Islamiq.sg

Memahami Tabarruk (Mengambil Barakah)


Tabarruk adalah amalan mencari barakah melalui perantaraan sesuatu. Barakah sendiri artinya tetapnya kebaikan pada sesuatu [Al-Mufradaat, hal. 44].

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam amalan tabarruk ini, yaitu :

1.     Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah ta’ala. 



Oleh karena itu, tidaklah kita memohon barakah kecuali pada Allah ta’ala saja. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :
قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 
“Katakanlah : "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. Ali-‘Imran : 26].
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا نَعُدُّ الْآيَاتِ بَرَكَةً وَأَنْتُمْ تَعُدُّونَهَا تَخْوِيفًا، كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَقَلَّ الْمَاءُ، فَقَالَ: " اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ فَجَاءُوا بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ قَلِيلٌ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ " 
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairiy : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah, ia berkata : “Kami dulu menganggap ayat-ayat Allah sebagai satu barakah, sedangkan kalian menganggapnya sebagai satu hal yang menakutkan. Dulu kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, dan waktu itu kami mengalami defisit air. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Carilah kelebihan air’. Para shahabat datang dengan sebuah bejana yang berisi sedikit air. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu bersabda : ‘Kemarilah menuju air yang suci dan diberkahi. Dan barakah itu berasal dari Allah’. Sungguh, aku melihat air memancar di antara jari-jari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan sungguh kami mendengar tasbihnya makanan ketika dimakan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3579].
Dikarenakan barakah hanyalah berasal dari Allah ta’ala, maka memohon barakah kepada selain-Nya adalah perbuatan syirik, dan itu termasuk dosa besar.


2.     Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang disyari’atkan 

Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang disyari’atkan diperbolehkan digunakan mencari barakah, tidak lain itu semua hanyalah sarana saja. Ia bukanlah yang memberikan barakah. Sama seperti obat. Ia hanyalah merupakan sarana penyembuh saja, dan yang menyembuhkan pada hakikatnya adalah Allah ta’ala. Hal itu sebagaiamana diterangkan dalam salah satu doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk orang sakit.
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ الْأَعْمَشِ، عَنْ مُسْلِمٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ بَعْضَهُمْ يَمْسَحُهُ بِيَمِينِهِ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا " 
Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Sufyaan, dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruuq, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa meminta perlindungan untuk sebagian keluarganya, lalu mengusapkan tangan kanan beliau dan berdoa : ‘Hilangkanlah kesengsaraan, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah karena Engkaulah Dzat yang bisa menyembuhkan. Tidak ada penyembuh melainkan Engkau. Suatu penyembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5750].

Adapun beberapa hadits seperti :
إِنَّ فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا السَّامَ 
“Sesungguhnya dalam habbatus-saudaa’ itu terdapat penyembuh bagi seluruh penyakit, kecuali as-saam (kematian)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5688, Muslim no. 2215,  At-Tirmidziy no. 2041, Ibnu Maajah no. 3447, dan yang lainnya]

Maka harus dipahami bahwa al-habbatus-saudaa’ hanyalah sarana saja. Ia dapat menyembuhkan sesuai dengan izin Allah. Ketika berobat dengan al-habbatus-saudaa’, maka kita pun harus memohon kesembuhan pada Allah.

Begitu pula,…. ketika ada penisbatan barakah pada seseorang, maka ia bukanlah sebagai hakekat pemberi barakah. Hal ini sebagaimana perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang Juwairiyyah radliyallaahu ‘anhaa :
فَمَا رَأَيْنَا امْرَأَةً كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً عَلَى قَوْمِهَا مِنْهَا 
“Tidaklah kami pernah melihat melihat seorang wanita yang lebih besar barakahnya bagi kaumnya daripada Juwairiyyah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3931, Ahmad 6/277, Ibnu Hibbaan no. 4054-4055, dan yang lainnya; hasan].

Juwairiyyah bukanlah orang yang memberi barakah, melainkan hanyalah sebagai sebab keberadaan barakah saja. Hal itu diketahui ketika para shahabat mengetahui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyyah, maka mereka saling berlomba dalam memerdekakan tawanan wanita dari kaumnya, yaitu Bani Musthaliq. Dengan pernikahan tersebut, Bani Musthaliq menjadi besan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak kurang seratus orang dari kaumnya dimerdekakan oleh para shahabat. Hal itu sebagaimana ada dalam kelanjutan riwayat :
أُعْتِقَ فِي سَبَبِهَا مِائَةُ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ بَنِي الْمُصْطَلِقِ  
“Telah dibebaskan seratus orang tawanan keluarga Bani Al-Mushthaliq dengan sebab dirinya”.

Ini adalah barakah yang sangat besar dari Allah ta’ala yang penyebabnya tidak lain adalah Juwairiyyah bin Al-Harits radliyallaahu ‘anhaa.


3.     Mencari barakah pada sesuatu adalah dengan sesuatu yang padanya memang terdapat barakah, dan ini menuntut penunjukkan pada nash/dalil, bukan pada perasaan dan prasangka semata.

Akal sehat tentu tidak akan menerima jika seseorang mencari keberkahan dari seekor kerbau kiyai Slamet yang dilepas setiap tanggal 1 Suro sebagaimana banyak diperbuat oleh masyarakat Solo – semoga Allah ta’ala memberikan petunjuk kepada kita dan mereka.

Selain itu, seseorang yang mencari barakah pada sesuatu yang pada asalnya (sesuai nash/dalil) mempunyai barakah, maka harus dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syari’at. Misalnya, dalam hadits dikatakan bahwa makan sahur itu terdapat barakah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً 
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1923, Muslim no. 1095, At-Tirmidziy no. 708, An-Nasaa’iy no. 2146, dan yang lainnya].

Barakah makan sahur hanya akan kita dapatkan bila kita memakan makanan yang baik lagi halal. Sebaliknya, barakah tidak akan kita dapatkan jika kita makan atau minum yang diharamkan oleh Allah ta’ala (misalnya : makan daging babi, minum khamr, dan merokok).

Sumber: "Tabarruk dengan Mengusap dan Mencium Kubur Nabi" oleh Ustadz Abul Jauzaa' hafidzahullah (http://abul-jauzaa.blogspot.com)

Read On 0 comments

Benarkah Imam Syafiey Menukar Fatwa Untuk Kesesuaian Orang Ramai ?


Terdapat dua perkara utama disini :

1) Perubahan fatwa
2) Sebab perubahan fatwa

Adapun perubahan fatwa maka benar, Imam Syafiey rahimahullah telah mengubah banyak fatwanya. Pada mulanya beliau menetap di Iraq dan mengajar disana. Fatwa2nya di Iraq direkodkan oleh murid2nya. Bahkan beliau sendiri telah menulis beberapa buah kitab disana. Kemudian beliau telah berpindah keMesir, dan dalam perjalanannya beliau telah ke Mekah. Di Mekah beliau telah bertemu dengan ulama2nya dan perawi2 hadith hingga kemudian beliau menarik balik banyak fatwa2nya yang dikenali sekarang sebagai Mazhab Baru ( المذهب الجديد ) . Ketika itu tidak dikenal hal ini sebagai mazhab Iraq atau mazhab Mesir.

Tentang sebab perubahan fatwa, terdapat dakwaan disana sini lebih2 lagi dikalangan mereka2 yang terpengaruh dengan manhaj memudahkan agama ( منهج التيسير ) bahawa Imam Syafiey telah mengubah fatwa kerana menyesuaikan hukum dan fatwanya dengan keadaan orang2 diMesir. Maka fatwa2 di Iraq sesuai dengan orang2 diIraq, fatwa2 di Mesir kerana sesuai dengan orang2 di Mesir. Apakah benar dakwaan ini?

Menurut tahqeeq inilah yang diperolehi :

1) Imam Syafi'ey telah memerintahkan agar tidak diriwayatkan lagi kitab2nya di Iraq. Beliau berkata menurut riwayat Imam Zarkasy :
(( ليس في حلٍّ من روى عني القديم )) 
"Tidak aku halalkan orang yang ( masih ) meriwayatkan mazhab lama dariku ". [ al-Bahrul Muhit : 4/584 ].
Jika sebab perubahan fatwa adalah perubahan tempat, mengapa disuruh padam fatwa2 lama.? Biarkan sahaja fatwa2 Iraq khusus untuk di Iraq.

2) Murid2 Imam Syafiey di Iraq tidak mengeluarkan fatwa Imam mereka dengan fatwa2 Iraq, tetapi dengan fatwa2 baru di Mesir.

3) Tidak seorangpun dikalangan ulama2 mahzab Syafiey yang menjadikan sebab perubahan fatwa kerana berbeza tempat. Mereka seperti Imam Nawawy tentu lebih mengetahui tentang mazhab mereka. Jika ada ulama Syafieyah yang memilih pendapat Imam Syafiey yang lama, mereka tidak menisbahkannya kepada Imam mereka, tetapi kerana pada mereka ia lebih kuat dalilnya.

4) Ulama2 besar mazhab Syafiey telah berkata secara jelas bahawa tidak boleh mentaqlid Imam Syafiey pada mazhab qadeemnya walaupun seorang itu dari Iraq.

5) Kitab induk yang dikarang Imam Syafiey diMesir adalah kitab 'al-Umm'. Tetapi semua ulama mazhab beliau membolehkan pengikut mazhab Syafiey diseluruh dunia menggunakannya. Berkata Imam Nawawy rhm:
(( ليس للمفتي ولا للعامي المنتسب إلى مذهب الشافعي رحمه الله في مسألةِ القولين أو الوجهين أن يعمل بما شاء منهما بغير نظر بل عليه في القولين العمل بآخرهما )) 
" Tidak boleh bagi seorang mufti atau awam yang bermazhab Syafiey rahimahullah beramal dengan mana2 yang dia kehendaki jika terdapat dua pendapat atau wajah dengan tanpa nazhor, bahkan wajib dia beramal dengan qaul yang terakhir " [ Majmu' : 1/68 ]

Beliau tidak membeza2kan samada dia orang Iraq atau bukan.

Sebenarnya tujuan dakwaan ini adalah me'liberal'kan agama, boleh sahaja diubah hukum Allah dan RasulNya walaupun bertolak belakang dengan dalil yang jelas, yang penting maslahat, keadaan telah berubah, tempat berubah, hukum fiqh tidak boleh jumud, mesti hidup dan dinamik. Jangan hanya tumpukan kepada fiqh textual, lihat 'instrument' fiqh yang lain, agama ini mudah, yang susah dinafikan dari syariat, lihat Imam Syafiey ...

Jika ada orang yang tergoda dengan kata2 lunak dan ' intelek ' ini, sebenarnya mereka jahil bahawa fatwa2 Imam Syafiey di Mesir dibina atas Usul Fiqh yang lebih keras dari yang di Iraq. Di Iraq usul beliau lebih memudahkan, adapun usul di Mesir tidak mengambil kira Masalih Mursalah, U'rf adat kebiasaan, tetapi yang diambil adalah berpegang kepada zahir nas dan berhati2 ( الاحتياط ).



Maka apakah sebab perubahan fatwa Imam Syafiey ?

Jawabannya ada didalam kata2 murid beliau yang sendiri kemudian menjadi Imam Mujtahid, Imam Ahmad bin Hanbal rhm. Beliau ditanya tentang kitab yang di Iraq lebih disukai beliau atau kitab2 di Mesir? Beliau menjawab :

عليك بالكتب التي وضعها بمصر، فإنه وضع هذه الكتب بالعراق ولم يحكمها، ثم رجع إلى مصر فأحكم ذلك 
" Hendaklah engkau dengan kitab2 yang ditulis di Mesir, kerana kitab2 yang di Iraq ini beliau tulis tetapi belum ditekuni, kemudian bila beliau kembali ke Mesir beliau telah menekuni dan memperkemaskannya. " - مناقب الإمام الشافعي للبيهقي 1/263

Jika sebabnya adalah meraikan orang Mesir tentu telah beliau sebutkan. Imam Ahmad adalah orang Iraq. Jadi sebabnya adalah penelitian usul ijtihad " ihkam " dan penekunan dalil bukan ikut selera tempat dan manusia. Inilah yang layak bagi seorang Imam yang digelar sebagai ' Naasir as-Sunnah ', Pejuang memenangkan as-Sunnah.

Yang demikian juga tidak bermakna seorang faqih tidak boleh mengubah fatwanya kerana perubahan tempat dan masa, namun ini dalam masalah tertentu sahaja, dengan syarat2 tertentu , iaitu masalah2 yang berdasarkan u'rf, maslahat dan mengangkat kesusahan ( رفع الحرج ) . Adapun masalah2 yang berdasarkan dalil2 syariey yang sohih, ia tidak berubah dan kekal lagi sesuai untuk semua tempat dan masa.

Wallahu a'lam

Sumber: "Benarkah Imam Syafiey tukar fatwa untuk kesesuaian orang ramai" oleh Ustaz Murad Said (www.fawaaid.sg)
Read On 0 comments

Pengaruh Zaman Terhadap Fatwa


Pertanyaan:

Ada fenomena yang telah memasyarakat, yang mana sebagian orang memahami bahwa sebagian perkara yang dulu diharamkan seperti radio, kini menjadi halal. Mereka mengatakan, bahwa berubahnya zaman atau tempat mempengaruhi fatwa. Kami mohon perkenan Syaikh yang mulia untuk menjelaskan kebenaran dalam hal ini. Dan bagaimana membantah orang yang mengatakan seperti itu? Semoga Allah memberi Anda kebaikan.


Jawaban (Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah):

Sebenarnya, fatwa tidak berubah dengan berubahnya zaman, tempat ataupun individu, akan tetapi, hukum syariat itu bila terkait dengan alasan, jika alasannya ada maka hukumnya berlaku, jika alasannya tidak ada maka hukumnya pun tidak berlaku.

Adakalanya seorang pemberi fatwa melarang seseorang terhadap sesuatu yang dihalalkan Allah karena sesuatu itu menyebabkan manusia melakukan yang haram, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Umar dalam masalah talak tiga, yaitu ketika ia melihat orang-orang menyepelekannya sehingga ia memberlakukannya. Sebelumnya, pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada masa Abu Bakar dan pada dua tahun pertama masa kekhilafan Umar, talak tiga dianggap satu, lalu karena Umar melihat orang-orang banyak menyepelekannya maka ia melarang mereka yang melakukan itu untuk rujuk kepada isteri-isterinya.

Demikian juga tentang hukuman peminum khamr, sebelumnya pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pada masa Abu Bakar, hukumannya tidak lebih dari 40 kali cambukan, tapi karena orang-orang masih banyak yang suka minum khamr, maka Umar bermusyawarah dengan para sahabat, yang hasilnya menetapkan hukumannya menjadi 80 kali cambukan.

Jadi, hukum-hukum syariat itu tidak mungkin dipermainkan manusia, jika mau mereka mengharamkan dan jika mau mereka halalkan, tapi hukum-hukum syariat itu harus berdasarkan pada alasan-alasan syar’iyyah yang bisa menetapkan atau meniadakan.

Adapun tentang radio, tidak ada seorang pun yang mengharamkannya dari kalangan ulama. Sedangkan yang mengharamkannya hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui hakikatnya. Adapun para ulama –terutama Abdurrahman bin Sa’di- tidak memandangnya sebagai hal yang haram, bahkan mereka memandang bahwa radio itu termasuk hal-hal yang diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia, terkadang bermanfaat dan terkadang pula merusak, tergantung isinya.

Demikian juga pengeras suara (loudspeaker), pada awal kemunculannya diingkari oleh sebagian orang, tapi itu karena tanpa penelitian. Sedangkan para peneliti tidak mengingkarinya, bahkan mereka memandang bahwa pengeras suara itu termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memudahkan mereka dalam menyampaikan khutbah dan wejangan kepada yang jauh.

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq Cetakan: VI 2010 (dinukil dari  www.KonsultasiSyariah.com)

Read On 0 comments

Who are the Ulama' as-Su'?


Question:

There are many innovations among the Muslim community. Why do scholars not condemn them? Secondly, who are the AI- 'Ulama' -As-Su'?

S. Sadiq, Jhelum, Pakistan


Answer:

In every phase of history, there have been two types of Ulama (religious scholars and priests) - good and bad. The 'good' are those who deeply understand the religion, practice accordingly and convey their knowledge and practice to others. They strive in the cause of Islam regardless of the difficulties faced.

A 'bad' scholar is one who either doesn't fully understand Islam or if they do, then they don't practise according to the teachings of Islam. Even worse, they try to mislead people telling them what they wish to listen to, whether right or wrong. These type of Ulama (scholars) are a danger to Islam and the society because when people depend on them and trust them, they tend to mislead them for personal material benefits. We find such scholars/priests in every religion, not only Islam. The level of trust that people have, according to Surat At-Taubah is:
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ 
"They take their priests and their anchorites to be their Lords, besides Allah." (9:31)

A great companion, Adee bin Hatim (a convert from Christianity), upon hearing this verse, came to the Prophet (صلى الله عليه وسلم) saying that the followers do not believe in them as Lord. The Prophet (صلى الله عليه وسلم) told him:

"Though they don't directly admit this, their indirect belief is so. When priests say something the people blindly follow, whether lawful or unlawful."

In Surat At-Taubah it says:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيراً مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ 
"O you who believe. There are indeed many among the priests and anchorites, who in falsehood, devour the wealth of men and hinder them from the way of Allah…." (9:34)

There are no priests who directly stop people from doing good, religious deeds and practices, but indirectly, they have great emphasis in making one do so. The Prophet (صلى الله عليه وسلم) said:
"The best among you are scholars and priests. And the worst among you are scholars and priests."

So these are Al'Ulama'-As-Su' who instead of stopping people from Bid'ah (innovation) and wrong deeds, encourage them even more.


Country Of Origin : Saudi Arabia
State : Riyadh
Author/Scholar : The Late Maulana Mahmood Ahmed Mirpuri [1]

Source: INFAD Fatawa Management, Islamic Science University of Malaysia

______________________________________

[1] Maulana Mahmood Ahmed Mirpuri rahimahulah was one of the early graduates of Al-Madina University and a prominent and renowned student of Sheikh Abdul Aziz bin Baaz and Sheikh Mohammad Nasiruddin al-Albani.


Read On 0 comments

Berjabat Tangan Dengan Bukan Mahram - Syubhat dan Bantahannya


Syubhat 1 :

Sabda Nabi :
إني لا أصافح النساء 
Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram.). (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Hal ini tidaklah memberikan pengertian larangan mutlak atas hukum jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, karena ia diucapkan berkenaan dengan baiat sahaja.

Jawapan 1:

Ini adalah persangkaan yang lemah, kerana kaedah para ulama menyatakan, bahwa “sebab yang khusus (suatu dalil) tidak diambil kira, selama lafadznya bersifat umum”, dan inilah keadaan sabda Nabi di atas, maka pengharaman jabat tangan dengan wanita (bukan mahram) berlaku secara mutlak.

Bahkan dalil-dalil yang melarang jabat tangan ketika baiat memberikan pengertian lain yang lebih kuat, iaitu :
Kalau sahaja ketika baiat, beliau tidak menjabat tangan kaum wanita padahal secara asal, baiat itu dengan tangan dan berjabat tangan, maka jabat tangan dengan wanita di luar (baiat) itu lebih wajar untuk dilarang. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal:36)


Syubhat 2 :

Jabat tangan dengan wanita bukan mahram sekarang ini telah menjadi sesuatu yang darurat, kerana adat ini begitu tersebar luas di masyarakat..

Jawapan 2 :

Tersebarluasnya jabat tangan dengan wanita bukan mahram, bukan keadaan darurat sebagaimana sangkaan sebahagian orang. Kerana kebiasaan masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk merubah hukum yang telah tetap berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Hukum yang boleh diubah oleh kebiasaan masyarakat adalah hukum yang dasarnya adalah adat istiadat masyarakat, sehingga akan berubah sesuai dengan adat istiadat masyarakat. (ibid, hal. 37)


Syubhat 3 :

Jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya dibolehkan, jika berlandaskan niat yang bersih dan hati yang suci.

Jawapan 3 :

Syariat yang suci melarang suatu perbuatan yang boleh menimbulkan kerosakan tanpa mengambil kira niat pelakunya, kerana yang dinilai adalah akibat perbuatan tersebut. Selama akibatnya buruk, maka perbuatan yang menyebabkannya dilarang (kerana dinilai buruk juga). Hal ini sebagai upaya menutup pintu kerosakan, meskipun pelakunya tidak bermaskud melakukan kerosakan tersebut.

Apabila telah diketahui bahawa tujuan dan niat itu tersembunyi, maka yang tepat adalah tidak mengambil kira hal ini, kerana niat tidak dapat diukur, dan yang diambil kira hanyalah yang jelas ukurannya. Kerana syariat ini berlaku bagi semua manusia, bukan hanya bagi segolongan tertentu saja.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawa al-Kubra III/139 menjelaskan :

"Sebab-sebab ini, apabila secara umum akan menimbulkan perbuatan haram, maka syariat mengharamkannya secara mutlak. Demikian juga apabila terkadang menimbulkan perbuatan haram dan terkadang tidak, akan tetapi tabiat manusia cenderung terjerumus didalamnya." (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. : 18-19.)


Syubhat 4 :

Larangan berjabat tangan tidak berlaku apabila sang wanita adalah seorang yang tua tidak berupaya, berdasarkan riwayat Abu Bakar yang menyatakan :
أن رسول الله كان يصافح العجائز 
Bahawa Rasulullah dahulu berjabat tangan dengan wanita-wanita tua.

Jawapan 4 :

Riwayat ini tidak boleh dijadikan dalil, kerana sumbernya tidak jelas, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam az-Zaila’i dalam Nashbur Rooyah (4/ 240) : Gharib (yakni : tidak ada sumbernya).

Dengan demikian larangan berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya berlaku umum. Wallahu a’laam. (Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam hal. : 45-46.)


Sumber: Abusalma.net
Artikel Asal: "Jabat Tangan Terlarang" oleh Abu Zahra (Majalah adz-Dzakhirah al-Islamiyah edisi Syawwal 1428H)
Read On 0 comments

‘Ashuraa - A Jewish Tradition?


‘Ashuraa in History

Ibn 'Abbaas (may Allah be pleased with him) said:
"The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) came to Madeenah and saw the Jews fasting on the day of ‘Ashuraa. He said, 'What is this?' They said, 'This is a righteous day, it is the day when Allah saved the Children of Israel from their enemies, so Musa fasted on this day.' He said, 'We have more right to Musa than you,' so he fasted on that day and commanded [the Muslims] to fast on that day." (Reported by al-Bukhaari, 1865)

There exist slight variations in the matn (text) in another report narrated by al-Bukhaari and one from Muslim.

A version narrated by Imaam Ahmad adds:
"This is the day on which the Ark settled on Mount Judi, so Nuh fasted this day in thanksgiving."

Which day is ‘Ashuraa?

Ibn 'Abbaas said:
'The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) commanded us to fast ‘Ashuraa, the tenth day of Muharram.' (Reported by al-Tirmidhi, who said, a saheeh hasan hadeeth)

Ibn 'Abbaas said:
'The ninth,' and reported that the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) used to fast the ninth. (Reported by Muslim)

Ibn 'Abbaas said:
"When the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) fasted on ‘Ashuraa and commanded the Muslims to fast as well, they said, 'O Messenger of Allah, it is a day that is venerated by the Jews and Christians.' The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said, 'If I live to see the next year, insha Allah, we will fast on the ninth day too.' But it so happened that the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) passed away before the next year came." (Reported by Muslim, 1916)

Al-Shaafi'i and his companions, Ahmad, Ishaaq and others said:
"It is mustahabb to fast on both the ninth and tenth days, because the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) fasted on the tenth, and intended to fast on the ninth."

On this basis it may be said that there are varying degrees of fasting ‘Ashuraa, the least of which is to fast only on the tenth and the best of which is to fast the ninth as well.


Religious Harmony in Following the Jewish Fast?



Is it true, as claimed by some quarters, that the fasting of ‘Ashuraa is evidence of the Prophet's adoption of a Jewish practice of the Jews of Madeenah? Hence, Muslims should be encouraged to take part in the traditions and festivals of other religions to promote inter-religious harmony?

The following reports negate such notions and emphasize that contradicting the disbelievers is part of the Prophet's Sunnah.

It was also reported that the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) used to fast on ‘Ashuraa in Makkah, before he migrated to Madeenah. When he migrated to Madeenah, he found the Jews celebrating this day, so he asked them why, and they replied as described in the hadeeth quoted above. He commanded the Muslims to be different from the Jews, who took it as a festival.

'Aisha (may Allah be pleased with her) said:
 كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية، وكان رسول الله يصومه في الجاهلية، فلما قدم المدينة صامه وأمر بصيامه ، فلما فُرض رمضان ترك يوم عاشوراء، فمن شاء صامه ومن شاء تركه

"(The tribe of) Quraish used to fast on the day of Ashura' in the Pre-lslamic period, and the prophet used to fast on that same day in the pre-Islamic period. When he arrived to Medina, he fasted on that day and ordered others to do the same. When the fasting of Ramadan became mandatory, the fasting of Ashura was abandoned. He who wanted to fast on that day fasted, and he who did not want did not fast." (Reported by Bukhaari & Muslim - this text is from Bukhaari)
Abu Musa (may Allah be pleased with him) said:
"The Jews used to take the day of ‘Ashuraa as a festival . The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said: 'So you [Muslims] should fast on that day.'" (Reported by al-Bukhaari)

According to reports narrated by Muslim: the day of ‘Ashuraa was venerated by the Jews, who took it as a festival and their women would wear their jewellery and symbols on that day.

Hence we may conclude from studying many other narrations that:

1) The Prophet (peace and blessings be upon him) did not initiate the fasting of `Ashuraa in Madeenah. Rather, he used to fast it even before migration

2) The Jews also took that day as a day of celebration and festival, but the Muslims were just commanded to observe fasting as thanksgiving.

3) The Prophet (peace and blessings be upon him) also commanded the companions to differentiate from the Jewish tradition by fasting an additional day.

Al-Nawawi (may Allah have mercy on him) said:
"The scholars - our companions and others - mentioned several reasons why it is mustahabb to fast on Taasu’aa: the intention behind it is to be different from the Jews, who only venerate the tenth day."

Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him) said:
"The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) forbade imitating the People of the Book in many ahaadeeth, for example, his words concerning ‘Ashuraa: 'If I live until the next year, I will certainly fast on the ninth day.'" (al-Fataawa al-Kubra, part 6, Sadd al-Dharaa'i' al-Mufdiyah ila'l-Mahaarim )

Ibn Hajar (may Allah be pleased with him) said :
"What he meant by fasting on the ninth day was probably not that he would limit himself to that day, but would add it to the tenth, either to be on the safe side or to be different from the Jews and Christians, which is more likely. This is also what we can understand from some of the reports narrated by Muslim." (Fath, 4/245)

Wallahu a'lam


Prepared by Ustadz Abu Mazaaya
Read On 0 comments

Should the Followers of the Innovator be Boycotted?


Question posed to Shaykh Rabee bin Hadee Al-Madkhalee (hafidhahullah)

Question: Should the followers of the innovator be boycotted?

Answer: "Those that are deceived by them educate them, 'O brothers, do not rush, teach them and clarify for them, many of them want good, even the Sufiyyah, by Allaah, if the Salafees were active (in calling the people) you would see them entering into salafiyyah in droves.

Do not only have the principal of boycotting, boycotting, boycotting. The foundation is guidance for the people and to enter the people into good. Boycotting, this has been understood wrong. If you boycott the people, all of them, who will enter into the sunnah? If we place the dams and barriers between us and them with boycotting and between the sunnah, when will they enter into the sunnah?

Boycotting, O' Brothers, in the time of Imam Ahmed...the world was filled with salafees. And if Imam Ahmed said: "so and so is an innovator," he would have been humiliated. As for now, Salafiyyah is like white hair on a black bull. So do not boycott except the defiant, arrogant innovator.

As for those who have been deceived and charmed by them (The innovator) then call them to Allaah with wisdom and a good admonition, perhaps many of them will respond. The fundamental Principle is guidance for the people and saving them from error and misguidance. So call them and bring them near, and bring forth for the people books, and beneficial treaties of knowledge, and tapes of knowledge, and seek to utilize all means of legislated dawah, from it being: (khutbahs and lectures). So you will see with this, much good Insha'Allah. And the amount of Salafees would increase Insha'Allah. And how the people have lost. All of the people are misguided to you! Without you advising, without anything, without clarification!? This is wrong! The meaning of this is that the doors of good are shut in the face of the people. Don't just rebuke, rebuke and boycott.

The fundamental principle is guidance for the people, and entering them into the sunnah, and saving them from misguidance. This is the principle you should have with you. Be patient, and bear on like this. Then whoever insists after the clear clarification, Then an excellent remedy would be putting pressure on (the individual).  As for pressuring someone from the the start. This is wrong, may Allah bless you.

So let it be, O' brothers, the principle with you to lift the people. By Allaah, many of the people want good. They want paradise, O' brothers, they want good. So let your methods be wise. By Allaah, merciful, wise methods, Methods in which he will not feel are condescending, and you do not want to insult him, but you make it clear to him with being gentle, attach to him, and come with wisdom. Many of the people (the grave worshipers) were guided by Allaah because of a few from the people of The hadith that came with knowledge and wisdom and good admonition."

أتباع المبتدع هل يلحقون به في الهجر ؟
الجواب :

" المخدوع منهم يُعلم يا إخوة ، لا تستعجلوا ، علموهم وبيِّنوا لهم ، فإن كثيراً منهم يريد الخير ، حتى من هؤلاء الصوفية والله لو هناك نشاط سلفى لرأيتهم يدخلون فى السلفية زراقات ووحداناً .

فلا يكن القاعدة عندكم فقط هجر و هجر و هجر ، الأساس هداية الناس ، وادخال الناس فى الخير ، الهجر هذا قد يُفهم غلطاً ، إذا هجرت الناس كلهم من يدخل فى السنة ، إذا وضعنا السدود والحواجز بيننا وبينهم بالهجر وبين السنة متى يدخلون في السنة ؟ الهجر هذا يا إخوتاه في وقت الإمام أحمد ..الدنيا مليئة بالسلفيين ، وإذا قال الإمام أحمد : فلان مبتدع ؛ سقط ، أما الآن فعندك السلفية كالشعرة البيضاء فى الثور الأسود ، فلا يُهجَر إلا المبتدع المستكبر المعاند ، أما المخدوعون فتأنَّ بهم ، ويُدعون إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة ، فقد يستجيب منهم الكثير .

الأساس هداية الناس وإنقاذهم من الباطل والضلال ، فادعوهم وقرِّبوهم ، وقدِّموا للناس الكتب والرسائل العلمية النافعة ، والأشرطة العلمية ، واستخدموا كل وسائل الدعوة المشروعة ، ومنها الخطب والمحاضرات ، فسيحصل بذلك الخير الكثير إن شاء الله ، و يكثر إن شاء الله سواد السلفيين ، وما تخسرون كثيراً من الناس ، كل الناس ضالون عندك ولا تنصح ولا شيء ولا بيان ؟! غلط ! هذا معناه سد أبواب الخير في وجوه الناس ، فلا يكون عندكم فقط هجر هجر .

القاعدة الأساسية هداية الناس وإدخالهم في السنة ، وإنقاذهم من الضلال ، هذه القاعدة عندكم ، واصبروا واحلموا وكذا وكذا ، ثم من عاند بعد البيان الواضح فآخر الدواء الكي ، أما الكي من أول مرة ، هذا غلط بارك الله فيكم .

فليكن أيها الإخوة القاعدة عندكم انتشال الناس ، والله كثير من الناس يريدون الخير ، يريدون الجنة يا إخوان ، يريدون الخير ، فلتكن أساليبكم حكيمة ، والله الأساليب الحكيمة الرحيمة التى يشعر أنك لست متعالياً عليه ، وأنك ما تريد إهانته ، لكن تواضع له ، ألن جانبك ، ترفَّق به ، وبلِّغ بالحكمة ، كثير وكثير من الناس قبوريون هداهم الله على على أيدي قلة من أهل الحديث لما جاؤوا بالعلم والحكمة والموعظة الحسنة .

Source: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=133998

Translation edited by Abu Abdul Malik Doss
Read On 0 comments

Amalan Puasa Asyura


Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram[7]. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ 
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[8]

An Nawawi -rahimahullah- mengatakan,
“Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”[9]



Sejarah Pelaksanaan Puasa ‘Asyura [10]

Tahapan pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan yang lain untuk melakukannya.

Dari ’Aisyah -radhiyallahu ’anha-, beliau berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ 
”Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).”[11]

Tahapan kedua: Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. 
“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”[12]

Apakah ini berarti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi?

An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan, 
”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”[13]

Para ulama berselisih pendapat apakah puasa ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu’akkad? Di sini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada masa tahapan kedua, puasa ‘Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom.

Pendapat kedua: Pada masa tahapan kedua ini, puasa ‘Asyura dihukumi sunnah mu’akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hambali.[14]

Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura tidaklah diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi -rahimahullah-.[15]

Tahapan ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar berikut ini.

Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. 
“Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”[16]

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan,
“Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, beliau meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama. 
Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa’ad mengatakan, “Kami masih tetap melakukannya.”[17]

Intinya, puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan).

Tahapan keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun di-ikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. 
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, 
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ 
“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, 
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. 
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.”[18]

Menambahkan Puasa 9 Muharram

Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahwa di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun beliau sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu.

Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi rahimahullah.
Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam.[19]

Ibnu Rojab mengatakan, 
”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.”[20]

Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:
Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.
Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[21]

Puasa 9, 10, dan 11 Muharram

Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura[22]. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbasradhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً 
“Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho’if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, ”Daud kadang yukhti’ (keliru).” Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).

Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata,

خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ 
“Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.” Sanad hadits ini adalah shohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). [23]

Catatan: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, 
”Jika ragu mengenai penentuan awal Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian.”[24]

Sumber: "Amalan Puasa Asyura" oleh Muhammad Abduh Tuasikal
------------------

[7] Inilah yang dimaksud dengan ‘Asyura yaitu tanggal 10 Muharram. Yang memiliki pendapat berbeda adalah Ibnu ‘Abbas yang menganggap ‘Asyura adalah tanggal 9 Muharrram. Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.

[8] HR. Muslim no. 1162.

[9] Al Minhaj Syarh Muslim, 8/4.

[10] Diolah dari penjelasan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Latho-if Al Ma’arif, hal. 92-98.

[11] HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125 (lafaz ini milik Muslim)

[12] HR. Muslim no. 1130

[13] Al Minhaj Syarh Muslim, 8/11.

[14] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 94.

[15] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim, 8/4.

[16] HR. Muslim no. 1126.

[17] Latho-if Al Ma’arif, hal. 96.

[18] HR. Muslim no. 1134.

[19] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim, 8/12-13.

[20] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.

[21] Lihat Tajridul Ittiba’, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili, hal. 128, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1428 H.

[22] Sebagaimana pendapat Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad.

[23] Dinukil dari catatan kaki dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 2/60, terbitan Darul Fikr yang ditahqiq oleh Syaikh Abdul Qodir Arfan.

[24] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99.


Read On 0 comments

Kamu Lebih Alim Dari Imam Fulan?


Jawapan Emas Ibnu Taimiyah Terhadap Tuduhan "Kamu Lebih Alim Dari Imam Fulan"?

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm berkata:

Jika dikatakan kepada orang yang mengajak kepada hidayah dan petunjuk:
"Kamu yang lebih ALIM ataukah Imam Fulan?!",

Maka ini adalah bantahan yang salah, karena Imam Fulan dalam masalah ini telah diselisihi oleh imam-imam lain yang sederajat dengannya.

Memang aku tidak lebih alim dari imam ini dan imam itu, akan tetapi kedudukan mereka di sisi imam-imam yang lain, seperti kedudukan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas'ud, dan lain-lain di sisi imam-imam yang lain...

Jadi sebagaimana para sahabat satu dengan yang lainnya sebanding dalam masalah-masalah yang diperselisihkan (dan apabila mereka berselisih dalam sebuah masalah, maka apa yang mereka perselisihkan dikembalikan kepada Allah dan Rasul meski sebahagian dari mereka lebih alim dalam masalah-masalah yang lain), begitu pula masalah-masalah yg diperselisihkan oleh para imam.

Orang-orang telah meninggalkan pendapat Umar dan Ibnu Mas'ud dalam masalah tayamumnya orang junub, dan mereka mengambil pendapat orang yang di bawah keduanya seperti Abu Musa Al-Asy'ari dan yang lainnya kerana dia berdalil dengan KITAB dan SUNNAH.

Orang-orang juga telah meninggalkan pendapatnya Umar dalam masalah diyatnya jari-jemari, dan mereka mengambil pendapatnya Mu'awiyah, kerana ada dalil SUNNAH bersamanya, bahawa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan: "Jari ini dan dari itu sama sahaja"…

Jika pintu (perkataan seperti) ini dibuka, tentu perintah Allah dan dan RasulNya akan ditingggalkan, dan setiap imam di tengah para pengikutnya akan menjadi seperti Nabi shallallahu alaihi wasallam di tengah-tengah umatnya, dan ini merupakan tindakan mengubah agama, mirip dengan keadaan Kaum Nasrani yang dicela Allah dalam firmanNya (yg ertinya):
"Mereka telah menjadikan orang-orang alimnya (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, demikian juga terhadap Almasih Putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang satu, yang tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan". [Surat Attaubah: 31]

Wallahu subhanahu wata'ala a'lam, dan segala puji hanya bagi Dia semata.

[Majmu'ul Fatawa: 20/215-216]

~ dari Ustadz ad-Dariny hafidzahullah (https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah)
Read On 0 comments

Hukum Tubuh atau Bulu Anjing dan Air Liurnya


Para ulama berbeza pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat:

Pendapat Pertama: Air liur anjing najis, adapun tubuhnya suci

Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Di antara dalil mereka, hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ » 
“Sucinya bejana kalian apabila ia dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.” [HR. Muslim]

Mereka berkata: Kalimat (طَهُورُ) pada hakikatnya tidaklah dipakai dalam syari’at melainkan yang diinginkan darinya bermakna mengangkat hadats atau najis.

Berkata Ibnu Hajar:
“Apabila ada lafadz syar’i yang berputar padanya makna secara bahasa dan hakikat syar’i, maka wajib dibawa ke hakikat syar’i, kecuali jika ada dalil lain (yang membawa kepada makna secara bahasa).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mencuci sebanyak tujuh kali. Perintah mencuci dari hal tersebut menunjukan kenajisannya.

Berkata Syaikh Al ‘Utsaimin:
“Kenajisannya lebih berat daripada najis-najis lainnya. Sesungguhnya najis anjing tidak boleh suci kecuali dengan tujuh kali basuhan, salah satunya dengan tanah.”

Berkata Ibnu Hajar:
“Telah datang dari Ibnu ‘Abbas, menjelaskan bahwa (perintah) mencuci dari air liur anjing dikeranakan dia najis. Atsar ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al Marwazy dengan sanad yang shahih, dan tidak ada satupun dari para shahabat yang menyelisihinya.” [Fathul Bari, hadits 172]

Pendapat Kedua: Air liur anjing dan tubuhnya najis

Ini adalah pendapat jumhur ulama.

Mereka mengqiyaskan tubuh anjing dengan air liurnya. Kerana air liur bahagian dari anggota tubuh, sehingga jika ia najis maka tubuhnya pun ikut najis.

Namun pendalilan ini dijawab oleh Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa [21/618]:
“Adapun pengqiyasan bulu  anjing kedalam hukum air liurnya, maka hal ini tidaklah mungkin. Kerana air liur keluar dari dalam tubuh anjing, sedangkan bulu tumbuh dari bahagian luar tubuhnya.”

Di antara syarat dalam pengqiyasan; sesuatu yang diqiyaskan serupa sifatnya dengan yang diqiyaskan. Bulu tumbuh dari bahagian luar tubuh, sedangkan air liur dari dalam tubuh, demikian pula bulu adalah benda padat, sedangkan air liur benda cair. Maka dari dua perbedaan sifat ini tidak mungkin bisa diqiyaskan, Wallahu a’lam.


Pendapat Ketiga: Air liur anjing, bulunya dan seluruh bagian tubuhnya suci

Ini adalah pendapat Imam Malik, Dawud, Az Zuhry, Ats Tsaury, Ibnul Mundzir, Ibnu Abdul Bar, dan Imam Al Bukhary.

Dalil-dalil mereka:

Hadits Abu Hurairah,
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ 
“Pada suatu ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan melalui suatu jalan, lalu dia merasa sangat kehausan. Kebetulan dia menemukan sebuah sumur, maka dia turun ke sumur itu untuk minum. Setelah keluar dari sumur, dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah kerana kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya; ‘Alangkah hausnya anjing itu, seperti yang baru ku alami.’ Lalu dia turun kembali ke sumur, kemudian dia menceduk air dengan sepatunya, dibawanya ke atas dan diminumkannya kepada anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepada orang itu (diterima-Nya amalnya) dan diampuni-Nya dosanya.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata:
“Bahawa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada beberapa anjing yang kencing dan membuang kotoran di dalam masjid, namun para sahabat tidak menyiramnya dengan sesuatu.” [HR. Al Bukhary]

Hadits ‘Adi bin Hatim,Nabi bersabda:
إِذَا أَرْسَلْتَ كِلَابَكَ الْمُعَلَّمَةَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَكُلْ مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَإِنْ قَتَلْنَ  الحديث 
“Jika kamu lepas anjingmu yang terlatih dengan menyebut nama Allah, maka makanlah apa yang ia tangkap untuk kamu, meskipun mereka membunuhnya.” [HR. Al Bukhary dan Muslim]

Perintah mencuci pada hadits di atas sebagai bentuk peribadatan semata, bukan kerana najis. Kerana kalau seandainya najis maka dengan satu kali cucian sahaja sudah cukup.

Namun dalil-dalil yang dipakai pendapat ketiga ini telah dijawab oleh para ulama:

a. Hadits Abu Hurairah yang dijadikan dalil mereka, terkandung padanya kemungkinan-kemungkinan yang belum jelas.

Berkata Ibnu Hajar:
“Ada kemungkinan bahawa orang tersebut menuangkan air pada sesuatu kemudian dia berikan kepada anjing tersebut, atau dia telah mencucinya setelah dia pakai sepatunya untuk memberikan air minum kepada anjing tersebut, atau mungkin juga dia kemudian tidak memakai kembali sepatunya.”

b. Adapun anjing kencing dan membuang kotoran di dalam masjid pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal itu telah dikeringkan najisnya oleh sinar matahari yang masuk ke dalam masjid sehingga tanah masjid kembali suci dengannya.

Ini adalah jawaban yang dipilih oleh Syaikhul Islam dan juga Syaikh Al ‘Utsaimin.

c. Adapun hadits ‘Adi bin Hatim, maka dinukilkan oleh Syaikh Al ‘Utsaimin bahwa Syaikhul Islam berkata:
“Sesungguhnya hal ini termasuk yang dimaafkan oleh syariat. Kerana tidak ternukilkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perintah mencuci haiwan buruan yang ditangkap oleh anjing (pemburu) dengan mulutnya.” [Majmu’ Fatawa:21/620]

Beliau berkata pula:
“Demikian pula dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (وَلَغَ) artinya menjilati, tidak mengatakan: (عَضَّ) artinya menggigit.”
Berkata Syaikh Al ‘Utsaimin:
“Kerana terkadang keluar dari lambung anjing ketika minum sesuatu yang tidak keluar ketika dia menggigit. Sehingga tidak diragukan lagi kalau para shahabat tidak mencuci daging haiwan buruan sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. Hal ini karena ada padanya keringanan (hukum).” [lihat Asy Syarhul Mumti’: 1/420]
Al Imam Asy Syaukany berkata:
“Bolehnya memakan haiwan buruan yang ditangkap (oleh anjing yang terlatih untuk berburu) tidak bererti menafikan (meniadakan) kewajipan mensucikan najis yang melekat pada haiwan buruan tersebut kerana tidak adanya perintah (mencuci).  
Hal ini kerana tercukupkan dengan dalil-dalil lain yang secara umum telah menunjukkan kewajipan mensucikan sesuatu yang terkena najis. Taruhlah hal itu diterima (tidak ada perintah), maka hal itu kerana disebabkan adanya keringanan hukum yang khusus pada haiwan buruan.” [Nail Al Authar: 1/69-70]

d. Adapun perintah mencuci pada hadits di atas sebagai bentuk peribadatan semata, bukan dikeranakan dia najis, maka dijawab oleh Al Imam Ash Shan’any:
“Hal ini dijawab, bahawa hukum asal perintah mencuci adalah suatu hal yang sudah jelas, hal tersebut disebabkan kerana najis. Adapun dari sisi bilangan (dicuci sebanyak tujuh kali) maka ini adalah bentuk peribadatan semata.” (Yaitu karena sulit dicari alasannya, kenapa harus dicuci tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.)

Dan kita jawab pula dengan atsar Ibnu ‘abbas yang telah lewat, bahawa perintah mencuci pada hadits kerana dia najis. Tidak ada satupun dari para shahabat yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar.

Kesimpulan: 

Kita lihat masing-masing pendapat memiliki dalil-dalil yang kuat. Namun wallahu a’lam pendapat yang terkuat dari sisi dalil-dalinya dan terpilih adalah pendapat pertama, yang mengatakan bahawa air liur anjing najis, adapun anggota tubuh lainnya tidaklah najis, kerana tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh para ulama ahlul tahqiq seperti; Syaikhul Islam, Ibnu Hajar, Ash Shan’any, Asy Syaukany dan Syaikh Al ‘Utsaimin.

Sumber: “Faidah-Faidah Fiqhiyah dari Kitab Umdatul Ahkam (Hadits Ke-Enam)” di darussalaf.or.id


Soalan: Bagaimana pula jika ada yang menyanggah haramnya menyentuh najis dengan kata-kata - "Kalau najis haram dipegang, maka haram juga seseorang menyentuh najis dirinya, ataupun anaknya"?

Ibnu Taimiyah berkata,
“Berubat dengan memakan lemak babi hukumnya tidak boleh, adapun berubat dengan menyapukan minyak babi tersebut kemudian nantinya dicuci maka hukumnya dibangun di atas hukum tentang menyentuh najis (tatkala dalam keadaan di luar sholat), dan para ulama khilaf tentang hukum permasalahan ini. Dan yang benar hukumnya adalah boleh jika diperlukan sebagaimana dibolehkannya seseorang untuk beristinja' (cebok) dengan tangannya dan menghilangkan najis dengan tangannya. ”
(Majmu' Fatawa Syaikhul Islam 24/270)

Sumber: “Bahaya Khomr” oleh Ustadz Firanda Andirja di firanda.com
Read On 0 comments

Haul-loween - Behind the Traditions of Haul


History of Halloween

Saints
The Roman Catholics typically celebrate the anniversaries of their saints. Saints who have been officially recognised by the Church are people who are considered purified or holy and is therefore believed to be in Heaven.

According to their beliefs, the worship of saints is a show of devotion so that they can be asked to intercede or pray for those still on earth.

Calendar of Saints
Early Christians commemorated the day of the death of their Saints by having an annual feast. The number of recognized Saints increased until eventually every day of the year had at least one saint who was commemorated.

To deal with this increase, some dates were moved while others were completely removed from the calendar. These Feast Days were also ranked in order of importance of the respective Saints where some commemorative feasts became obligatory while others remained optional.

All-Saints' Day

With the huge deluge of Saints, a day was selected to commemorate all the Saints (the remainders who were not afforded a day to call their own) in a single swoop. This day was named All-Saints' Day and falls on the 1st of November.

All-Saints' Day was also known as All Hallows' Day ("Hallow" means "Saint") and is considered a Holy Day of Obligation for the Roman Catholics.



Halloween

The term Halloween was derived from "Hallows' Eve" which is the eve of All Saints' Day (All Hallows' Day).

The celebration was basically adopted from Pagan rituals called "Festival of the Dead" when it is believed that the border between this world and the other world becomes passable to spirits of the dead.

Please refer to this earlier post for Islam's view on non-Islamic celebrations:
Greeting Non-Muslim Celebrations


Haul

We received an email containing purported evidence of such a practice from the Prophet via a narrator called al-Waqidi.



The Scholars' View on Muhammad Ibn 'Umar Ibn Waqid al-Waqidi, author of "al-Maghazi"

Imam an-Nasa'ie رحمه الله said:
"His hadith compilation is not preserved while the tests (of authenticity) are sourced from there." (Ad-Dhuafa wa al-Matrukin, Imam ad-Dzahabi)

Imam Ibn Hajar al-Asqalani رحمه اللهرحمه الله said:
"He is matruk (abandoned in his opinions) even though his knowledge is vast." (at-Taqrib, Ibn Hajar al-Asqalani), which means that he is extremely unreliable in narrating ahadith.

According to the research of Shaykh al-Albanee رحمه الله, al-Waqidi had also been criticized by Imam as-Shafi'ie, Imam Ahmad Ibn Hanbal, Imam Abu Dawud and Imam Abu Hatim رحمه الله.

Wallahu a'lam.

May Allah give us His Taufeeq and Hidayah so that we may be among those who seek knowledge to ascertain which matters are closer to the truth, and be the defenders of the true practices of the religion, not those whose sole purpose of research is to defend the status quo.

Verily gaining the Pleasure of Allah is dearer to us than gaining the pleasure of His creations.


Read On 5 comments

Puasa Awal & Akhir Tahun Hijriyah


Sebahagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً 
“Barangsiapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharram, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”

Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:

1) Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.

2) Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.

3) Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.

Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.


Sumber: "Hukum Puasa di Awal dan Akhir Tahun Hijriyah" oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Read On 0 comments

Search IslamIQ.sg

Loading...
Subscribe to us:


Unique Visitors:

Ustaz Murad Said