever leaves something for Allaah, Allaah would replace it with something better for him.”Therefore I do not fast, and this is better than fasting [on Saturday] because I did not fast that day for Allaah the Magnificent.

The point is, may Allaah bless you, is that we remember the clear example that has already been mentioned, the example that cannot be argued against; it the day of ‘Eed is also a day that is virtuous to fast on, do we fast?

The answer is no.

What is the legislated reason for this?

There is no legislated reason other than the principle of the prohibition is given precedence over the permit. If the people of knowledge have another reason, then I may change my opinion of fasting on Saturdays. As for falling into the dilemma of sometimes permitting the fasting of a day that the Messenger - صلي الله عليه و سلم - prohibited in totality and stating that the statement; “…except on what has been obligated upon you..” stating that this is only when it is singled out, what are we holding on to here, a principle, a text? This text prohibits, it prohibits all types of fasting [on Saturday] except those that have been obligated. So fasting on the day of ‘Eed if it coincides with a day of virtue, or fasting on a Saturday if it coincides with a day of virtue, do we fast it while contradicting a text that prohibits it?

We say no, we do not fast it, why? Because the prohibition takes precedence over the permit. So I feel at peace that I am not in confusion in my understanding and knowledge ; sometimes permitting what the legislation prohibited with the claim that it is permissible when combined with another day, and at other times prohibiting while the ruling is clear.

Al ‘Abaad: The way to combine the evidences; the Hadeeth; “Do not fast on Saturdays except in what has been obligated upon you.” And the Hadeeth of Juwayreeyah; “Are you going to fast tomorrow (Saturday)? She said no, then do not fast [on Friday]”

Al Albaanee: May Allaah bless you, I say; this is only repetition, I know what they mean by combining the Ahaadeeth, but why do they not implement this with the issue of fasting on the day of ‘Eed? The response: Because fasting on ‘Eed is prohibited.

Al ‘Abaad: No, we say that it is not permitted at all.

Al Albaanee: Why my Sayyid? This is what you are saying, but what is the knowledgeable response? It is because the Messenger - صلي الله عليه و سلم - prohibited it, and what did I say was the knowledgeable response? It is that the prohibition is given precedence to the permit. As for saying it is because [fasting of ‘Eed] has been prohibited, then we say; likewise fasting on Saturdays has been prohibited, and we mentioned earlier that fasting on Saturdays has been emphasized more than fasting on ‘Eed, because he said; “…if you do not find anything but a bark of a tree, then chew on it.” A bark is not food, it does not even have any moisture in it, no sweetness, nothing at all. But it was mentioned to emphasize the obedience of the noble Hadeeth practically, so a person chews on this bark to establish his obedience to the prohibition of the Messenger - صلي الله عليه و سلم.

A person from the crowd interrupts: But you O Shaykh, you are of the opinion that if the day of ‘Arafah is on a Saturday, that it should not be fasted?

Al Albaanee: Subhaan Allaah.

Person: By saying this we would make the Muslims miss out on a lot of good.

Al Albaanee: You have forgotten what we have said earlier…

(debate continues with person for a short while with others which has been ommited)

Al ‘Abbad: O noble Shaykh, may Allaah preserve you, are you aware of any scholars who held the opinion that it is not permissible to fast on Saturdays whether it is singled out or combined with another day?

Al Albaanee: Firstly I say; if you consider the narrator of this Hadeeth to be a scholar, then the answer is yes.

Al ‘Abbaad: I mean a scholar - other than you - from the scholars of old.

Al Albaanee: I say yes, the narrator of the Hadeeth, the Sahaabee.

Al ‘Abbaad: But the Sahaabee did not say that he understood the Hadeeth as you have understood it.

Al Albaanee: What did the Sahaabee say?

Al ‘Abbaad: He only narrated the Hadeeth, and it is possible to understand it in a way that is in agreement with the Hadeeth of Juwayreeyah.

Al Albaanee: No it is not that, I meant something else, and it is that he [the companion] said; ‘Whoever fasts on Saturday has neither fasted nor has he eaten.’

Al ‘Abbaad: This is understood only if he singles out Saturday with fasting.

Al Albaanee: This is how you understand it, but I am speaking about him [the companion].

Al ‘Abbaad: Others have also understood it likewise.

Al Albaanee: No, no, I am speaking about the narrator of the Hadeeth, this understanding is your understanding, we are not differing about this.

Al ‘Abbaad: The narrator of the Hadeeth…this does not apply except with those who say that he is making up an obligatory fast. So if he is not fasting an obligatory fast [speech not clear], so he is not to fast a supererogatory fast on Saturday except if he combines it with another day such as Friday.

Al Albaanee: In any case, do not blame me, Shaykh ‘Abdul Muhsin…

Al ‘Abbaad: No there is no blame at all.

Al Albaanee: …if I were to say that this is only repetition. You asked me previously if any of the people of knowledge held this opinion. I say yes, a number of the scholars of old as well as more recent scholars held this opinion. But I aimed high and referred you to the narrator of the Hadeeth, he said:

“The one who fasts on Saturday has neither fasted nor eaten.”

He derived this from the statement of the Messenger - عليه الصلاة والسلام - concerning the person who fasts for a whole year:

“Neither has he fasted, nor has he eaten.”

So do you order the person who wants to fast the whole year to fast or not to fast? There is no doubt that in this issue, you would order him not to fast the whole year…

A person interrupts: The Hadeeth…

Al Albaanee: Excuse me, if you would please, I am speaking with Shaykh ‘Abdul Muhsin.

Person: Continue…

Al Albaanee: I do not believe that you would prefer, or a more precise statement would be; that you consider the preponderant opinion to be that a person should fast the whole year - because he is drawing close to Allaah the Glorified by doing so - with your knowledge of the Prophets statement; “Whoever fasts the whole year has neither fasted nor has he eaten.” So what do we understand from this statement concerning fasting of Saturdays? Does it encourage one to fast or does it encourage one not to fast?

Al ‘Abbaad: It encourages one not to fast if he singles it out in worship, meaning if he singles it out with fasting he should not fast.

Al Albaanee: You, O shaykh - may Allaah reward you, are imposing your understanding on the narrator of this Hadeeth.

Al ‘Abbaad: Interjecting…

Al Albaanee: Sorry, if you would permit me, what I want you to do, is bring a statement that you could add to the statement of the narrator that would be in agreement with your understanding. As for understanding his statement according to yours, then this is an understanding that cannot be imposed on the Hadeeth. But in conclusion, I say that the statement of the Messenger, ‘Alayhi as Salaam, is clearer and more confirmatory than the statement of the narrator. As for the narrator, then we can say he was being creative in his statement, he was drawing attention to the Hadeeth of the Messenger; “Whoever fasts the whole year has neither fasted nor has he eaten.” He was being creative, he meant [the person who fasts on Saturdays] has no reward either. These words from the narrator benefit me a lot in reality, for he chose the opinion I hold, which is not to fast, over the opinion of fasting that others hold. This is because this companion is saying; fasting on Saturdays is like fasting for the whole year, the person is neither fasting nor is he not fasting.

As for me, I have left fasting on Saturdays for the pleasure of Allaah, and Allaah will replace it for me with something better in its place, As Salaamu ‘Alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatahu.

A Person: The Hadeeth of fasting a day and missing a day, is it not contradictory to this?

Al Albaanee: While getting up: May Allaah bless you, you continue to revolve around general texts, there is a general text concerning what you have said, and a general text can be specified by other texts, and this is what we were speaking about.

Please forgive me O Shaykh [‘Abbad], for I went ahead and responded to the question in your presence [i.e. I should have let you respond to the question – the Shaykh is saying this out of politeness and good mannerisms indicating that Shaykh ‘Abdul Muhsin has great knowledge and should be given precedence in responding to questions]

Al ‘Abbaad: And you are greater than me, in knowledge and age.

Read On 0 comments

Fatwa-Fatwa Puasa Arafah Bersamaan Wuquf


(شبكة مستقبل الإسلام): شيخنا أعلنت بعض الدول كأندونيسيا والباكستان أن عيد الأضحى سيكون يوم الأحد بينما يوم عرفة في بلاد الحرمين يوم الجمعة، فهل يصوم المسلم مع المسلمين أم يتابع دولته في هذه الشعيرة؟
(الشيخ): بما أن عرفة في مكة المكرمة وجميع الحجاج يقفون في يوم واحد فإن التاريخ المعتبر ما يتواطأ عليه المسلمون تبعاً لبلاد الحرمين فهي المؤتمنة على حج المسلمين أما اعتماد بعض الدول على الحساب الفلكي، فلا يلتفت إليه، والله أعلم.


Admin Mustaqbalul Islam: Wahai Syeikh kami, sebahagian negeri seperti Indonesia dan Pakistan telah mengiklankan bahawa ‘Eidul Adha jatuh pada Hari Ahad sedangkan Hari Arafah di Tanah Haram pada Hari Jumaat, maka apakah seseorang muslim itu berpuasa bersama-sama (serentak dengan waktu berwuqufnya) kaum Muslimin (di Arafah) atau ia mengikuti negerinya dalam perkara keagamaan yang sedia diketahui ini?

Asy-Syeikh Saliem ‘Eid al-Hilaliy: Bilamana ‘Arafah itu adalah di Mekkah al-Mukarramah dan semua jemaah Haji berwuquf pada satu hari yang sama, maka tarikh yang mu‘tabar (yang dijadikan ukuran dan panduan hukum) adalah apa yang disetujui seluruh kaum muslimien (dalam berwuquf) sebagai ikutan kepada negeri Tanah Haram maka itulah sandaran yang terjamin bagi hajinya kaum muslimien. Adapun pergantungan dan penyandaran sebahagian negeri kepada perkiraan (Hisab) Falak, maka usahlah diambil kira. Wallahu a‘lam.


Daripada artikel wawancara bertajuk: التنبئة والتعرفة في أحكام صيام يوم عرفة
_____________________________________________


صيام يوم قبل يوم عرفة
س: هل نستطيع أن نصوم هنا يومين لأجل صوم يوم عرفة؛ لأننا هنا نسمع في الراديو أن يوم عرفة غداً يوافق ذلك عندنا الثامن من شهر ذي الحجة؟
ج : الحمد لله ، يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس، وإن صمت الأيام التسعة من أول ذي الحجة فحسن؛ لأنها أيام شريفة يستحب صومها؛ لقول النبي - صلى الله عليه وسلم - ?: "ما من أيام العمل الصالح فيهن خير وأحب إلى الله من هذه الأيام العشر" قيل: يا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: "ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، ثم لم يرجع من ذلك بشيء" رواه البخاري. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

منتقاة من فتاوى اللجنة الدائمة لإفتاء


Berpuasa satu hari sebelum Hari Arafah

Soalan: Apakah kita boleh berpuasa 2 hari di sini demi melaksanakan puasa Hari Arafah, sebab di sini, kami dengar melalui radio bahawa Hari Arafah (di Saudi) esok yang bersamaan dengan Hari ke-8 Dzulhijjah di sisi kami (di negeri kami)?

Jawapan: Alhamdulillah, Hari Arafah adalah hari yang mana manusia (jemaah Haji) semua berwuquf di Arafah dan berpuasa (pada hari tersebut – yang mana jemaah haji berwuquf) adalah disyari‘atkan bagi orang yang tidak melaksanakan haji. Maka jika anda ingin berpuasa, maka anda berpuasa pada hari tersebut (hari jemaah haji berwuquf) dan sekiranya anda berpuasa satu hari sebelumnya, maka tiada salahnya dan seandainya anda berpuasa kesembilan-sembilan hari awal bulan Dzulhijjah maka ia juga baik, sebab ia adalah hari-hari yang mulia yang mustahab/digalakkan puasa padanya (sembilan hari tersebut), berdasarkan sabda baginda:

"ما من أيام العمل الصالح فيهن خير وأحب إلى الله من هذه الأيام العشر" قيل: يا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: "ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، ثم لم يرجع من ذلك بشيء"


“Tiada hari-hari lain yang mana amalan salih itu lebih baik padanya dan lebih dicintai Allah daripada kesepuluh hari-hari ini. Ditanyakan: Wahai Rasulullah walaupun Jihad pada Jalan Allah? Jawab baginda: walaupun Jihad fie Sabilillaah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa raganya dan hartanya dan tidak pulang dengan sesuatu apapun (mati syahied)”. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy.

Allah jua yang Mengurnia Petunjuk dan selawat serta salam ke atas Nabi kita Muhammad dan ahli keluarga dan pengikut baginda serta para Sahabat.

Dinukilkan daripada: Fatwa-fatwa al-Lajnah ad-Da-imah (no: 4052).
Sumber: http://www.alifta.net
Read On 0 comments

Puasa Arafah Mengikut Imam


Bismillah was solaatu was salaamu a'la Rasulillah,

Dibawah adalah komentar ana berkaitan artikel Ustaz Abul Jauza' hafidzahullah Ta'aala berkaitan Puasa Arafah dan Hari Raya Adha mengikut Mekah.Komentar ana berwarna BIRU. Semoga bermanfaat dengan izin Allah.

Bilakah Puasa Arafah?
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

“Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang”.( HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah)

- An-Nawawiy rahimahullah berkata : “Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang’ ; maknanya adalah menghapuskan dosa-dosa bagi orang yang berpuasa pada hari itu selama dua tahun. Mereka (para ulama) berkata : Maksudnya adalah menghapus dosa-dosa kecil” [Syarh Shahih Muslim, 8/50-51].


Puasa ‘Arafah Menurut Negeri Masing-Masing atau Menurut Saudi (tempat dilaksanakannya wukuf di Arafah) ?

Permasalahan ini menjadi khilaf (perbezaan pendapat) di kalangan ulama.

Jika yang dimaksudkan adalah khilaf dikalangan ulama kontemporari (mutakhireen ) maka benar. Tetapi jika dimaksudkan adalah khilaf dari ulama salaf (mutaqadimin) , maka ia perlu bukti. Siapakah Imam yang membeza2kan antara Hari Raya Puasa dan Hari Raya Haji dalam masalah ini?

Sebagian ulama memahami bahwa ibadah ini (dan juga ‘Iedul-Adlha)[1] tergantung pada sebab terlihatnya bulan Dzulhijjah, sebagaimana hal yang sama untuk permulaan Ramadlan dan Syawal. Sementara itu ulama lain berpendapat bahwa ibadah ini mengikuti ibadah haji di tanah Haram yang merupakan bentuk solidaritas (kesatuan) pada para hujjaj (mereka yang melaksanakan ibadah haji). Dan dalam hal ini, kami (penulis artikel ini) mengikuti tarjih ulama pada pendapat kedua.

Kesatuan umat kepada para hujjaj memang perkara yang mulia. Kita doakan mereka agar dimudahkan urusan mereka, mendapat haji mabrur. Bahkan syariat telah memberi kita peluang merebut pahala dalam hari2 dzil Hijjah, ia merupakan hari2 yg mulia, amalan solih padanya paling dicintai Allah. Bahkan ada ibadah yg menyerupai ibadah orang2 haji. Ini semua kami setuju. Tetapi untuk mengatakan bahawa ini cukup dijadikan alasan wajib mengikut ibadah haji ditanah Haram hanya dakwaan, ia memerlukan dalil jelas.

Wajib atau tidak adalah hukum syara' yang perlu kepada perintah atau perbuatan Nabi SAW yang menunjukkan ia diperintahkan kepada ummat, ia tidak boleh ditetapkan dengan falsafah2.

Syara' telah menetapkan anak bulan sebagai penentu musim haji, (( الحج أشهر معلومات )) Tidak boleh memasang ihram sebelum bulan haji, sebagaimana tidak boleh haji selepas bulan2 haji.

Dan bulan2 haji ditetapkan dengan rukyah hilal.
(( يسألونك عن أهلة قل هي مواقيت للناس و الحج )) 
(( Mereka bertanya kamu tentang anak2 bulan, katakanlah ia adalah tanda2 waktu untuk manusia dan untuk haji.))

Namun haji memiliki dua miqat, satu miqat zaman, satu lagi miqat tempat. Selain dari wajib pada hari2 tertentu, ia mesti juga ditempat2 tertentu, iaitu ditanah Haram diMekah. Adapun orang yang tidak buat haji tiada dalil bahawa mereka juga terikat dengan miqat2 ini. Oleh itu lebih2 lagi tiada dalil mereka terikat dengan perbuatan jemaah haji.

Selama ratusan tahun dalam sejarah, bahkan lebih seribu tahun, kita tidak bertemu seorang Imam mengatakan Ramadan dan Syawal bahkan bulan2 lain ikut rukyah dan ketentuan penguasa masing2, tetapi bila masuk Dzul Hijjah orang Islam seluruh dunia tidak perlu mencari2 rukyah. Tunggu sahaja khabar rukyah dari Mekah itu.

Hal itu didasari oleh beberapa alasan berikut :

1. Telah berlalu penjelasan bahwasannya puasa ‘Arafah disunnahkan hanya bagi mereka yang tidak melaksanakan wuquf di ‘Arafah. Ini mengandung pengertian bahwa puasa ‘Arafah ini terkait dengan pelaksanaan ibadah haji/wuquf. Jika para hujjaj telah wuquf, maka pada waktu itulah disyari’atkannya melaksanakan puasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak melaksanakan haji.

Jika puasa Arafah hanya untuk mereka yang tidak wuquf di Arafah, bukankah ia tiada kaitannya dengan orang yang wuquf? Lain jika puasa Arafah itu adalah ibadah untuk orang yang wuquf, bila mereka wuquf mereka puasa, Ini dalil yang boleh diterbalikkan atas penulis.

2. Dalam nash-nash tidak pernah disebutkan puasa di hari kesembilan, namun hanya disebutkan puasa ‘Arafah. Berbeda halnya dengan puasa ‘Aasyuura yang disebutkan tanggalnya secara spesifik.

Walaupun ia tidak disebutkan secara nas, sekadar penamaan bukan dalil ia bukan hari kesembilan.

 Bagaimana tidak sedang ijma' telah mengatakan bahawa hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Zulhijjah, Arafah jatuh pada tanggal 9 Zulhijjah, dan hari Eidul Adha pada tanggal 10, hari Tasyriq pada 3 hari selepasnya. Oleh kerana maklumnya tanggal hari Arafah dari zaman jahiliyyah, maka Syariat tidak perlu datang menerangkannya. Sedangkan maksud hadith2 ini adalah menerangkan sesuatu yang belum diketahui ummat, iaitu fadilat puasa pada hari tersebut.

Dalam Bahasa Arab tidak semestinya idofah ( sandaran ) hari itu pada tempatnya, ia juga boleh diidofahkan kepada masanya. Ia bukan bermaksud berpuasa diArafah, tetapi pada harinya Arafah. Ini kerana puasa tidak disyaratkan ditempat tertentu. Yang ada hubungan dengan hukum puasa adalah harinya bukan tempatnya. Berkata al-Khirasy dalam syarah al-Khaleel kitab mazhab Maliki :
 ولم يرد بعرفة موضع الوقوف بل أراد به زمنه وهو اليوم التاسع من ذي الحجة

(( Tidak dimaksudkan dengan Arafah, wukufnya, tetapi beliau maksudkan zamannya, iaitu hari kesembilan Zil Hijjah ))

3. Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

فطركم يوم تفطرون وأضحاكم يوم تضحون وعرفة يوم تعرفون

“Berbuka kalian adalah di hari kalian berbuka, penyembelihan kalian adalah di hari kalian menyembelih, dan ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/230 dan Al-Baihaqiy 5/176; shahih dari ‘Athaa’ secara mursal. Lihat Shahiihul-Jaami’ no. 4224].

Makna "penyembelihan kalian adalah hari kalian menyembelih dan ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah" adalah mengikuti dan menyesuaiakan pelaksanakaan hari menyembelih dan pelaksanaan wuquf orang-orang yang melaksanakan haji di Makkah.

Mengandaikan kesahihan hadith diatas : Seharusnya makna "hari kamu Arafah " seperti makna " hari kamu puasa Ramadhan " seperti makna " hari kamu Eidul Fitri " juga semakna " hari kamu menyembelih ". Ia disebutkan dlm satu nafas hadith. Jika makna hari kamu puasa Ramadhan ertinya bersama orang ramai dinegara kamu, bersama jemaah kamu yang ditentukan oleh Imam negara kamu, mengapakah dikhususkan Arafah kepada penduduk Mekah. Begitu juga untuk ibadah2 lain didalam hadith? Ini adalah tafreeq ( membeza2kan ) dengan tanpa dalil. Jika penulis ingin mentafsirkan " kamu " dengan ahli Mekah semua ibadah bersamanya mesti ditafsirkan begitu. Mungkin kerana penulis menterjemahkan kalimat (( تعرّفون )) dengan wukuf di Arafah. Ini benar jika kamu jemaah haji diArafah. Tetapi untuk orang luar Mekah, apakah mereka tiada Arafah mereka? Maka ta'reef mereka adalah pada hari 9 Zulhijjah. Ta'reef orang yang tidak haji adalah hari yang mereka kira sebagai hari Arafah mereka. Inilah tafsiran hadith ini yang disyarahkan ulama seperti dibawah nanti.

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

قَال أَصْحَابُنَا: وَليْسَ يَوْمُ الفِطْرِ أَوَّل شَوَّالٍ مُطْلقًا وَإِنَّمَا هُوَ اليَوْمُ الذِي يُفْطِرُ فِيهِ النَّاسُ بِدَليل الحَدِيثِ السَّابِقِ، وَكَذَلكَ يَوْمَ النَّحْرِ، وَكَذَا يَوْمَ عَرَفَةَ هُوَ اليَوْمُ الذِي يَظْهَرُ للنَّاسِ أَنَّهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، سَوَاءٌ كَانَ التَّاسِعَ أَوْ العَاشِرَ قَال الشَّافِعِيُّ فِي الأُمِّ عَقِبَ هَذَا الحَدِيثِ: فَبِهَذَا نَأْخُذُ

“Telah berkata shahabat-shahabat kami (fuqahaa’ Syafi’iyyah) : Tidaklah hari berbuka (‘Iedul-Fithri) itu (mempunyai pengertian) hari pertama bulan Syawal secara muthlaq. Ia adalah hari dimana orang-orang berbuka padanya dengan dalil hadits sebelumnya (yaitu : ‘Berbuka kalian di hari kalian berbuka’). Begitu pula dengan hari penyembelihan (Yaumun-Nahr/’Iedul-Adlhaa). Begitu pula dengan hari ‘Arafah, ia adalah hari yang nampak bagi orang-orang bahwasannya hari itu adalah hari ‘Arafah. Sama saja apakah itu hari kesembilan atau hari kesepuluh. Asy-Syaafi’iy berkata dalam Al-Umm saat berkomentar tentang hadits ini : Maka dengan inilah kami berpendapat…..” [Al-Majmu’’, 5/26].

Nukilan diatas benar tetapi bukan pada mahallun niza'nya. Tidak benar mengatakan bahawa mazhab Syafiey mengatakan ibadah2 ini mengikut ahli Mekah. Tiada disitu mengatakan bahawa wajib ikut Mekah, jelas bahawa maksud mereka adalah sebagaimana kami sebutkan diatas, hendaklah ibadah2 ini diisytiharkan oleh Imam dan diakui orang ramai. Dimanakah disebutkan ikut Mekah disini?

Kami merujuk nukilan ini dan kami dapati Imam Nawawy sedang membahaskan tentang hukum mereka yang mendapat khabar rukyah Syawal lewat, apakah ikut rukyah atau ikut hari Raya orang ramai yang hakikatnya telah salah?

Kita dapati ulama syafiey menyuruh mengikut ketentuan negeri mereka. Walaupun asalnya ikut rukyah, tetapi bila tersalah, yg dikira adalah yg zahir. Ini maksud mereka, iaitu bukan semestinya ikut tanggal 1 Ramadan, 1 Syawal dan seterusnya.

Berkata Imam Syafiey selepas itu :
" Kerana yang dibebankan atas manusia adalah yang zahir, tidak zahir eidul Fitri melainkan hari yang mereka Eidul Fitri. "
Kami harap kesilapan ini tidak disengajakan penulis. Dan sekali lagi nukilan ini boleh diterbalikkan keatas penulis.Hari Arafah yang zahir di S'pura bukan hari Arafah yang zahir Mekah.

Hari yang nampak sebagai hari ‘Arafah adalah hari ketika orang-orang yang melaksanakan ibdah haji wuquf di ‘Arafah.

Tidak mungkin pemahaman ini terlintas dibenak Imam Nawawy dan ulama2 mazhab Syafiey atau mana2 individu ketika itu, Apakah orang diSyam, Andalus " nampak " hari orang diMekah wuquf?

4. Husain bin Al-Harts Al-Jadaliy pernah berkata :

أن أمير مكة خطب ثم قال : عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننسك للرؤية فإن لم نره وشهد شاهدا عدل نسكنا بشهادتهما ....

“Bahwasannya amir kota Makkah pernah berkhutbah, lalu berkata : ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan kepada kami agar kami (mulai) menyembelih berdasarkan ru’yah. Jika kami tidak melihatnya, namun dua orang saksi ‘adil menyaksikan (hilal telah tampak), maka kami mulai menyembelih berdasarkan persaksian mereka berdua….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2338; shahih].

Atsar di atas menunjukkan ru’yah hilal yang dianggap/dipakai untuk melaksanakan ibadah penyembelihan (dan semua hal yang terkait dengan haji) adalah ru’yah hilal penduduk Makkah, bukan yang lain.

Dengan demikian, maka hadits tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu Amir Mekkah-lah yang menetapkan pelaksanaan manasik haji, mulai dari wuquf di ‘Arafah, Thawaf Ifadlah, bermalam di Muzdalifah, melempar Jumrah, dan seterusnya. Atau dengan kata lain, penguasa yang menguasai kota Mekkah saat ini berhak menentukan wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah), pelaksanaan penyembelihan hewan kurban (10 Dzulhijjah), dan rangkaian manasik haji lainnya.

Hal itu berarti negeri-negeri Islam lainnya harus mengikuti penetapan hari wukuf di Arafah, yaumun nahar (hari penyembelihan hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah) berdasarkan keputusan Amir Mekkah, atau penguasa yang saat ini mengelola kota Makkah.

Hadith tersebut juga dalil bahawa :

1) Orang Mekah juga mengikut rukyah, bahkan jika orang Mekah tidak lihat anak bulan, mereka mesti terima rukyah 2 saksi yg adil dari luar Mekah. Ini yang difahami dari kata2 " jika kami tidak melihatnya ", iaitu penduduk Mekah.


2) Semua ibadat yg disebutkan datas adalah manasik haji yang dikerjakan diMekah, kerana ruang kekuasaan Amir Mekah diMekah, orang luar Mekah mesti ikut kententuan Mekah jika mereka masuk Mekah. Tiada didalam hadith mengatakan bahawa jika mereka dinegeri masing2 mereka belakangkan amir mereka lalu mengikut keputusan Amir Mekah. Satu lagi dalil yang boleh diterbalikkan atas penulis.

Wallaahu a’lam.

Sumber: "Puasa 'Arafah" oleh Abu Al-Jauzaa' (19 November 2009)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

[1] Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

أن الذبح بالمشاعر أصل، وبقية الأمصار تبع لمكة، ولهذا كان عيد النحر العيد الأكبر، ويوم النحر يوم الحج الأكبر.....‏

“Sesungguhnya menyembelih di masyaair adalah pokok, dan penyembelihan di tempat lain adalah mengikuti Makkah. Oleh karena itu hari raya penyembelihan (‘Iedul-Adlhaa) adalah hari raya yang besar. Hari penyembelihan adalah hari haji akbar…..” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 24/227].

Merujuk kepada awal kata2 Ibnu Taimiyah rhm ini , kita dapati bahawa beliau sedang membahaskan ayat al-Quran dalam surah al-Haj :
(( .. supaya mereka menyaksikan manfaat mereka dan mereka berzikir menyebut nama Allah dihari2 yang diketahui atas haiwan ternakan ( al-An'am ) yang diberikan sebagai rezeki untuk mereka .. ))

Masalahnya kata Ibnu Taimiyah adalah : Mengapakah dikhususkan zikrullah ditanah haram pada hari2 haji dalam ayat ini? Bukankah adanya zikrullah itu diseluruh dunia?

Beliau berkata : " Ia dapat dijawab dengan dua jawaban :

Pertama: seperti yang dinukil penulis diatas bahawa asal adalah sembelihan di tanah haram.
Kedua : zikrullah dikhususkan ditanah haram kerana disitu ada dua jenis sembelihan; korban dan Hadyu ( sembelihan manasik ), adapun ditempat lain hanya zikrullahnya untuk korban sahaja.

Asal dan mengikut disini tidak bermakna yang ia berlaku dari sudut masa dan tempat. Bukan makna selepas orang haji sembelih baru orang luar boleh sembelih. Ia bermakna hukum dan syiar yang utama dan asal adalah untuk ibadah haji diMekah. Ini adalah maksud pertama pensyariatan penyembelihan, kerana ia adalah syiar haji. Kemudian disyariatkan juga untuk seluruh dunia turut serta dalam ibadah yang mulia ini. (( تبع )) dalam konteks ini bukan bererti ikut daripada sudut masa, tetapi dari sudut ikut serta dalam Dalilnya, jika tiada orang buat haji, tidak bermakna orang diluar tidak disyariatkan sembelih korban. Harap ambil perhatian bahawa ayat diatas berkaitan dengan Nabi Ibrahim a.s.

Haji hanya disyariatkan pada tahun 8 Hijrah dimana Rasulullah SAW memerintahkan Abu Bakar memimpin rombongan Haji Islam pertama. Kemudian pada tahun berikutnya baru Rasulullah SAW mengerjakan haji. Tetapi bilakah disyariatkan sembelih korban?

Kita tentu maklum bahawa Rasulullah SAW telah mula mensyariatkan dua hari raya Islam tibanya baginda di Madinah iaitu 1 Hijrah. Jika orang2 seluruh dunia wajib mengikut ibadah haji dlm berkorban, siapakah yang buat haji dari 1 hingga 8 Hijrah?

Sebenarnya penulis tidak seharusnya memasukkan Ibnu Taimiyah rhm seolah2 berpendapat seperti beliau. Telah jelas didalam fatwa2 Ibnu Taimiyah rhm berpendapat hendaklah puasa Arafah mengikut imam dinegeri sendiri. [ Majmu' Fatawa : 25/ 203 ]

عن أهل مدينة رأى بعضهم هلال ذي الحجة، ولم يثبت عند حاكم المدينة: فهل لهم أن يصوموا اليوم الذي في الظاهر التاسع. وان كان في
الباطن العاشر؟
Beliau telah ditanya tentang ahli sebuah kota dimana sebahagian mereka telah melihat anak bulan Zulhijjah, tetapi tidak disabitkan oleh Hakim kota tersebut. Apakah mereka boleh puasa pada hari yang nampak dikalangan orang ramai adalah yang kesembilan ( Arafah ) sedangkan sebenarnya ia hari kesepuluh?

فأجاب: نعم. يصومون التاسع في الظاهر المعروف عند الجماعة، وان كان في نفس الأمر يكون عاشراً، ولو قدر ثبوت تلك الرؤية. فإن في السنن عن أبي هريرة - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - إنه قال: "صومكم يوم تصومون وفطركم يوم تفطرون واضحاكم يوم تضحون" [أخرجه أبو داود وابن ماجه والترمذي وصححه

Beliau menjawab : Ya, mereka puasa hari sembilan yang zahir yang diketahui orang ramai, walaupun sebenarnya ia hari sepuluh, walaupun diandaikan sabit rukyah, kerana didalam Sunan dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW beliau bersabda : (( Hari puasa kamu hari kamu ( beramai2 ) berpuasa, hari Eidul Fitri kamu hari kamu ( beramai2 ) Eidul Fitri, dan hari Eidul Adha kamu adalah hari kamu Eidul Adha. ))[ Abu Daud , ibnu Majah, Tirmidzy dan dia mensahihkannya ]


Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :

ويكون تعجيل صلاة الأضحى بمقدار وصول الناس من المزدلفة إلى منى ورميهم وذبحهم -نص عليه أحمد في رواية حنبل- ؛ ليكون أهل الأمصار تبعاً للحاج في ذَلِكَ ؛ فإن رمي الحاج الجمرة بمنزلة صلاة العيد لأهل الأمصار

“Dan pelaksanaan shalat ‘Iedul-Adlhaa disesuaikan dengan sampainya orang-orang (yang melaksanakan ibadah haji) dari Muzdalifah menuju Mina, melempar jumrah mereka, dan penyembelihan mereka – hal ini dinyatakan oleh Ahmad dalam riwayat Hanbal - . Dan orang-orang yang ada di tempat lain, hendaknya mengikuti orang-orang yang berhaji dalam hal tersebut. Sesungguhnya waktu pelemparan jumrah oleh orang-orang yang melaksanakan haji di Muzdalifah, maka waktu itu adalah waktu pelaksanaan shalat ‘Ied bagi orang-orang yang ada di tempat lain” [Fathul-Baariy].

Nukilan dari Imam Ahmad ini sekali lagi bukan dalam mahallun niza'. Kita membicarakan puasa Arafah, nukilan diatas berkaitan waktu solat Eidul Adha. Masalah yang dibahaskan oleh Ibnu Rejab adalah berkaitan hukum mencepatkan ( تعجيل ) solat Adha. Ini setelah mereka sepakat bahawa sunnahnya adalah dilambatkan solat Eidul Fitri dan dicepatkan Eidul Adha. Tetapi berapa cepat ?

Didalam al-Mugny Ibn Qudamah, beliau menukilkan bahawa ia kadar orang ramai sempat lakukan korban. Beliau berkata , ini mazhab Imam Syafiey dan aku tidak tahu ada khilaf dalam masalah ini. [Mughny : 4/267 ]

Apa yang disebutkan dari Imam Ahmad adalah ijtihad dan istihsan beliau sebagai usaha menetapkan kadar " cepat " itu. Ia bukan berdasarkan dalil sunnah. Beliau tidak pula menjadikannya satu syarat, bahawa mesti dengan kadar waktu tersebut, sehingga boleh penulis jadikan dalil bahawa ibadah di E'idul Adha dan sebelumnya Puasa Arafah tidak boleh dilakukan sebelum orang Haji. Demikianlah kata2 ulama " تبع للحاج " mengikut orang Haji iaitu kadar anggaran waktunya. Tidak mungkin orang diMadinah contohnya dapat mengetahui bilakah jemaah haji mula melontar jamrah! Jangan kata mereka yang berlainan negeri, dalam satu negeri besar sahaja kita tidak tahu apakah Imam negara kita telah solat dan sembelih atau tidak!

Sesuatu yang menarik yang perlu dijawab oleh mereka yang pro mengikut Mekah, telah kami terangkan bahawa mereka tiada Imam salaf sebagai ikutan dan tiada pula dalil yang jelas. Bahkan terdapat dalil yang jelas bahawa Rasulullah SAW sendiri tidak mengikut rukyah Mekah.

Kita hanya perlu satu dalil yang sohih bahawa Rasulullah SAW pernah mencari2 maklumat bilakah jemaah Haji wukuf di Arafah, bilakah mereka solat Hari Raya dan sembelih korban. dan ini amat mampu mereka lakukan, 8 hari adalah masa yg cukup untuk perjalanan dari Mekah ke Madinah. Jika tiada dalil dan tidak akan ada, ia menunjukkan bahawa tidak diwajibkan mengikut Mekah. Ini adalah yakin, adapun selain itu masih samar2, sekalipun diandaikan ini masalah khilaf, pendapat yang rajih jelas.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Tambahan: Adapun fatwa Shaikh al 'Utsaimin rahimahullah di dalam "Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin", di mana beliau mentarjiehkan pendapat pertama - "Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya
masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)", perlu difahami bahawa fatwa tersebut mensyaratkan daerah tersebut menetapkan tarikh dengan ru'yah al-hilal, maka kurang sesuai di-applikasikannya untuk konteks Singapura.

Apapun yang dtarjihkan disini hanya boleh diamalkan jika ia tidak mengakibatkan keburukan yang lebih besar. Sebab itu Masyaikh kita telah mengingatkan bahawa hendaklah setiap orang mengikut keputusan negeri masing2. Secara theory memang masing2 boleh tarjih, tetapi hatta seorang alim mesti mengikut keputusan hakim. Ulama telah ijma' bahawa urusan ibadah2 jama'ey ini diserahkan kepada penguasa, mereka sepakat bahawa hukum Hakim mengangkat khilaf.

Persoalan Hakim tidak mengikut sunnah, bahkkan ikut hawa nafsu tidak boleh dijadikan alasan bersalahan dengan mereka. Mereka mengatakan tambahan rakaat di Mina adalah menyalahi sunnah tetapi mereka mengikut imam, mereka mengatakan qunut subuh berterusan bida'h tetapi mereka ikut, bahkan Ibnu Taimiyah telah secara spesifik menyebutkan :
. فإن قيل قد يكون الإمام الذي فوض إليه إثبات الهلال مقصراً، لرده شهادة العدولً إما لتقصيره في البحث عن عدالتهم. وإما رد شهادتهم لعداوة بينه وبينهم، أو غير ذلك من الأسباب، التي ليست بشرعية، أو لاعتماده على قول المنجم الذي زعم انه لا يرى.
(( Maka jika dikatakan mungkin imam yang diserahkan urusan menetapkan rukyah telah berlaku cuai, kerana dia menolak saksi yang dipercayai; samada dia lengah memastikan a'dalah mereka, atau dia menolak kesaksian mereka kerana ada permusuhan antara Hakim dan saksi2, atau kerana sebab2 lain yang tidak syari'ey, atau kerana dia berpegang dengan kata2 ahli falak yang mendakwa anak bulan tidak dapat dilihat...))

Siapa yang membaca nukilan Ibn Taimiyah diatas tidak dapat menafikan kefahaman beliau tentang pentingnya mengikut Imam kerana memelihara maksud syariat bersatu bersama pemimpin. Inilah manhaj ahlu sunnah wal jamaah. Bagaimanakah kita mengajak bersoldaritas bersama hujjaj tetapi berlawanan dengan imam dan jamaah muslimin dinegara sendiri!

Beliau telah mendatangkan dalil salafiahnya
: وقد ثبت في الصحيح إن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - قال في الأئمة: "يصلون لكم، فإن أصابوا فلكم ولهم، وإن أخطأوا فلكم وعليهم". فخطؤه وتفريطه عليه، لا على المسلمين الذين لم يفرطوا، ولم يخطئوا.
Telah sabit didalam hadith sohih bahawa Nabi SAW telah bersabda tentang imam2 : " Mereka solat untuk kamu, jika mereka betul maka bagi kamu dan bagi mereka (pahalanya), jika mereka salah, bagi kamu (pahalanya) dan atas mereka kesalahan mereka." Maka kesalahan dan kecuaian mereka atas mereka, bukan atas orang2 Islam yang tidak cuai dan tidak salah. [ Majmu' Fatawi : 25/206]

Ini adalah nas fatwa yang benar2 bertepatan dengan mahallun niza' kita ini.

Lihat pula kata2 Syaikh Albany rhm :
" ... ونرى أن من الواجب على الحكومات الإسلامية أن يوحدوا يوم صيامهم و يوم فطرهم ، كما يوحدون يوم حجهم ، و لريثما يتفقون على ذلك ، فلا نرى لشعوبهم أن يتفرقوا بينهم ، فبعضهم يصوم مع دولته ، و بعضهم مع الدولة الأخرى ، و ذلك من باب درء المفسدة الكبرى بالمفسدة الصغرى كما هو مقرر في علم الأصول.. " اهـ

(( Kami berpendapat bahawa wajib bagi pemerintah2 Islam menyatukan hari puasa dan hari Eidul Fitri sebagaimana mereka menyatukan hari haji mereka, selagimana mereka belum bersepakat atas yang demikian, kami tidak membolehkan rakyat berpecah belah diantara mereka, maka ada yang puasa bersama negaranya, ada pula yang bersama negara lain, dan yang demikian dari sudut menolak keburukan yang lebih besar dengan melakukan keburukan yang lebih kecil, sebagaimana yang ditetapi dalam ilmu usul. )) [ Silsilah Sohihah : hadith no2624 – 6/254 ]

Mahkamah Tertinggi Saudi telah menetapkan tarikh wuquf di 'Arafah pada hari Isnin, 15 November. Maka, mengikut pendapat kedua yang telah ditarjiehkan di atas, umat Islam Singapura digalakkan untuk berpuasa 'Arafah pada hari Isnin.

Telah kita katakan , mentarjih satu hal, mengamalkan tarjih kita satu hal lain. Ini bukan ibadah individu, amalan kita tidak boleh bersalahan dengan usul ahlus sunnah yang lain. Ini adalah satu tarjih yang tidak mengendahkan hukum Hakim. Jika ini dibolehkan dalam masalah ini, tidak mustahil akan keluar pendapat yang membolehkan puasa Ramadan dan solat hari raya sendirian, korban sendirian. Hujjahnya sama sahaja, majlis agama Islam tidak ikut sunnah, buat bid'ah, tidak boleh taat dalam maksiat...


Hendaklah kita bersabar dalam mentaati penguasa, kita terus-menerus menasihati mereka, Rasulullah SAW telah bersabda, :

(( Kamu akan mendapati pada mereka ketidak adilan, maka bersabarlah hingga kamu bertemu aku ditelagaku )).
Wallaahu a’lam.
Read On 0 comments

Search IslamIQ.sg

Loading...
Subscribe to us:


Unique Visitors:

Ustaz Murad Said