Islamiq.sg

Hukum Qurban: Wajib atau Sunnah?


Kebanyakan ulama, dinukil dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththâb, Bilâl, dan Abu Mas’ûd Al-Badry dari kalangan shahabat, serta Suwaid bin Ghafalah, Sa’îd bin Al-Musayyab, Sufyân Ats-Tsaury, Ibnul Mubârak, ‘Athâ`, ‘Alqamah, Al-Aswad, Malik –dari pendapat masyhur beliau-, Asy-Syâfi’iy, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, Ishâq, Abu Tsaur, Al-Muzany, Ibnul Mundzir, Dâwud, Ibnu Hazm, dan selain mereka dari kalangan imam fiqih, berpendapat bahwa hukum tentang berqurban adalah sunnah. Mereka memahami bahwa dalil-dalil tentang syariat udh-hiyyah hanya menunjukkan penganjuran, bukan pewajiban, apalagi Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا.

“Apabila telah masuk sepuluh (awal Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian berkehendak untuk menyembelih (qurban), janganlah ia menyentuh sesuatu pun berupa rambut dan kulitnya.” [1]

Sabda beliau, “Dan salah seorang dari kalian berkehendak untuk menyembelih qurban,” menunjukkan ketidakwajiban hal tersebut karena hal yang bersifat wajib mesti dilaksanakan, bukan suatu alternatif yang disandarkan kepada kehendak pelaku sebagaimana dalam hadits di atas. Demikian keterangan Imam Asy-Syâfi’iy dan selain beliau.

Selain itu, di antara dalil tentang ketidakwajiban berqurban adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jâbir radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata,
“Saya menyaksikan (‘Idul) Adha bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam di lapangan. Tatkala beliau selesai berkhutbah, seekor kambing didatangkan kepada beliau, lalu beliau pun menyembelih (kambing) tersebut seraya bersabda,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّيْ وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِيْ

‘Bismillâhi wallâhu Akbar. Ya Allah, ini untuk saya dan untuk siapa saja di antara umatku yang tidak berqurban.’.”[2]

Imam Asy-Syaukâny menjelaskan sisi pendalilan akan ketidakwajiban berqurban, dari hadits di atas dan yang semisalnya dengannya, melalui ucapan beliau,
“Yang tampak adalah bahwa udh-hiyyah beliau, bagi umat dan keluarga beliau, adalah mencukupi orang yang tidak berqurban, baik orang tersebut mampu ber-udh-hiyyah atau tidak.”

Selain itu, di antara dalil akan ketidakwajiban berqurban adalah sejumlah atsar dari shahabat yang menguatkan pendapat jumhur ulama:

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy, dari Abu Sarîhah Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifary radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

أَدْرَكْتُ أَبَا بَكْرٍ أَوْ رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لاَ يُضَحِّيَانِ كَرَاهِيَةَ أَنْ يُقْتَدَى بِهِمَا

“Saya mendapati Abu Bakr, atau saya melihat Abu Bakr dan Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, tidak mengerjakan udh-hiyyah karena khawatir bila mereka dijadikan panutan.”

Maksudnya adalah bahwa mereka dijadikan panutan agar tidak meninggalkan berqurban atau menganggap bahwa berqurban itu wajib.

Juga dari Abu Mas’ûd Al-Anshâry, beliau berkata,

إِنِّيْ لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّيْ لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِيْ أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَيَّ

“Saya meninggalkan udh-hiyyah, padahal saya sangat berkelapangan, karena khawatir bahwa para tetanggaku beranggapan bahwa hal tersebut adalah wajib bagiku.” [3]

Imam Al-Bukhâry menyebutkan pula hadits dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau berkata,

هِيَ سُنَّةٌ مَعْرُوْفَةٌ

“(Udh-hiyyah) itu adalah sunnah dan dikenal.” [4]

Masih ada beberapa ucapan shahabat lain tentang ketidakwajiban berqurban tersebut:

Ibnu Hazm rahimahullâh berkata,
“Tidak sah, dari seorang shahabat pun, bahwa udh-hiyyah adalah wajib.”[5]

Al-Mâwardy rahimahullâh berkata,
“Telah diriwayatkan, dari para shahabat, hal yang merupakan ijma’ (kesepakatan) akan gugurnya kewajiban (udh-hiyyah).”[6]

Pada versi lain, sejumlah ulama berpendapat bahwa hukum udh-hiyyah adalah wajib. Pendapat tentang kewajiban berqurban adalah pendapat Rabî’ah, Al-Laits bin Sa’d, Al-Auzâ`iy, Abu Hanîfah, salah satu pendapat Malik, serta salah satu riwayat dari Abu Yusuf dan Muhammad. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Mereka memandang bahwa udh-hiyyah merupakan salah satu simbol Islam dan ibadah yang ditekankan dalam banyak dalil dari Al-Qur`an maupun hadits.

Ada beberapa dalil yang dipakai oleh kalangan ulama yang mewajibkan udh-hiyyah. Namun, semua dalil tersebut mengandung kemungkinan yang bermakna sunnah, bukan wajib. Selain itu, dalil-dalil tersebut banyak berasal dari hadits lemah. Oleh karena itu, kami lebih condong kepada pendapat yang menyatakan bahwa udh-hiyyah adalah sunnah, bukan wajib. Kendati demikian, dalil-dalil ulama, yang menganggap udh-hiyyah adalah wajib, tetap perlu dipertimbangkan sehingga seorang muslim dan muslimah, yang mempunyai kelapangan harta, tidak pantas meninggalkan ibadah yang agung nan mulia ini.

Sumber: "Hukum Tentang Berqurban" oleh Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Tambahan: 

Sebahagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasihatkan:
“…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120)
Read On 0 comments

Significance & Virtues of the Day of Arafah

Fasting on the day of Arafah is an expiation for two years

The ninth day of Dhul-Hijjah is the day of ’Arafah, since it is on this day that the pilgrims gather at the mountain plain of ’Arafah, praying and supplicating to their Lord. It is mustahabb (highly recommended) for those who are not pilgrims to fast on this day, since the Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) was asked about fasting on the day of ’Arafah, so he said,
“It expiates the sins (Minor) of the past year and the coming year.” [Muslim (no. 1162)]

Imaam at-Tirmidhee (d.275H) - rahimahullaah – said, “The People of Knowledge consider it recommended to fast on the day of ’Arafah, except for those at ’Arafah.” [Muslim (no. 1348)]


Allah frees slaves from the fire on Arafat more than any other day

Likewise, the Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, ‘There is no day on which Allaah frees people from the Fire more so than on the day of ’Arafah. He comes close to those (people standing on ’Arafah), and then He revels before His Angels saying, ‘What are these people seeking.” [Jaami’ut-Tirmidhee (3/377)]


Forgiveness of the Sins even if they are like the foam on the Sea

As for you staying till the evening in Arafah, then Allaah descends to the sky of the Duniya and He boasts about you to the Angels, and says: ‘My slaves have come to Me, looking rough, from every deep valley hoping for My mercy, so if your sins were equivalent to the amount of sand or the drops of rain or like the foam on the sea I will forgive them. So go forth My slaves! Having forgiveness and for what or who you have interceded for.’

[Reported by at-Tabarani in his book “al-Kabeer” and by al-Bazaar. Shaykh Al-Albani graded it Hassan. Taken from ‘Saheeh al-Targheeb wa Tarheeb’. Volume 2, Page 9-10, hadeeth no. 1112]


It is the day on which the religion was perfected and Allaah’s Favour was completed

In Al-Saheehayn it was reported from ‘Umar ibn al-Khattaab (may Allaah be pleased with him) that a Jewish man said to him, “O Ameer al-Mu’mineen, there is an aayah in your Book which you recite; if it had come to us Jews, we would have taken that day as an ‘Eid (festival).” ‘Umar said, “Which aayah?” He said: “This day I have perfected your religion for you, completed My favour upon you, and have chosen for you Islam as your religion.” [al-Maa’idah 5:3 – interpretation of the meaning]. ‘Umar said, “We know on which day and in which place that was revealed to the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him). It was when he was standing in ‘Arafaah on a Friday.”


Allaah expresses His pride to His angels

It was reported from Ibn ‘Umar that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Allaah expresses His pride to His angels at the time of ‘Ishaa’ on the Day of ‘Arafaah, about the people of ‘Arafaah. He says, ‘Look at My slaves who have come unkempt and dusty.’”

Narrated by Ahmad and classed as saheeh by al-Albaani.


The standing on ‘Arafaat is the hajj

The standing on ‘Arafaat is the hajj. The crowds should remind you of the Day of Resurrection. Humble yourself to Allaah, manifest your ‘uboodiyyah to Him Alone through du’aa, sincere intention and strong determination to free yourself from the sins of the past and to build up a commitment to rush for doing what is good. Think of becoming a better person when you return. Rid yourself of false pride and showing off because it may ruin what you gain on this day.

Reference: Hajj and Tawheed by Dr. Saleh as-Saleh
Source: Abdurrahman.org
Read On 0 comments

Recommended Acts in the First 10 Days of DhulHijjah


1. Dzikrullah

"…and to mention Allaah’s name [plentifully] on Known days." [al-Hajj, verse 28]

Ibn 'Umar رضي الله عنه‎ narrated from the Prophet:
"...so increase in these days the Tahleel and Takbeer and Tahmeed". [Reported by Ahmad, 7/224; Ahmad Shaakir stated that it is saheeh]

Ibn 'Umar and Abu Hurayrah رضي الله عنهم that:
 "the two of them used to go out to the market place. During the ten days (of Dhul-Hijjah) saying 'Allaahu-Akbar', causing the people to also say it." [Recorded by al-Imâm al-Bukhârî]

It is Sunnah to say tahlîl, takbîr, tahmîd and tasbîh (“Subhaan Allaah”) during the first ten days of Dhu’l-Hijjah, and to say it loudly in the mosque, the home, the street and every place where it is permitted to remember Allaah and mention His name out loud, as an act of worship and as a proclamation of the greatness of Allaah, may He be exalted. (Women should recite them quietly)

The takbîr may include the following, as narrated by the companions and their followers:
- Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar kabîrun.
- Allahu akbar, allahu akbar, lâ ilaha illallah, wallahu akbar, wallahu akbar, wa lillahil hamd.
- Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar, lâ ilaha illallah, wallahu akbar, allahu akbar wa lillâhil hamd.



2. Fasting

Hanbada ibn Khâlid رضي الله عنه‎ reports on the authority of his wife who reports that some of the wives of the Prophet صلى الله عليه وسلم‎ said:
“The Prophet صلى الله عليه وسلم‎ would fast on the ninth of Dhul-Hijjah, the day of Âshûra and three days in every month.” [Recorded by Ahmad, Abu Dâwûd, an-Nisâî and others; classified by al-Albaani as saheeh in Saheeh Abu Dâwûd, 2/462)

Al-Imâm an-Nawawî رحمه الله said that fasting in these ten days is extremely recommended.

Abu Qataadah رضي الله عنه‎ said that the Prophet صلى الله عليه وسلم‎ said:
"Fasting the Day of 'Arafah will be credited with Allaah by forgiving one's sins of
the previous year and the following year.” [Recorded by Imâm Muslim]

3. Sacrifice

Allaah mentioned the sacrifice together with the first and foremost worship in Islaam: prayer. This is a clear indication of its great importance.
“…Pray unto your Lord and slaughter [your sacrifice]…” [Al Kauthar, verse 2]

The Prophet صلى الله عليه وسلم‎ slaughtered two horned rams, black and white in colour, and that he slaughtered them with his own hands, mentioned the name of Allaah Most High (saying Bismillaah), said Takbeer (Allaahu-Akbar), and placed his foot on their sides (while slaughtering them). [Recorded by Imâm Bukhârî and Muslim]

4. Avoid Cutting Hair and Nails

The one who plans to sacrifice (normally, the head of household) is prohibited to cut his hair or nails from the first Dhul Hijjah until he offers the sacrifice.

The Prophet صلى الله عليه وسلم‎ said:
“Once the ten days start, for those of you who have the intention to sacrifice, let them not cut any of their hair or nails (until they sacrifice)." [Recorded by Imâm Muslim with four isnaads, 13/146]

5. Perform the obligatory acts at their prescribed times,increase in performing voluntary righteous deeds, making sincere repentance and abstaining from disobedience

O you whose hard heart is as dark as the night,
Is it not time that your heart was filled with light and became soft?
Expose yourself to the gentle breeze of your Lord’s mercy during these ten days,
For Allaah will cause this breeze to touch whomever He wills,
And whoever is touched by it will be happy on the Day of Judgement.
May Allaah bless our Prophet Muhammad and all his Family and Companions.


References:
1) The Superiority of the First Ten Days of Dhul-Hijjah by Shaykh ibn al-Uthaymeen
2) The Superiority & Virtue Of The First 10 Days of Dhul-Hijjah & The Deeds Legislated In These Days by Shaykh Abdullah bin Jibreen
3) Virtues of the Ten Days of Dhul Hijjah by Shaykh Muhammad Salih al-Munajjid
4) The Blessed Days Of Dhul-Hijjah by Shaykh Muhammad Al-Jibaaly
Read On 0 comments

The Excellence of the First 10 Days of Dhulhijjah



1. Allah says in the Qur’ân: “By the dawn and by the ten nights … “ [Al-Qur'ân 89:1-2]

Ibn Kathîr said that “the ten nights” referred to here are the ten days of Dhul-Hijjah, and this opinion was also held by Ibn Abbâs, Ibn az-Zubair, Mujâhid and others. [Tafseer Ibn Katheer, 8/413]

2. The Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم‎ said:
“There are no deeds as excellent as those done in these ten days.” 
 They (the companions listening) said,
“Not even Jihâd?” He, peace be upon him, said, “No, not even Jihâd except a man who goes forth endangering his life and wealth and does not return with anything.”
 [Recorded by al-Imâm al-Bukhârî, 2/457]

3. The Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم‎ said:
“There are no other days that are as great as these in the sight of Allah, the Most Sublime. Nor are there any deeds more beloved to Allah then those that are done in these ten days. So increase in tahlîl (to say lâ illaha illallah), takbîr (to say allahu akbar) and tahmîd (to say alhumdulillâh).” 
[Reported by Ahmad, 7/224; Ahmad Shaakir stated that it is saheeh]

4. Ibn Hajar رحمه الله says in Fath al-Bârî:
“The most apparent reason for the ten days of Dhul-Hijjah being distinguished in excellence is due to the assembly of the greatest acts of worship in this period, i.e. salawât (prayers), siyâm (fasting), sadaqah (charity) and the hajj (pilgrimage). In no other periods do these great deeds combine.“

5. Ibn Kathîr said:
"These ten days are better than all the other days of the year, with no exceptions, not even the last ten days of Ramadaan. But the last ten nights of Ramadaan are better, because they include Laylat al-Qadr." [Tafseer Ibn Katheer, 5/412]

6. "The happy person is the one who makes the most of these special months, days and hours and draws nearer to his Lord during these times through acts of worship; he will most likely be touched by the blessing of Allaah and will feel the joy of knowing that he is safe from the flames of Hell." [Ibn Rajab, al-Lataa’if, p.8]



Recommended Acts in the First 10 Days of Dhul-Hijjah
1. Dzikrullah

"…and to mention Allaah’s name [plentifully] on Known days." [al-Hajj, verse 28]

Ibn 'Umar رضي الله عنه‎ narrated from the Prophet:
"...so increase in these days the Tahleel and Takbeer and Tahmeed". [See point 3 in previous topic above]

Ibn 'Umar and Abu Hurayrah رضي الله عنهم that: "the two of them used to go out to the market place. During the ten days (of Dhul-Hijjah) saying 'Allaahu-Akbar', causing the people to also say it." [Recorded by al-Imâm al-Bukhârî]

It is Sunnah to say tahlîl, takbîr, tahmîd and tasbîh (“Subhaan Allaah”) during the first ten days of Dhu’l-Hijjah, and to say it loudly in the mosque, the home, the street and every place where it is permitted to remember Allaah and mention His name out loud, as an act of worship and as a proclamation of the greatness of Allaah, may He be exalted. (Women should recite them quietly)

The takbîr may include the following, as narrated by the companions and their followers:
- Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar kabîrun.
- Allahu akbar, allahu akbar, lâ ilaha illallah, wallahu akbar, wallahu akbar, wa lillahil hamd.
- Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar, lâ ilaha illallah, wallahu akbar, allahu akbar wa lillâhil hamd.


2. Fasting

Hanbada ibn Khâlid رضي الله عنه‎ reports on the authority of his wife who reports that some of the wives of the Prophet صلى الله عليه وسلم‎ said: “The Prophet صلى الله عليه وسلم‎ would fast on the ninth of Dhul-Hijjah, the day of Âshûra and three days in every month.” [Recorded by Ahmad, Abu Dâwûd, an-Nisâî and others; classified by al-Albaani as saheeh in Saheeh Abu Dâwûd, 2/462)

Al-Imâm an-Nawawî رحمه الله said that fasting in these ten days is extremely recommended.

Abu Qataadah رضي الله عنه‎ said that the Prophet صلى الله عليه وسلم‎ said:
"Fasting the Day of 'Arafah will be credited with Allaah by forgiving one's sins of
the previous year and the following year.” [Recorded by Imâm Muslim]

3. Sacrifice

Allaah mentioned the sacrifice together with the first and foremost worship in Islaam: prayer. This is a clear indication of its great importance.
“…Pray unto your Lord and slaughter [your sacrifice]…” [Al Kauthar, verse 2]

The Prophet صلى الله عليه وسلم‎ slaughtered two horned rams, black and white in colour, and that he slaughtered them with his own hands, mentioned the name of Allaah Most High (saying Bismillaah), said Takbeer (Allaahu-Akbar), and placed his foot on their sides (while slaughtering them). [Recorded by Imâm Bukhârî and Muslim]

4. Avoid Cutting Hair and Nails

The one who plans to sacrifice (normally, the head of household) is prohibited to cut his hair or nails from the first Dhul Hijjah until he offers the sacrifice.

The Prophet صلى الله عليه وسلم‎ said: “Once the ten days start, for those of you who have the intention to sacrifice, let them not cut any of their hair or nails (until they sacrifice)." [Recorded by Imâm Muslim with four isnaads, 13/146]

5. Perform the obligatory acts at their prescribed times,increase in performing voluntary righteous deeds, making sincere repentance and abstaining from disobedience

O you whose hard heart is as dark as the night,
Is it not time that your heart was filled with light and became soft?
Expose yourself to the gentle breeze of your Lord’s mercy during these ten days,
For Allaah will cause this breeze to touch whomever He wills,
And whoever is touched by it will be happy on the Day of Judgement.
May Allaah bless our Prophet Muhammad and all his Family and Companions.


References:
1) The Superiority of the First Ten Days of Dhul-Hijjah by Shaykh ibn al-Uthaymeen
2) The Superiority & Virtue Of The First 10 Days of Dhul-Hijjah &  The Deeds Legislated In These Days by Shaykh Abdullah bin Jibreen
3) Virtues of the Ten Days of Dhul Hijjah by Shaykh Muhammad Salih al-Munajjid
4) The Blessed Days Of Dhul-Hijjah by Shaykh Muhammad Al-Jibaaly
Read On 3 comments

Advice Concerning the Ten Days of Dhulhijjah

Question: 

Oh noble sheikh, in a few days we will be entering into the ten days of Dhul-Hijjah. So what is your advice for the people regarding taking advantage of them? I hope for an explanation of its virtues and the actions that should be performed in it.



Answer:

The ten days of Dhul-Hijjah begins with the entrance of the month and ends on the day of the ‘eid. The Messenger, may peace and blessings be upon him, said about actions in these ten days:
“There are no days wherein righteous actions are more beloved to Allaah than these ten days.” 
They said: “Not even jihad in the way of Allaah?” 
He said: “Not even jihad in the way of Allaah, except for a man who leaves out (for jihad) with his wealth and self and doesn’t return back with any of them.” 
[Ibn 'Abbaas - Saheeh Bukhaaree]

So with this I strongly encourage my Muslim brothers to seize this tremendous opportunity, to perform many righteous actions in these ten days from recitation of the Qur’aan, remembrance of Allaah, charity, fasting, etc, strive to perform many different acts of obedience.

It’s very troubling to see that the people are heedless about these ten days. Do you not find them exerting themselves in the last ten nights of Ramadan? Na’m of course they exert themselves in them. However with the ten days of Dhul-Hijjah you will be hard pressed to find one who differentiates between them and other than them. But if a person performs righteous actions in these ten days, he revives that which the Messenger  peace and blessings be upon him, instructed with doing.

Also if an individual intends to slaughter at the ending of these ten days then he himself shouldn't remove anything from his hair, nails, or body.

As for the person he delegated to slaughter for him, then there’s nothing wrong with him, i.e. the one actually slaughtering, clipping his nails or cutting his hair. And based on this, if a person wants to slaughter for himself and his household with one sacrifice, as is the sunnah, then it isn’t upon his family to abide by that, (i.e. the cutting of the hair or nails). It only pertains to the one slaughtering, in this instance that being the father…


Source: نصيحة بمناسبة دخول العشر - العثيمين
Translated by:
Abu Fouzaan Qaasim
Islaamic University of Medinah
Al-Medinah An-Nabawiyyah, KSA
Dhul-Qi’dah 25,1432-October 23,2011

Read On 0 comments

Performing Ritual Sacrifice with a Rooster?

Back in 2009, we exposed a strange opinion on ritual sacrifice (qurban) that is still propagated every year in mosques by a well-known local Islamic scholar, where he espoused the permissibility of ritual sacrifice of roosters, ducks and sparrows. (See: Ibadah Korban Dengan Ayam dan Itik?)

This follow-up article will provide a concise answer on the alleged evidence of this strange opinion based upon the statement of Ibn 'Abbas radhiyallahu'anhuma. The article will highlight:
  • the importance of understanding evidences of al-Qur'an, as-Sunnah and Qaul Sahabiy (opinions of the Sahabah) based upon the explanations of past scholars
  • the importance of understanding that Qaul Sahabiy is a disputable source of legal ruling in Islam
  • the importance of understanding that Qaul Sahabiy need to be assessed upon the evidences of the holy texts of al-Qur'an and as-Sunnah



بسم الله و الحمد لله و الصلاة و السلام على من لا نبي بعده و على آله و صحبه و من اهتدى هداه، أما بعد

This excerpt from Bidayatul Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid by Ibn Ruysd al-Hafied clearly explains that, the so called permissibility to slaughter a rooster or sparrow and any other animals, other than the cattle; camels, sheeps or goats and oxen, is a peculiar view not to be followed and has no legal basis in Syari‘ah.




The first chapter: (with regards to) the ruling of performing a sacrifice “Ud-hiyah/Dohaya” and upon whom it is legislated?

Sacrifice (ad-Dohiyah) is not obligatory. When he shallallahu 'alayhi wasallam commanded Abu Burdah to redo his sacrificial slaughtering, since he did the slaughtering before the (Prayer of ‘Eid), some understood from that command, that sacrifice “Ud-hiyah/Dohaya” is obligatory, whereas Ibn ‘Abbas held the opinion that there is no obligation. ‘Ikrimah said:
Ibn ‘Abbas gave me 2 dirhams (silver coins) and ordered me to buy for him some meat and said: whoever you meet, say to him: this is the sacrifice of Ibn ‘Abbas. It has also been said (narrated with uncertainty - رُوِيَ) from Bilal that he sacrificed a rooster. 
Each of these narrations is not meant and doesn't serve the purpose of justification, thus using it as reference for justification is weak. They (the scholars) differ in opinions whether it is compulsory upon one who wishes to perform the sacrifice, not to remove any of his hair and nails during the first ten (days of Dzulhijjah) and the hadith related to it is justified.

From my research, I discovered these two narrations from Ibn ‘Abbas and Bilal in Musannaf Imam ‘Abdur Razzaq bin Hammam (d: 211H)




No: 8146 – From (the narration of) ats-Tasuriy from Abie Ma‘syar, (he said) Abu Bakr: Verily I heard from Abie Ma‘syar (who narrated) from a man, who was an ex-slave of Ibn ‘Abbas, who said:
Ibn ‘Abbas ordered me to by some meat for 2 dirhams and he said:  This is the Sacrifice of Ibn ‘Abbas.

“From a man”, this man is actually ‘Abdullah bin ‘Umair, Maula (a freed slave of) Ibn ‘Abbas as mentioned in al-Muhalla. The narrator Abu Ma‘syar al-Madieni has been classified weak (a weak narrator) by al-Hafiz in at-Taqrieb (7100).

As concluded by Ibn Rusyd, this narration is not worth for justification in rulings.

As for the narration that Bilal sacrificed a rooster, this is the explanation:




No: 8156 – From ats-Tsauriy from ‘Imran bin Muslim from Suwaid bin Ghafalah, he said:
I heard Bilal saying: I do not care even if I only sacrifice a rooster, or if I give the value in charity for the orphan or the poor is more preferred by me than to use it for sacrifice. He (the narrator) said: I do not know whether Suwaid was the one who said it from his own freewill or it was the saying of Bilal.

It is also narrated in al-Muhalla 2/258 and other books with similar wordings (in the form of “words” and “intention” of Bilal, instead of his action). Ibn Hazm came out with all he could to use this as a basis of justification. In his opinion, any one of the animals mentioned in the hadith about the excellence of going to the Masjid early for Friday Prayers; the first hour is like one who sacrifice a camel, second hour like a cow, the third like a sheep, then like a rooster, a sparrow and the least, an egg, can be made as a sacrifice, “Ud-hiyah/Dohaya”.

This is the view of the az-Zahiri Madzhab or School of Fiqh and as we knew, they conclude rulings based on textual content of the evidences of al-Qur’an and as-Sunnah. Although at times, the truth is with them, yet in this issue of sacrifice, Rasulullah himself never performed the Sacrificial Rites by slaughtering other than cattle.

Furthermore, the narration from Ibn ‘Abbas and Bilal are weak and unreliable and do not serve as a source of justification. Even if we take that these as reliable narrations from them, they fall under the category of “Qaul Sahabiy” i.e. an opinion of a Companion of Rasulullah and in the discipline of Usul Fiqh, this category is under the disputable sources for legal Islamic rulings.

With all these points taken into consideration, we can understand why most scholars, from the past to the present, take it that, it is a matter of concensus among scholars to perform the valid and accepted Sacrificial Ritual, by slaughtering animals under the category of al-An‘am and none other. What follows are evidences from the conclusion of renowned scholars.

In al-Majmu‘: 8/286 by al-Imam an-Nawawi:




asy-Syierazie said: The Sacrifice is not valid unless the animal being slaughtered is among the al-An‘am (Cattle), and it is either, camel, oxen or sheep/goat, based on Allah’s saying:

“such that they pronounce in remembrance, the name of Allah, for what He had granted them, the Cattle, as food” (Surah al-Hajj: 34)

an-Nawawi elaborated on this saying:



As for the rulings, so the condition for a valid Sacrifice is that it must be among the al-An‘am (Cattle) that is the camel, the oxen and the goat/sheep and it iwill not be valid with other than cattle. A few lines after that, he said:



A sub-topic/issue: The opinions of scholars with respect to the age of the Sacrficial animal. A group of scholars narrated the concensus of scholars on the Sacrificial animal that it is not valid unless it is performed by (slaughtering) the camel, the oxen or the sheep/goat and thus other animals will not be a valid sacrifice.

Imam Ibn Qudamah said (al-Mughnie: 13/361):


“It has been said (narrated with uncertainty - رُوِيَ) from Bilal that he said: I don’t care if I am performing the Sacrifice only by slaughtering a rooster….”

A proof that Imam Ibn Qudamah knew of the narration, yet afterwards he said (13/368):


“Sub-topic: The Sacrifice is not valid unless the animal being slaughtered is among the Bahiemat al-An‘am (Cattle).

If we refer to books of Tafsier, the scholars of Tafsier, al-Imam al-Qurtubiy and al-Imam al-Hafiz Ibn Katsier both of them also gave the interpretation of Bahiemat al-An‘am (Cattle) as Camel, Oxen and Sheep/Goat. In fact al-Imam Ibn Katsier even make reference to Surah al-An‘am verse 143-144, which clearly explains the “word” “al-An‘am” indicating that Allah the Exalted Himself explains His words; Bahiemat al-An‘am in Surah al-Hajj and al-An‘am with an elaboration. WalLahu a‘lam.

Having said all these, I can’t but wonder why should some among our fellow Muslims have a very unjust and dangerous attitude?

Instead of accepting what is crystal clear as evidences from the Qur’an and Sunnah and the teachings of Our Pious predecessors, giving due respect to all credible scholars, and not to blindly follow any of them, yet striving hard with a sound mind and a pure heart and bewaring of Allah, to closely follow the righteous opinons based on the evidences (without introducing any newly invented conclusion or opinion), some turn away from such a methodology and attitude. They regarded such an approach, methodology and attitude a form of disrespect towards the scholars. Ironically, they follow absurd and doubtful opinons, due to their love and obedience to the ones they follow, even if the ones that are being followed are nothing to be compared to those renowned and righteous scholars, in knowledge and deeds. Even if they contradict the clear teachings of Rasulullah.

Allahul Musta‘an. May Allah guide us to the Righteous Path. Ameen.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم و الحمد لله رب العالمين.


Researched & Prepared by: Ustadz Abu Mazaaya
Read On 0 comments

Pandangan Ahli Sunnah Terhadap Terorisme

Pandangan Ahli Sunnah Terhadap Terorisme
- Nukilan dari kertas kerja "Ahli Sunnah vs Teroris" oleh Dr. Azwira Abdul Aziz, pensyarah di Jabatan Pengajian Al-Quran &As-Sunnah, Universiti Kebangsaan Malaysia

Perkataan terrorism diguna dalam bahasa Arab dengan maksud irhab. Perkataan irhab adalah kata terbitan bagi kata kerja arhaba - yurhibu - irhab, yang bermaksud: menakutkan[1]. Ia berasal dari kata kerja rahaba/rahiba - yarhabu - rahban, yang bermaksud: takut[2].

Dalam konteks pengabdian kepada Allah S.W.T., perasaan takut adalah sejenis ibadat hati yang sangat dituntut, sebagaimana firmanNya (maksudnya):
".....Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". (al-Baqarah, 2:51)

Perkataan irhab menurut istilah syara' terbahagi kepada dua pengertian. Pertama, irhab terpuji (baik) dan kedua, irhab keji (jahat).

Irhab terpuji ialah usaha mempersiap dan melengkapkan kekuatan ketenteraan untuk menggerunkan musuh. Persiapan itu bukan bertujuan untuk menyerang sesuka hati, tetapi untuk mempertahankan diri jika diserang atau dikhianati. Irhab jenis ini adalah satu kewajipan.

Allah S.W.T. berfirman (maksudnya):
"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu mampu dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggerunkan musuh Allah dan musuhmu dan orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya..." (al-Anfal, 8:60)

Menjelaskan maksud ayat ini, Ibn Jarir at-Tabari(310H) berkata (maksudnya):
"Wahai orang beriman! Buatlah persediaan setakat kemampuan kamu untuk menghadapi mereka yang tidak beriman, yang ada perjanjian dengan kamu, jika kamu bimbang kemungkinan mereka khianat dan mungkir janji"[3]

Ayat ini menunjukkan kewajipan ke atas umat Islam membuat persediaan dari segi kekuatan ketenteraan supaya mereka digeruni oleh musuh yang cuba menggugat keamanan. Nabi s.a.w. bersabda (maksudnya):
"Aku dimenangkan (oleh Allah S.W.T.) dengan kegerunan dari jarak sejauh sebulan perjalanan." (al-Bukhari, No:328)


Manakala irhab keji pula ialah menggugat keamanan awam, melalui tindakan yang menyalahi syariat Islam, oleh individu, kumpulan maupun kerajaan. Irhab jenis ini adalah haram dan termasuk dalam jenis dosa besar. Sebarang tindakan yang menyalahi syariat Islam secara nisbinya adalah sejenis keganasan.

Pembunuhan Khalifah Umar r.a. oleh Abu Lu'lu'ah al-Majusi adalah antara gambaran irhab keji terawal dalam sejarah Islam. Demikian juga pembunuhan Khalifah Uthman r.a. oleh Kinanah at-Tujibi dan pembunuhan Khalifah Ali r.a. oleh Ibn Muljim juga adalah jenis irhab yang terkeji.

Tindakan ganas tercetus akibat pemikiran ganas. Keganasan para pembunuh Khalifah berpunca dari bid'ah pemikiran mereka yang ganas. Sebahagian ulama menamakan bid'ah pemikiran itu irhab fikri (keganasan pemikiran)[4]. Irhab fikri dilihat sebagai lebih merbahaya daripada irhab hissi (keganasan fizikal), kerana irhab hissi itu didorong oleh irhab fikri.

Semua jenis pemikiran bid'ah yang mendorong kepada amalan bid'ah adalah jenis irhab fikri. Justeru, langkah untuk membenteras keganasan harus bermula dengan usaha membenteras bid'ah pemikiran terlebih dahulu.


Siapakah Teroris Sebenar?

Pada hari ini, istilah teroris telah dikaitkan dengan kumpulan-kumpulan tertentu dari kalangan umat Islam[5]. Jabatan Negara A.Syarikat telah menyenaraikan sebanyak 24 kumpulan dalam senarai pengganas luar Negara mereka[6]. Kumpulan-kumpulan itu ialah seperti Al-Qaeda, Palestinian Islamic Jihad (Palestin), Moro Islamic Liberation Front (Filipina), Jemaah Islamiyah Indonesia, Egyptian Islamic Jihad dan Jamaat Ansar al-Sunna (Iraq).

Apa pun nama kumpulan-kumpulan itu, ia tiada kaitan dengan Ahli Sunnah jika tindakan mereka menyalahi garis panduan sunnah. Demikian pula sebaliknya, jika tindakan mereka menepati sunnah, maka mereka bukan pengganas, kerana Nabi Muhammad s.a.w. juga bukan pengganas. Orang yang betul-betul ikut sunnah tidak akan sekali-kali menjadi pengganas, kerana keganasan itu menyalahi sunnah.

Justeru, mengaitkan Ahli Sunnah dengan keganasan adalah suatu bentuk fitnah yang zalim. Kerana yang betul-betul berbakat untuk menjadi pengganas bukan Ahli Sunnah,tetapi ahli bid'ah yang tidak mahu ikut sunnah. Wallahua'lam.

____________________

[1] Al-Fairuzabadi, Muhammad Ibn Ya'kub, Al-Qamus Al-Muhit, Muassasah Ar-Risalah, Beirut, Lubnan, 1987, hal:118.
[2] Ibid.
[3] Muhd Ibn Jarir at-Tabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Quran, Dar al-Fikr, Beirut, 1984, 6:29
[4] Zaid Ibn Muhammad Ibn Hadi al-Madkhali, Al-Irhab Wa Atharuhu 'Ala Al-Afrad Wa Al-Umam, Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyyah, Jeddah, Arab Saudi, 1418H(2004), hal:26.
[5] Lihat artikel: Islamic Terrorism, atas talian: http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_terrorism.
[6] Ibid.
Read On 0 comments

Badal Haji Untuk Arwah Ibu

Soalan:

Assalamu'alaikum,

Saya ingin bertanya jika arwah ibu saya tidak pernah bernazar atau menyimpan wang untuk pergi haji, wajibkah saya mengupah org untuk membut haji buat arwah ibu saya menggunakan wang CPF yang arwah ibu saya tinggalkan?

Allahyarhamah ibu saya mempunyai penyakit epilepsy dan juga mild schizophrenia. Adakah ini membuatnya terkecuali melakukan haji?

- Daripada Rashidah


Jawapan:

Kata Imam Ibn Qudaamah (wafat: 620H) dalam kitab beliau yang merupakan satu ensaiklopedia Fiqh, al-Mughnie: 5/19 – Permasalahan ke 539: (terjemahannya –trj.):
“Sekiranya ia sakit yang tiada harapan sembuh ataupun ia seorang tua yang tidak mampu menunggangi kenderaan, hendaknya orang lain mewakilinya melaksanakan haji dan umrah bagi pihaknya maka yang demikian (perwakilan itu, yang lebih masyhur digelar Badal) dikira sah bagi pihaknya meskipun ia setelah itu sembuh dari penyakitnya.
Kesimpulan tersebut adalah berdasarkan kepada (prinsip/dasar) yang menetapkan: “Sesiapa sahaja yang telah cukup syarat-syarat yang menjadikannya wajib menunaikan haji, namun ia tidak mampu melaksanakannya disebabkan suatu halangan yang tiada harapan dapat dilenyapkan (halangan itu) seperti sakit yang melarat (chronic diseases) atau penyakit yang tiada harapan sembuh, atau kecacatan/kekurangan upaya tertentu sehingga tidak dapat berada tetap atas tunggangan kecuali dengan kepayahan yang tidak tertanggung, atau orang tua pikun dan siapa sahaja yang seperti itu, selama mana ia dapatkan seseorang untuk mewakilinya menunaikan ibadah haji, serta harta yang dapat menampung ongkosnya, wajib ia mewakilkannya.
Inilah pendapat Abu Haniefah dan asy-Syafi‘ie. Manakala Malik pula memutuskan: Tiada (kewajipan) haji baginya, kecuali jika ia mampu laksanakan sendiri malah aku berpendapat tidak diperbolehkan untuk ia melakukan demikian (perwakilan), sebab Allah berfirman:
“من استطاع إليه سبيلا – Bagi siapa yang mampu menunaikannya” (Surah ali-‘Imran: 97) dan orang ini tidak berkemampuan dan juga kerana ibadah ini tidak termasuk yang boleh diwakilkan selama masih ada keupayaan, maka tidak diwakilkan juga ketika tidak mampu dan tiada keupayaan, seperti halnya puasa dan solat.
Bagi kami (yang tidak menyetujui pendapat Malik) berdasarkan hadis Abie Razien [1] dan apa yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas: Seorang wanita dari suku Khats‘am berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kefardhuan haji yang Allah wajibkan atas para hambaNya, (mula difardhukan) ketika bapa ku telah lanjut usia, sehingga tidak mampu duduk tetap di atas tunggangan, apakah seharusnya saya tunaikan haji bagi pihaknya? Jawab Nabi: Ya. Peristiwa itu adalah ketika Hijjatul Wada‘ (Haji terakhir yang baginda laksanakan). Muttafaqun ‘alaih (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim – Sahih)…”

Lalu beliau menyebutkan beberapa dalil yang lain berupa riwayat daripada ‘Aliy, lantas menyimpulkan:
“Lagipun ibadat ini (haji) jika ia fasid (batal) menjadi wajib ditunaikan kaffarahnya, maka semestinya diperbolehkan bagi yang lain untuk menggantikan atau mewakilinya dalam melakukannya, sebagaimana puasa, yang jika ia tidak mampu Puasa, ia membayar fidyah, berbeza dengan Solat.”

Daripada penjelasan beliau ini, dapatlah difahami bahawa terdapat dalil-dalil yang menunjukkan, seseorang yang pernah ber-keupayaan melaksanakan ibadah haji, kemudian jadi tidak berupaya, tetap wajib dilaksanakan haji bagi pihaknya. Yang demikian berdasarkan dalil-dalil itu tadi dan juga qiyas yang lebih tepat, iaitu haji adalah amalan yang ada melibatkan gantian berupa bayaran kaffarah, seperti halnya puasa, maka selayaknya boleh diadakan kemampuan dalam bentuk pembiayaannya untuk orang lain mewakili orang yang tidak mampu pergi sendiri disebabkan ketidakupayaannya pada tubuh badannya.

Adapun jika dari awal, sejak usia balighnya, seorang itu tidak berakal, maka tiada kewajipan haji atasnya, berpandukan hadis-hadis sahih yang masyhur bahawa catatan amalan terangkat daripada orang gila sehingga ia siuman. Wallahu a‘lam.

Sumber: http://www.al-jamaah.sg/2014/08/badal-haji-untuk-arwah-ibu.html
Read On 0 comments

Makna "MAKRUH" Di Sisi Para Ulama Syafi'iyah

Berikut perkara-perkara yang penting diperhatikan dalam memahami makna "MAKRUH" dalam perkataan para ulama madzhab Syafi'iyah.

PERTAMA: Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya al-Umm telah mengisyaratkan tentang sebab para ulama terdahulu sering mengucapkan lafal makruh untuk perkara-perkara yang haram.



Tatkala Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah membahas tentang permasalahan menjimak tawanan perang wanita padahal masih di negeri musuh, ia berkata:

قال أبو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إذَا كان الْإِمَامُ قد قال من أَصَابَ شيئا فَهُوَ له فَأَصَابَ رَجُلٌ جَارِيَةً لَا يَطَؤُهَا ما كان في دَارِ الْحَرْبِ وقال الْأَوْزَاعِيُّ له أَنْ يَطَأَهَا وَهَذَا حَلَالٌ من اللَّهِ عز وجل ...
قال أبو يُوسُفَ ما أَعْظَمَ قَوْلَ الْأَوْزَاعِيِّ في قَوْلِهِ هذا حَلَالٌ من اللَّهِ أَدْرَكْت مَشَايِخَنَا من أَهْلِ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ في الْفُتْيَا أَنْ يَقُولُوا هذا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ إلَّا ما كان في كِتَابِ اللَّهِ عز وجل بَيِّنًا بِلَا تَفْسِيرٍ

((Abu Hanifah rahimahullah berkata: Jika imam telah berkata: "Barang siapa yang mendapatkan sesuatu (dari harta musuh dalam peperangan-pen) maka hal itu miliknya", lalu ada seseorang yang mendapatkan budak wanita, maka ia tidak menjimaknya selama ia masih berada dalam negeri lokasi peperangan."

Al-Auzaa'i  berkata, "Boleh baginya untuk menjimaknya, dan ini adalah HALAL dari Allah Azza wa Jalla..."

Abu Yusuf berkata, "Sungguh berat perkataan Al-Auzaa'i dalam pernyataannya: (Ini adalah halal dari Allah). Aku telah bertemu guru-guru kami dari kalangan ulama, mereka membenci tatkala berfatwa untuk berkata: "ini halal" dan "ini haram" kecuali perkara-perkara yang jelas dalam Al-Qur'an yang tanpa perlu penafsiran lagi.

حدثنا بن السَّائِبِ عن رَبِيعِ بن خَيْثَمٍ وكان من أَفْضَلِ التَّابِعِينَ أَنَّهُ قال إيَّاكُمْ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ إنَّ اللَّهَ أَحَلَّ هذا أو رَضِيَهُ فَيَقُولَ اللَّهُ له لم أُحِلَّ هذا ولم أَرْضَهُ وَيَقُولَ إنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هذا فَيَقُولَ اللَّهُ كَذَبْت لم أُحَرِّمْ هذا ولم أَنَّهُ عنه وَحَدَّثَنَا بَعْضُ أَصْحَابِنَا عن إبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ أَنَّهُ حَدَّثَ عن أَصْحَابِهِ أَنَّهُمْ كَانُوا إذَا أَفْتَوْا بِشَيْءٍ أو نَهَوْا عنه قالوا هذا مَكْرُوهٌ وَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ فَأَمَّا نَقُولُ هذا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ فما أَعْظَمَ هذا

Telah mengabarkan kepada kemi Ibnu As-Saaib dari Robii' bin Khoitsam dan ia adalah termasuk tabi'in yang paling mulia bahwasanya ia berkata: "Hati-hatilah kalian jangan sampai seseorang berkata: "Allah telah menghalalkan ini atau meridhoinya", lalu Allah berkata kepadanya: "Aku tidak menghalalkan ini dan aku tidak meridoinya." Ia berkata : "Allah telah mengharamkan ini", lalu Allah berkata, "Engkau dusta, aku tidak mengharamkan ini, dan aku tidak melarangnya."

Dan telah mengabarkan kepada kami sebagian sahabat kami dari Ibrahim An-Nakho'iy bahwasanya ia menyampaikan dari para sahabatnya bahwsanya mereka jika memfatwakan bolehnya sesuatu atau melarang sesuatu maka mereka berkata, "Ini adalah makruh", dan "Ini hukumnya tidak mengapa." Adapun jika kita mengatakan "ini halal" dan "ini haram" maka sungguh berat hal ini)) (Al-Umm 7/351)

Penjelasan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah di atas menunjukan bahwa para ulama terdahulu tidak mudah mengatakan sesuatu haram, kecuali jika keharaman tersebut sudah sangat jelas di Al-Qur'an yang tidak membutuhkan penjelasan dan penafsiran lagi. Adapun perkara-perkara yang tidak ada nas "haram" dalam Al-Qur'an maka para ulama terdahulu lebih menyukai untuk mengatakan bahwa hal itu makruh

KEDUA: Karenanya banyak perkataan "makruh" yang disebutkan oleh Imam Asy-Syafi'i rahimahullah akan tetapi maksud beliau adalah haram.

Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Abu Hamid Al-Gozzaali rahimahullah. Beliau berkata:


"Adapun "MAKRUH" adalah lafal yang mengandung banyak makna di tradisi kalangan para ahli fikih:

Pertama: Mahzur (larangan/haram), maka sering kali Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Aku memandang ini makruh" dan maksud beliau adalah "pengharaman".

Kedua: Apa yang dilarang akan tetapi larangan tanzih, yaitu yang didefiniskan dengan meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya meskipun tidak ada hukuman atas meninggalkannya. Sebagaimana an-nadbu adalah didefinisikan dengan melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya." (Al-Mustashfa, 1/215-216)

Berikut contoh perkataan Imam As-Syafi'i makruh akan tetapi maksudnya adalah haram (diambil dari kitab beliau Al-Umm):

Pertama: Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 
فَكُلُّ من حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ كَرِهْت له 
"Semua orang yang bersumpah dengan selain nama Allah maka aku membencinya." (Al-Umm 7/61)
Tentunya tidak diragukan lagi bahwa bersumpah dengan nama selain Allah adalah kesyirikan. 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ 
"Barang siapa yang bersumpah selain Allah maka sungguh ia telah kafir atau berbuat kesyirikan." 
Kedua: Imam Asy-Syafii berkata: 
وَأَكْرَهُ تخطى رِقَابِ الناس يوم الْجُمُعَةِ قبل دُخُولِ الامام وَبَعْدَهُ لِمَا فيه من الْأَذَى لهم وَسُوءِ الْأَدَبِ 
"Dan aku membenci (memandang makruh) melompati pundak-pundak manusia pada hari jum'at, baik sebelum masuknya imam maupun sesudahnya, karena hal ini menyakiti mereka dan merupakan adab yang buruk." (Al-Umm 1/198)
Dan tentunya menyakiti orang lain merupakan perkara yang haram. Karenanya setelah menyampaikan pernyataan di atas, Imam Asy-Syafi'i berdalil dengan hadits (آذَيْتَ آذَيْتَ) "Engkau telah menyakiti... engkau telah menyakiti..." 
Ketiga: Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 
وَأَكْرَهُ النِّيَاحَةَ على الْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ 
"Dan aku membenci niahah atas mayat setelah kematiannya." (al-Umm 1/279) 
Padahal jelas bahwa sikap niahah adalah perbuatan yang haram. 
Keempat: Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 
وَأَكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْمَلَ بِنَاءً أو نِجَارَةً أو غَيْرَهُ في كَنَائِسِهِمْ التي لِصَلَوَاتِهِمْ 
"Aku memandang makruh bagi seorang muslim yang membuat bangunan atau bangunan kayu atau yang lainnya di gereja-gerja mereka yang digunakan untuk sholat mereka." (Al-Umm 4/213) 
Tentunya membangunkan gereja untuk ibadah orang kafir adalah hal yang haram karena ikut berpartisipasi dan tolong menolong dalam kekufuran mereka. 
Kelima: Imam Asy-Syafii berkata: 
 وَأَكْرَهُ لِلْمُحْرِمِ أَنْ يَخْطُبَ على غَيْرِهِ كما أَكْرَهُ له أَنْ يَخْطُبَ على نَفْسِهِ وَلَا تُفْسِدُ مَعْصِيَتُهُ بِالْخِطْبَةِ إنْكَاحَ الْحَلَالِ 
"Dan aku memandang makruh bagi seorang yang sedang muhrim berkhitbah untuk orang lain sebagaimana aku memandang makruh jika ia berkhitbah untuk dirinya, dan kemaksiatannya tersebut dengan melakukan khitbah tidaklah merusak ia menikahkan seorang yang halal (tidak ihrom)." (Al-Umm 5/78)

Sangatlah jelas al-Imam Asy-Syafi'i menamakan sikap seorang muhrim yang mengkhitbah sebagai kemaksiatan, padahal sebelumnya ia menyebutnya sebagai perbuatan makruh. Ini menunujukan makruh yang dimaksud adalah haram.

KETIGA: Demikian juga banyak pernyataan "makruh" dari perkataan para ulama syafi'iyah yang masih diperselisihkan apakah yang dimaksud adalah makruh haram ataukah makruh tanzih. Dan banyak juga yang dimaksud dengan makruh adalah haram dengan kesepakatan para ulama syafi'iyah.

Hal ini menunjukan bahwa tidak setiap lafal "makruh" maka otomatis maknanya bukan haram dan hanya sekedar dibenci!

Berikut beberapa contoh yang terdapat di kitab al-Majmuu' Syarh al-Muhadzdzab karya al-Imam An-Nawawi rahimahullah

Pertama: Al-Imam An-Nawawi berkata: 
((Penulis (Asy-Syiroozi) rahimahullah berkata: "Dan makruh hukumnya menggunakan bejana emas dan perak..." 
قال المصنف رحمه الله (ويكره استعمال أواني الذهب والفضه....)
وهل يكره كراهة تنزيه أو تحريم: قولان قال في القديم كراهة تنزيه لانه انما نهى عنه للسرف والخيلاء والتشبه بالاعاجم وهذا لا يوجب التحريم وقال في الجديد يكره كراهة تحريم وهو الصحيح لقوله صلى الله عليه وسلم الذى يشرب في آنية الفضة انما يجرجر في جوفه 
Dan apakah makruh maksudnya makruh tanzih ataukah makruh tahrim?, ada dua pendapat. As-Syafi'i berkata dalam pendapat qodimnya (pendapat lama): Makruh tanzih karena hal ini hanyalah dilarang disebabkan sikap berlebih-lebihan, kesombongan, da meniru-niru orang-orang 'ajam, dan hal ini tidak mengharuskan pengharaman. 
Dan Asy-Syafi'i berkata dalam pendapat yang baru: "Makruh haram", dan inilah pendapat yang benar karena sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "Barang siapa yang minum dari bejana perak maka sesungguhnya ia sedang mengoyangkan api dalam tubuhnya")) (Al-Majmuu'1/246) 
Kedua: Al-Imam An-Nawawi berkata:
(ويكره أن يصلي الرجل بامرأة اجنبية لما روى أن النبي صلي الله عليه وسلم قال " لا يخلون رجل بامرأة فان ثالثهما الشيطان ")  (الشرح) المراد بالكراهة كراهة تحريم هذا إذا خلا بها 
((Perkataan Asy-Syiiroozy: "Dan makruh hukumnya seorang lelaki sholat mengimami seorang wanita yang ajnabiah (bukan mahromnya) karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, karena yang ketiganya adalah syaitan." 
Penjelasan: "Yang dimaksud dengan makruh di sini adalah makruh tahrim, hal ini jika sang lelaki berkhalwat (berdua-duaan) dengan sang wanita." (Al-Majmuu' 4/277) 
Ketiga: Al-Imam An-Nawawi berkata: 
أما حكم الوصال فهو مكروه بلا خلاف عندنا وهل هي كراهة تحريم أم تنزيه فيه الوجهان ... (أصحهما) عند أصحابنا وهو ظاهر نص الشافعي كراهة تحريم 
"Adapun hukum puasa wishool maka hukumnya adalah makruh tanpa ada perbedaan pendapat di sisi kami. Apakah makruhnya makruh haram ataukah makruh tanzih? 
Ada dua pendapat ...dan yang paling benar diantara kedua pendapat ini di sisi para sahabat kami –dan itu adalah dzohir dari nas (pernyataan) Imam As-Syafi'i yaitu makruh haram." (Al-Majmuu' 6/357) 
Keempat: Al-Imam An-Nawawi berkata tentang hukum berburu buruan tanah suci kota Madinah: 
 وأما نص الشافعي فقال القاضى أبو الطيب هذه الكراهة التى ذكرها الشافعي كراهة تحريم باتفاق اصحابنا 
"Adapun pernyatan Imam Asy-Syafi'i maka Al-Qoodhy Abu At-Thoyyib berkata, "Makruh yang disebutkan oleh Imam Asy-Syafi'i adalah makruh haram berdasarkan kesepakatan sahabat kita." (Al-Majmuu' 7/480) 
Kelima: Al-Imam An-Nawawi berkata:
قالوا ومراد الشافعي بالكراهة كراهة تحريم (الطريق 
"Mereka berkata: Yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafi'i dengan makruh adalah makruh haram." (Al-Majmuu' 7/483)

KEEMPAT: Jika ternyata Imam As-Syafi'i rahimahullah dan juga para ulama terhadulu sering mengungkapkan haram dengan makruh, lantas bagaimana cara membendakan antara yang hukumnya makruh tahrim (haram) dan makruh yang tanziih?

Jawabannya adalah tidak ada jalan lain kecuali dengan melihat qorinah-qorinah yang ada atau penjelasan para ulama syafi'iyah tentang maksud dari makruh tersebut (sebagaimana telah lalu)

Sebagai contoh:

Permasalahan Beribadah di kuburan Karena Mencari Keberkahan

Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata:

sebagaimana perkataan Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi'i:

"Dan telah sepakat teks-teks dari Imam As-Syafii dan juga Ash-haab (*para ulama besar madzhab syafiiyah) akan MAKRUHNYA membangun masjid di atas kuburan, sama saja apakah sang mayat masyhur dengan kesholehan atau tidak karena keumuman hadits-hadits (*yang melarang). Ay-Syafii dan para Ash-haab berkata, "Dan dibenci sholat ke arah kuburan, sama saja apakah sang mayat orang sholeh ataukah tidak".

Al-Haafizh Abu Muusa berkata, "Telah berkata Al-Imaam Abul Hasan Az-Za'farooni rahimhullah: Dan tidak boleh sholat ke arah kuburannya, baik untuk mencari barokah atau karena pengagungan, karena hadits-hadits Nabi, wallahu a'lam." (Demikian perkataan An-Nawawi dalamAl-Majmuu' syarh Al-Muhadzdzab 5/289)

Asy-Syiroozi berkata:

"Dan dibenci dibangunnya masjid di atas kuburan, karena hadits yang diriwayatkan oleh Abu Martsad Al-Gonawi bahwasanya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam melarang sholat ke arah kuburan dan berkata, "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala (sesembahan), karena sesungguhnya bani Israil telah binasa karena mereka menjadi kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." As-Syafii berkata, "Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya." (Al-Muhadzdzab 1/456, dengan tahqiq: Dr. Muhammad Az-Zuhaili)

Sangatlah jelas bahwa makruh di sini maknanya adalah haram, karena dalil yang dijadikan sebagai argumen adalah tentang larangan. Dan inilah yang dipahami oleh Ibnu Hajar Al-Haitami.

Maka Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafii rahimahullah menjawab:

الْمَنْقُولُ الْمُعْتَمَدُ كما جَزَمَ بِهِ النَّوَوِيُّ في شَرْحِ الْمُهَذَّبِ حُرْمَةُ الْبِنَاءِ في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ فَإِنْ بُنِيَ فيها هُدِمَ وَلَا فَرْقَ في ذلك بين قُبُورِ الصَّالِحِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَغَيْرِهِمْ وما في الْخَادِمِ مِمَّا يُخَالِفُ ذلك ضَعِيفٌ لَا يُلْتَفَتُ إلَيْهِ وَكَمْ أَنْكَرَ الْعُلَمَاءُ على بَانِي قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رضي اللَّهُ عنه وَغَيْرِهَا وَكَفَى بِتَصْرِيحِهِمْ في كُتُبِهِمْ إنْكَارًا وَالْمُرَادُ بِالْمُسَبَّلَةِ كما قَالَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَغَيْرُهُ التي اعْتَادَ أَهْلُ الْبَلَدِ الدَّفْنَ فيها أَمَّا الْمَوْقُوفَةُ وَالْمَمْلُوكَةُ بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا فَيَحْرُمُ الْبِنَاءُ فِيهِمَا مُطْلَقًا قَطْعًا إذَا تَقَرَّرَ ذلك فَالْمَقْبَرَةُ التي ذَكَرَهَا السَّائِلُ يَحْرُمُ الْبِنَاءُ فيها وَيُهْدَمُ ما بُنِيَ فيها وَإِنْ كان على صَالِحٍ أو عَالِمٍ فَاعْتَمِدْ ذلك وَلَا تَغْتَرَّ بِمَا يُخَالِفُهُ

"Pendapat yang umum dinukil yang menjadi patokan -sebagaimana yang ditegaskan (*dipastikan) oleh An-Nawawi dalam (*Al-Majmuu') syarh Al-Muhadzdzab- adalah diharamkannya membangun di kuburan yang musabbalah (*yaitu pekuburan umum yang lokasinya adalah milik kaum muslimin secara umum), maka jika dibangun di atas pekuburan tersebut maka dihancurkan, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara kuburan sholihin dan para ulama dengan kuburan selain mereka. Dan pendapat yang terdapat di al-khoodim (*maksud Ibnu Hajar adalah sebuah kitab karya Az-Zarkasyi, Khodim Ar-Rofi'i wa Ar-Roudhoh, wallahu a'lam) yang menyelisihi hal ini maka lemah dan tidak dipandang. Betapa sering para ulama mengingkari para pembangun kubah (*di kuburan) Imam Asy-Syafii radhiallahu 'anhu dan kubah-kubah yang lain. Dan cukuplah penegasan para ulama (*tentang dibencinya membangun di atas kuburan) dalam buku-buku mereka sebagai bentuk pengingkaran. Dan yang dimaksud dengan musabbalah -sebagaimana yang dikatakan Al-Isnawiy dan yang ulama yang lain- yaitu lokasi yang biasanya penduduk negeri pekuburan. Adapun pekuburan wakaf dan pekuburan pribadi tanpa izin pemiliknya maka diharamkan membangun di atas dua pekuburan tersebut secara mutlaq. Jika telah jelas hal ini maka pekuburan yang disebutkan oleh penanya maka diharamkan membangun di situ dan haurs dihancurkan apa yang telah dibangun, meskipun di atas (*kuburan) orang sholeh atau ulama. Jadikanlah pendapat ini sebagai patokan dan jangan terpedaya dengan pendapat yang menyelisihinya." (al-Fataawaa al-Fiqhiyah al-Kubroo 2/17).
***
Penulis: Firanda Andirja, M.A.
Artikel www.firanda.com


Read On 0 comments

Boycotting the Products of Kuffaar Who are Hostile Towards Islam

Question:

Is It generally permissible to do business with Jews, companies that may have Jewish owners or shareholders, companies that may have franchises in Israel, etc.? Recently many Muslims have been saying that it is haraam to have any business dealings with the Jews whatsoever. To the best of my limited knowledge, even when the Muslims were fighting the Jews in the time of the Prophet, sallallaahu 'alayhi wa sallam, he did not forbid trade with them, and when he died his shield or armor was with a Jews as collateral on a loan. Please inform us as to the correct position on this issue.

Answer:

Praise be to Allaah.

Firstly: 

The basic principle is that it is permissible to interact and do business, buying and selling, with the Jews and others, because it is proven that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and his companions interacted with the Jews of Madeenah, buying and selling, lending and putting items in pledge, and other kinds of interactions that are permissible according to our religion. The Jews with whom the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) interacted were people with whom the Muslims had a treaty; those who broke the treaty were either killed or expelled, or were left alone if that served some interest.

But there is evidence which indicates that it is permissible to buy and sell with kuffaar who are in a state of war against the Muslims.

Imam al-Bukhaari (may Allaah have mercy on him) said:
Chapter: Buying and selling with the mushrikeen and people who are at war with Islam.  
Then he narrated (2216) that ‘Abd al-Rahmaan ibn Abi Bakr (may Allaah be pleased with him) said: We were with the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) then a mushrik man came with some sheep that he was driving. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Are they for sale or a gift?” He said: “For sale.” So he bought a sheep from him. 

Al-Nawawi (may Allaah have mercy on him) said in Sharh Saheeh Muslim (11/14):
The Muslims are unanimously agreed that it is permissible to interact with ahl al-dhimmah (non-Muslims living under Muslim rule) and other kuffaar, so long as the object of the transaction is not haraam, but it is not permissible for a Muslim to sell weapons or tools of war to those who are waging war against the Muslims, or anything that helps them to support their religion. 

Ibn Battaal said:
dealing with the kuffaar is permissible, except for selling things to those who are at war with the Muslims that may help them against the Muslims. 

It was narrated in al-Majmoo’ (9/432) that there is scholarly consensus that it is forbidden to sell weapons to people who are waging war against Muslims.

The reason for that is obvious, which is that these weapons will be used to fight the Muslims.

Secondly:

There is no doubt that it is prescribed to engage in jihad against the enemies of Allaah, Jews and others, with our lives and our wealth. That includes every means that will weaken their economy and cause them harm. Money is the lifeblood of wars ancient and modern.

The Muslims in general should cooperate in righteousness and piety and help the Muslims in all places in ways that will lead them to prevail and strengthen them and enable them to manifest the symbols of religion, to practise the teachings of Islam and to implement the rulings of sharee’ah and carry out hudood punishments, and whatever will lead to their victory over the kuffaar, Jews, Christians and others. They should strive their hardest in jihad against the enemies of Allaah with all the means at their disposal.

The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said:
“Strive against the mushrikeen with your wealth, your lives and your tongues (speech).” 
Narrated by Abu Dawood, 2504; classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh Abi Dawood.

The Muslims have to help the mujaahideen as much as they can, and do everything that will strengthen Islam and the Muslims. They must also strive against the kuffaar in whatever ways they can, and do everything they can to weaken the kuffaar and the enemies of Islam. They should not employ them as workers such as typists, accountants, engineers or servants in any kind of service that gives them more power to collect the wealth of the Muslims and use it against them.

Conclusion: 

The one who boycotts the products of the kuffaar who are waging war against Islam, intending thereby to make manifest the fact that he does not like or support them, and to weaken their economy, will be rewarded in sha Allah for this good intention.

Whoever deals with them on the basis of the principle that it is permissible to deal with the kuffaar – especially buying things that he needs – there is no sin on him, in sha Allaah, and that does not affect the principle of al-wala’ wa’l-bara’ (loyalty and friendship vs. disavowal and enmity) in Islam.

The Standing Committee was asked: 

What is the ruling on Muslims not cooperating with and not wanting to buy from Muslims, and preferring to buy from the kuffaar; is this permissible or forbidden?

They replied: 

The basic principle is that it is permissible for the Muslim to buy whatever he needs of things that Allaah has permitted from both Muslims and kaafirs. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) bought from the Jews, but if a Muslim turns away from dealing with his fellow Muslim for no good reason – such as deceit or high prices or bad products – and he prefer to buys from kaafirs with no reason, that is haraam, because it implies that one is befriending the kuffaar, approving of them and liking them, and because it involves reducing the Muslims’ business and preventing them from selling their goods, if the Muslim takes that as his habit. But if there is a reason for that, such as those mentioned above, then he should advise his Muslim brother to give up these faults. If he accepts the advice, then praise be to Allaah, otherwise he should go to someone else, even if he is a kaafir, if he is honest and decent in his dealings.

Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah, 13/18

And Allaah knows best.

Source: http://islamqa.info/

Read On 0 comments

Mengkhususkan Ziarah Kubur Di Bulan Syawal


Di dalam akhbar harian, telah berlarutan satu polemik mengenai hukum menziarah kubur pada bulan Syawal.

Akhirnya, Ustaz Ghouse Khan, telah mempertahankan amalan tersebut dengan menukil sepotong "hadith".



Ketahuilah bahawa bukanlah setiap pendapat seseorang ahli agama itu boleh diterima, lalu dijadikan suatu pandangan agama yang sah. Ini hanya akan menambah kepada perpecahan dan kekeliruan umat.

Sebaiknya seseorang itu menukil secara lengkap dan amanah. Ini akan menghindari situasi di mana nukilan-nukilan itu di ambil di luar konteks perbahasan sang ulama', lalu disalah-ertikan. Ia juga untuk mengelakkan dari sikap cuai atau berlakunya jenayah ilmiah di mana nukilan yang diberikan sebenarnya telah diubahsuai atau tidak wujud sama sekali (sebagaimana nukilan "hadith" di atas yang sebenarnya tidak wujud sama sekali di dalam Musnad Imam Ahmad).


Mengkhususkan Ziarah Kubur Di Bulan Syawal
dari artikel "Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan" oleh Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ 
“Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku kerana shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud no. 2042 dan Ahmad 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).

Dalam ‘Aunul Ma’bud (6: 23) disebutkan,
“Yang dimaksud ‘ied adalah perkumpulan di suatu tempat yang terus berulang baik tahunan, mingguan, bulanan, atau semisal itu.”

Ibnul Qayyim dalam Ighotsatul Lahfan (1: 190) mengatakan, 
“Yang dimaksud ‘ied adalah waktu atau tempat yang berulang datangnya. Jika ‘ied bermakna tempat, maksudnya adalah tempat yang terus menerus orang berkumpul di situ untuk melakukan ibadah dan selainnya. Sebagaimana Masjidil Haram, Mina, Muzdalifah, Arafah, masya’ir dijadikan oleh Allah sebagai ‘ied bagi orang-orang beriman. Sebagaimana hari dijadikan orang-orang berkumpul di sini disebut sebagai ‘ied (yaitu Idul Adha). Orang-orang musyrik juga memiliki ‘ied dari sisi waktu dan tempat. Ketika Allah mendatangkan Islam, perayaan yang ada diganti dengan Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr). Sedangkan untuk tempat sebagai ‘ied, digantikan dengan Ka’bah, Mina, Muzdalifah dan Masya’ir.”

Ibnu Taimiyah berkata bahwa hadits tersebut mengisyaratkan bahwa shalawat dan salam bisa sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari dekat maupun jauh, sehingga tidak perlu menjadikan kubur beliau sebagai ‘ied. Demikian dinukil dari Fathul Majid (hal. 269).

Tidak perlu dijadikan sebagai ‘ied yang dimaksud adalah terlarang mengulang-ulang ziarah kubur ke sana. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata,
نهيه عن الإكثار من الزيارة 
“Hadits tersebut menunjukkan terlarangnya memperbanyak ziarah ke kubur beliau.” (Kitab Tauhid, hal. 91)

Di halaman yang sama, Syaikh Muhammad At Tamimi menyampaikan faedah dari hadits yang kita kaji,
نهيه عن زيارة قبره على وجه مخصوص ، ومع أن زيارته من أفضل الأعمال 
“Hadits ini juga menerangkan bahwa terlarang berziarah kubur dengan tata cara khusus ke kubur nabi, walaupun ziarah ke kubur beliau adalah amalan yang utama.”

Hadits ini dapat dipahami bahwa tidak boleh menjadikan kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai ‘ied, di antara maknanya adalah tidak boleh meyakini bahwa sebaik-baik tempat untuk berkumpul adalah di sisi kubur beliau, atau sebaik-baik tempat untuk beribadah seperti do’a atau baca do’a di kubur beliau. Begitu pula tidak boleh meyakini adanya waktu tertentu yang lebih utama untuk ziarah kubur seperti saat Maulid Nabi menurut keyakinan sebagian orang.

Jika kubur nabi saja tidak boleh dijadikan sebagai ‘ied semacam ini, maka lebih-lebih lagi kubur lainnya seperti di kubur wali, kyai atau habib. Sebagian orang menganjurkan untuk melaksanakan haul di kubur-kubur wali atau orang sholih untuk mengenang wafatnya mereka, ini sungguh suatu yang tidak berdasar. Jika kubur nabi saja tidak boleh dijadikan haul, apalagi kubur lainnya. Termasuk dalam perkara yang kita bahas yaitu mengkhususkan ziarah kubur menjelang Ramadhan (atau 1 Syawal), itu justru menyelisihi hadits yang melarang menjadikan kubur sebagai ‘ied.

Hanya Allah yang memberi taufik.
Wallahu a'lam

Read On 0 comments

Sholat Hari Raya di Musholla Itulah Menurut As-Sunnah

الحمد لله وحده و صلاته و سلامه على نبينا محمد و آله و صحبه ، و على من تمسك بهديه ، و استقام على طريقته ، إلى يوم الدين .أما بعد

Maka inilah dia tulisan kami pada hari ini dan tajuknya adalah, penetapan bahawa: “Sholat kedua-dua Hari Raya didirikan di Musholla (Tanah Lapang/Dataran Luas) itulah menurut As-Sunnah”.

Asalnya saya telah terfikir untuk menjadikannya satu risalah yang dimuatkan bersama risalah “Sholat Terawih” tetapi sayangnya keadaan tidak mengizinkan. Maka ia diteruskan (penerbitannya), dengan penuh pengharapan kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, agar usaha ini dipermudahkan olehNya, agar diterima tulisan ini di sisi orang ramai, mudah-mudahan mereka mendoakan dengan doa yang baik, yang bermanfaat buat diri saya “Hari yang mana tiada manfaatnya harta dan tidak pula anak-anak, kecuali siapa yang datang menghadap Allah dengan hati yang tenteram…”

Ketahuilah wahai para pembaca yang budiman, sebelum ini, ada pihak yang menulis mengenai tajuk “Sholat Hari Raya di Musholla (Lapangan)” yang mana mereka telah membuat berbagai kesimpulan yang bercanggahan. Mereka juga telah mendakwa bahawa kami menghukumkan bahawa Sholat Hari Raya di masjid tidak sah!

Mereka juga menyatakan: 
“Sebabnya mengapa Nabi shallallahu 'alayhi wasallam memilih untuk melaksanakan Sholat Hari Raya di Tanah Lapang adalah kerana ketiadaan… sebab-sebab yang mencukupi di Madinah Al-Munawarah iaitu kerana di Madinah tiada masjid lain kecuali satu masjid sahaja (yakni Masjid Nabi).”
Kenyataan ini terbit dari kejahilan yang nyata, kerana terdapat banyak masjid pada zaman Nabi shallallahu 'alayhi wasallam di Madinah, yang diketahui ramai dan yang paling masyhur adalah Masjid Qubaa, Masjid Qiblatain dan Masjid Al-Fath yang ada disebutkan di dalam beberapa hadits-hadits yang shohih, di dalam berbagai kitab-kitab hadits dan telah dimuatkan nama beberapa buah masjid lainnya di dalam Fathul Baari oleh Al-Haafizh Ibn Hajar (1/445).

Sebenarnya yang mereka maksudkan dengan dakwaan yang bathil ini ialah agar dapat dicapai maksud meninggalkan pengamalan dan penghayatan As-Sunnah dalam hal Sholat Eid di Tanah Lapang, yang mereka padankan dengan sebab yang tidak benar iaitu: 
“Bahawasanya di kota Madinah ketika itu tidak ada masjid lain selain Masjid Nabi yang menurut dakwaan mereka tidak dapat menampung bilangan jemaah sewaktu Sholat Hari Raya”!
Maka dengan itu kami telah kemukakan penilaian yang membatalkan sebab atau alasan yang mereka datangkan malah membatalkan dakwaan mereka dari dasarnya.

Sekiranya kita andaikan bahawa Masjid Nabi shallallahu 'alayhi wasallam tidak dapat menampung bilangan jemaah, maka pasti mereka telah laksanakan sholat Hari Raya di masjid-masjid lain yang sekian banyak, seperti yang dilakukan orang hari ini. Maka bilamana mereka (pada zaman Nabi shallallahu 'alayhi wasallam) meninggalkan perlaksanaan Sholat Hari Raya di masjid-masjid tersebut untuk melaksanakannya di Tanah Lapang, ia dengan jelas menunjukkan bahawa menurut As-Sunnah, sholat Hari Raya dilaksanakan di Musholla/Tanah Lapang. 

Kemudian mereka menyatakan pula: 
“Bilamana bilangan kaum muslimin semakin ramai sehingga mereka tidak mampu untuk berkumpul berjemaah di Musholla, terutama sekali di kawasan bandar-bandar besar seperti kota Damascus/Damsyik, maka mereka pun berkumpul di masjid-masjid kerana berhajatkan demikian”!
(*Komentar penterjemah:
Perhatikanlah wahai pembaca yang mulia akan kata-kata bolak-balik ini. Mereka berhujjah bahawa kaum muslimin tidak mampu untuk berhimpun di musholla padahal ia adalah suatu perkara yang mudah dilaksanakan. Buktinya, ia telah diamalkan dan amalan itu terus berjalan di banyak pelusuk seperti yang dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab “Syarah Shohih Muslim”.)

Perbuatan baginda melazimi perlaksanaan Sholat Hari Raya di Musholla/Tanah Lapang dan hadits-haditsnya yang menjelaskan demikian.

Ramai Muhaqqiq[1] dari kalangan Huffaazh[2] menyimpulkan:
“Bahawasanya dari ajaran dan petunjuk baginda shallallahu 'alayhi wasallam, di dalam perlaksanaan Sholat kedua-dua Hari Raya, ialah kedua-duanya sentiasa baginda laksanakan di Musholla”[3].
Kesimpulan ini disokong oleh hadits yang amat banyak yang terdapat di dalam kitab-kitab kedua Shohih Al-Bukhaariy dan Muslim, Musnad-musnad, Sunan-sunan dan lainnya dengan jalan periwayatan yang teramat banyak. Maka perlu dikemukakan di sini biarpun dalam tulisan yang ringkas ini, agar para pembaca yang budiman dapat melihat kebenaran dengan jelas:

(*Kami memaparkan hanya satu daripada pelbagai hadits yang dikemukakan untuk meringkaskan)

Daripada Abi Sa’ied Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu yang meriwayatkan:
“Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam sentiasa keluar pada Hari (Raya) Al-Fitri dan Al-Adh-haa ke Musholla[4], maka perkara-pertama yang baginda mulakan ialah mendirikan sholat, kemudian selesai sahaja sholat, baginda pun berdiri menghadap ke arah para jemaah, sedang mereka semuanya duduk di dalam shaf-shaf mereka, lalu memberi peringatan kepada mereka dan mewasiatkan mereka serta menyuruh mereka (dengan yang sewajibnya), sekiranya baginda ingin mengarahkan pasukan tentera untuk berangkat, baginda melakukannya ketika itu[5], ataupun memerintahkan sesuatu maka baginda perintahkannya kemudian barulah baginda beredar. Maka manusia (ummat) tetap menuruti perlaksanaan demikian…” 
Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy: 2/259-260, Muslim: 3/20, An-Nasaa-i: 1/234, Al-Muhaamiliy di dalam kitab “Kitabul ‘Eidain” Juz 2 no: 86, Abu Nu’aim di dalam kitab “Al-Mustakhraj”nya: 2/10/2 dan Al-Baihaqiy di dalam Sunannya: 3/280.

Apabila anda telah mengetahui hadits-hadits tersebut, maka telah tegaklah hujjah bahawa menurut As-Sunnah di dalam perlaksanaan Sholat kedua-dua Hari Raya, agar dilaksanakan di Musholla dan itulah pendapat kebanyakan Ulamaa maka di dalam Syarhus Sunnah karangan Imam Al-Baghawiy rahimahullah dinyatakan:
“Menurut As-Sunnah, si imam keluar untuk melaksanakan Sholat kedua-dua Hari Raya, kecuali jika ada keuzuran maka barulah ia sholat di masjid,” [6] yakni masjid di dalam Bandar.

Kata Al-Imam Muhyiddien An-Nawawi di dalam “Syarah Shohih Muslim” ketika membicarakan hadits yang pertama tadi:
“Ini adalah dalil bagi pihak yang berpendapat adalah amat digalakkan keluar ke musholla untuk menunaikan Sholat Hari Raya dan bahawasanya ia adalah yang afdhal/lebih utama diamalkan dari perlaksanaannya di masjid. Inilah yang menjadi amalan manusia di merata pelusuk (Dunia Islam), sementara penduduk kota Mekkah maka mereka tidak melaksanakannya kecuali di Masjid dari sejak zaman yang awal, maka mengenai permasalahan ini, pendokong Madzhab ada 2 pandangan yang diriwayatkan:

1. Di tanah lapang lebih afdhal, kerana petunjuk hadits ini

2. Inilah yang lebih tepat/shohih di sisi kebanyakan mereka: Masjid (Al-Haram) lebih afdhal kecuali jika sempit.

Terjemahan dan ringkasan dari tulisan Asy-Syeikh Al-Albaaniy rahimahullah

___________________________

[1] Golongan ulamaa yang membuat kajian mendalam, meneliti segala dalil-dalil samada sah untuk dijadikan hujjah atau sebaliknya, mengamati kesemua pendapat Imam sebelum mereka, di dalam satu-satu masalah yang dianalisa kemudian menyimpulkan yang terbaik untuk diikuti.

[2] Para haafizh – yakni yang menghafal beratus bahkan beribu hadits-hadits Nabi selain telah menguasai Al-Quran.

[3] Sila rujuk Zaadul Ma’aad (1/172), Fathul Baari (2/361) dan lainnya.

[4] Kata Al-Haafizh: “Ia adalah suatu tempat di Madinah yang cukup diketahui, jaraknya dari pintu Masjid Nabi adalah seribu hasta (462 metres)”

Kata Ibnul Qayyim: “Ia adalah Musholla yang biasanya diletakkan di situ barang-barang jemaah haji.”

Komentar penterjemah: Zahirnya ia terletak di bahagian sebelah timur dari Masjid Nabawi, berhampiran dengan Perkuburan Baqie’.

[5] Penjelasan Al-Haafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalaaniy.

[6] Sebagaimana juga yang ditegaskan oleh Asy-Syeikh ‘Aliy Al-Qaari di dalam “Al-Murqaah”: 2/245; rujuk Syarhus Sunnah: 4/294.



Sumber: http://www.al-jamaah.sg/2014/07/sholat-hari-raya-di-musholla-itulah.html
Read On 0 comments

Search IslamIQ.sg

Loading...
Subscribe to us:


Unique Visitors:

Ustaz Murad Said